TOMBO KANGEN PASAR BESAR MALANG 2021-08-15 20:55

“Ikan” tambahan di Warung Lama H. Ridwan

 

“Hati-hati ya teman-teman, meskipun menarik tapi tujuan kita tetap di pasar, jadi hati-hati dompet dan tas karena banyak copet!” kata tour leader Tur Kuliner Jalansutra sebelum masuk ke Pasar Besar Malang. Lah, tur kok ke pasar? Ya iya dong, di mana lagi kita bisa menemukan kuliner lezat harga sahabat, sambil belanja barang oleh-oleh seperti cobek, sutil kayu ramah lingkungan, dan lain-lain?

 

Penjaja kue tradisional di Pasar Besar Malang

 

Gado-gado di Pasar Besar Malang

 

Pasar Besar Malang memiliki pesona tersendiri. Pasar yang berdiri sejak 1914 ini memiliki aura tersendiri ketika kita masuk: hiruk-pikuk perdagangan dan sesekali aroma menggoda iman dari kios yang menjual makanan. Salah satunya adalah “Warung Lama H. Ridwan” yang berjualan sejak 1925. Warung ini masuk ke buku 100 Mak Nyus Jalur Mudik dari Alm. Bondan Winarno karena satu menunya: ayam lodho. Gulai ayam khas wilayah Malang-Kediri ini sudah langka, namun masih bisa ditemukan di sini. Atau, bisa juga mencicipi rawonnya! Nasi rawon Malang berbeda dengan Surabaya yang panas, pesisiran, cenderung gahar. Rawon Malang lebih teduh bak jalan-jalan sore di Kawasan Jalan Ijen: kuahnya nyemek tidak banjir, rasanya sedikit manis, dengan aroma kluwek yang tetap ada tapi tidak sepekat Surabaya, dan daging yang diiris kecil-kecil dan empuk. Wih, sedap!

 

Aneka sajian di Warung Lama H. Ridwan

 

Nasi rawon di Warung Lama H. Ridwan

 

Dan di sini, apalah arti rawon tanpa “ikan”-nya: dua piring aksesoris gorengan yang disantap bersama rawonnya. Tempe gorengnya tebal, gurih, renyah, maklum Malang adalah salah satu pusat tempe Indonesia. Di sebelah tempe goreng ada tempe lain berbentuk bulat: inilah mendol, tempe yang dibumbui dan digoreng lagi, sehingga rasanya lebih gurih, lalu ada otak sapi goreng telur, bagi yang butuh nutrisi otak!

 

Baca juga: “Gocapan di Surabaya, Dari Soto Lanjut Rawon

 

Dan di piring sate masih ada kejutan lagi. Selain sate telor puyuh, ada sate besar berwarna kemerahan. Inilah sate komoh, hidangan khas Jawa Timur. Rasanya mirip empal, namun beraroma kelapa. Di sini, sate komoh bisa dipanaskan dulu sebelum disantap, supaya empuk. Gagrak sate komoh Malang memang warnanya merah, sementara di Pasuruan warnanya lebih kecoklatan. Sedap!

 

Sate komoh Malang

 

Salah satu kunjungan wajib juga jika ke Malang adalah Toko Oen Malang. Biasanya ke sini hanya menikmati suasana interior jadul karena Toko Oen sudah buka sejak 1930. Kopi dan es krim menjadi hidangan wajib, sembari menikmati foto-foto kuno Malang, serta mengagumi langit-langit tinggi yang membuat udara di dalam menjadi semilir sejuk. Es krimnya bernama jadul: tutti fruti, cassata, dan lain-lain. Jika masih belum puas beli oleh-oleh, tak jauh dari situ ada “Toko Avia”, sebuah toko oleh-oleh kuno. Karena Malang terkenal dengan kue-kuenya, toko ini menjual berbagai macam alat pencetak/pembuat kue seperti kue satu sagu maupun cetakan untuk kue ku (kue merah berisi kacang hijau). Berbagai macam tepung termasuk hunkwee juga tersedia di sini.

 

Suasana interior jadul Toko Oen

 

Es krim di Toko Oen

 

Tentu saja, ke Malang belum sah kalau belum melihat Hotel Tugu. Dari kota inilah Hotel Tugu Group kemudian melanglang buana sampai ke Bali dan Jakarta, berkat tangan dingin keluarga pemiliknya. Hotel Tugu memiliki ruang makan dan cafe yang nyaman, dengan desain interior yang serba tradisional namun mengandung aura kemewahan yang luar biasa. Kalau kangen di zaman pandemi, Hotel Tugu melayani pemesanan makanan yang dikirim sampai Jakarta, seperti Nasi Buk Madura. Hidangan tradisional ini langsung naik menjadi paripurna ketika hadir dengan kemasan yang serba bersih dan rapi, serta penataan yang sempurna sampai ke kualitas kecambah (tauge) yang digunakan. Luar biasa! Kota Malang memang masih menawan.

 

Nasi Buk Madura dari Hotel Tugu Malang

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment