SEAFOOD PAK JARI SEMARANG: SEDERHANA TAPI ISTIMEWA! 2022-04-08 22:45

Cumi telur asin di Seafood Pak Jari

 

Sore menjelang senja, kawasan Tugu Muda Semarang nampak indah. Dua menara Gedung Lawang Sewu nampak gagah menjulang, didampingi gedung Pemkot Semarang sebagai penanda. Matahari mulai jinak sinarnya, dan tidak terasa sudah tiba saatnya makan malam. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju kawasan kuliner tersohor di Semarang: Simpang Lima!

 

Semarang di senja hari

 

Kali ini, tujuan saya sudah tetap: Seafood Pak Jari. Kios Pak Jari menempati salah satu sudut Simpang Lima yang bersebelahan dengan gedung Telkom. “Kalau parkir penuh, jangan kuatir. Tukang parkir Telkom itu teman saya!” kata sahabat yang mengantar, pertanda beliau pecinta kuliner berat yang bukan baru pertama kali ke situ. Sandra, putri Pak Jari, langsung menyambut kami. Perut sudah lapar, yuk pesan!

 

Bersama Sandra, putri Pak Jari

 

Cumi telur asin, udang telur asin, kangkung cah bawang putih, ikan bawal goreng kering. Apa lagi? “Jangan lupa simping!” Hey… benar. Ini Semarang, Bro! Simping atau srimping (Ammusium cristatum) adalah sejenis kerang yang biasanya ada di pesisir utara Jawa. Di Pekalongan simping ini disajikan kecil-kecil, sementara di Semarang ukurannya besar. “Konon kecilnya di Pekalongan, terbawa air sampai Semarang, jadi di sini besar-besar…” katanya. Proses masaknya sederhana, digoreng kering saja dengan bawang putih. Dagingnya empuk, gurih, dengan tekstur khas mirip arificial crab ala Jepang. Gorengannya juga pas, gurih tanpa terlalu berminyak, dan matangnya pas tidak overcook. Enak!

 

Udang telur asin

 

 

Cumi dan udang telur asin di sini juga patoet dipoedjiken. Dengan ngetrend-nya istilah “salty egg” di mana-mana, kini terjadi degradasi dari hidangan ‘bumbu telur asin’ aslinya, di mana telur asinnya tidak digoreng tepung lalu dijadikan panir (batter) alias kulit crispy, tetapi telur asin setengah matang yang ditumis bersama bahan utamanya. Hasilnya bukan kriuk-asin, tapi lembut gurih! Aroma telur dan rasa tajam telur asin bersanding cantik dengan cumi dan udang, melawan aroma amis sehingga menjadi hidangan yang sedap. Ikan bawal gorengnya digoreng dengan pas, moist dagingnya, kering luarnya. Tapi, ketika butuh kuah untuk membasahi nasi, kuah kangkung sudah habis. Ada hidangan kuah apa yang menarik?

 

 

“Ada. Dik, tolong buatkan kerang simping sup lada hitam!” kata teman saya. Lah? Lada hitam kok sup? Saya makin penasaran. Ketika hadir, wow! Simping segar nampak terendam dalam kuah berwarna coklat/abu-abu. Saya seruput kuahnya. Rasanya menarik: segar, dengan aroma kerang, namun ada pedas menyengat dari merica. Mengingatkan saya pada satu hidangan khas Lasem: kelo merico. Namun ini versi lebih sederhana. Yang istimewa adalah tekstur kerangnya: ketika direbus dagingnya jadi lembut, teksturnya halus, dan aromanya mulus. Rasanya sedap dengan aroma merica yang meruap indah. Luar biasa Pak Jari! Layak mendapat bintang Michelin, Gadjah Tunggal, Bridgestone, dan Achilles. Jiaan enake babalblas, kata wong Semarang!

 

Simping sup lada hitam

 

 

 

Kalau ke Simpang Lima, jangan lupa mampir Pak Jari. Meskipun sederhana, tapi hidangannya istimewa!

 

Seafood Pak Jari

Simpang Lima Semarang

IG @seafoodpakjari_

0813 253 25711

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment