MENCICIP RANTANG SULTAN DARI LOCAVORE 2022-04-24 13:00

Hidangan lengkap yang menggugah selera

 

Cattle skin braised with chili, roasted candle nut, galangal, palm sugar and fresh coconut milk”… Alias… sambal krecek! Panjang bener ya? Begitulah kalau kuliner tradisional disulap jadi internasyenel oleh Locavore! Locavore adalah sebuah gerakan kuliner dengan bahan tradisional yang dimulai dari Ubud Bali. Sebagai adaptasi dari makan enak selama pandemi, Locavore mengadakan program Rantangs Takeover Jakarta, di mana seorang “selebriti” akan memasak satu menu dan sisanya dirancang oleh tim Locavore. Kali ini selebritinya adalah dr. Debryna Dewi, seorang bakerina yang ahli sourdough. Hidangannya dikemas cantik dalam rantang, lalu dikirim dan bisa dinikmati di rumah. Sedap!

 

Sajian Locavore di atas meja

 

Untuk eksperimen rasa ini, saya ditemani oleh penulis kuliner Lidia Tanod. Selain krecek yang nama resminya “Sambal Krecek Mbak Parti”, masih ada menu lainnya. Ada udang sambal belacan dari Bangka Belitung, yang ditumis bersama petai. Ada gohu, sejenis salad dari Pulau Maluku. Kemudian hadir rabeg, hidangan khas Banten dan tumis picung alias kluwek (biji pangi) muda. Nasinya nasi ulam. Menarik! Yuk kita cicipi!

 

Sambal Krecek Mbak Parti

 

Udang belacan

 

Gohu

 

Rabeg

 

Nasi ulam

 

Citarasa dari krecek yang dimasak oleh Debryna memang memiliki karakter berbeda dengan yang lainnya. Ini gagrak Magelang, kota asal Debryna yang berarti kreceknya basah tapi tidak berkuah banyak, cenderung firm, dengan rasa yang lembut dibanding versi Jogja yang kering dan pedas sekali. Enak! Kemudian yang menurut saya paling unik adalah tumis picung. Picung adalah biji pangi muda, kluwek yang belum difermentasi. Teksturnya seperti hati ayam, tapi rasanya lebih nutty. Unik! Kemudian rabeg khas Banten hadir memberi kuah kental yang cocok sekali dipadu dengan nasi ulam. Dibanding versi Serang yang pernah saya cicipi, ini lebih mild sehingga karakter khas rempah Arab kurang terasa. Namun, dagingnya empuk dan dimasak sempurna.

 

Tumis picung

 

Rupanya Debryna tidak memasak itu saja, masih ada satu sajian dari petualangannya: sambal pepaya muda dari Maluku. Kondimen ini memang unik, segar, macam ala Thailand tapi tanpa tamarind! Segar dan teksturnya sepat dan unik. Satu lagi sambal bongkot, menggunakan kecombrang yang merupakan khas Bali. Sebagai dessert, digunakan nama Bali: bubur injin, kalau di Jawa bubur ketan hitam. Dessert yang cantik, dengan tekstur kuat yang bisa meredam ledakan rasa sebelumnya, dari petai sampai picung! Aura “adem” dari bubur ketan hitam menjadi penutup yang cantik siang itu. Kebetulan, Lidia punya arak daun kelor karya Chef Yudi dari Desa Les, Bali Utara. Kami pun menutup sajian “rantang sultan” siang itu dengan bersulang arak Bali, sambil berdoa supaya pandemi cepat berlalu dan Ubud bisa ramai kembali. Rahayu!

 

Sambal pepaya

 

Sambal bongkot

 

Bersulang dengan arak Bali dari Desa Les

 

Untuk memesal/informasi mengenai Rantangs Takeover Locavore, bisa menghubungi WA +6282144956226.

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin) Foto: Harnaz Tagore, Lidia Tanod
Comment