PANTAI & BUKIT EGE DI PULAU SABU NTT, COCOK BUAT PHYSICAL DISTANCING 2020-06-10 00:00

 

Hai Trippers, kalian pasti sudah sakau kepengen banget banget ngetrip ya? Soalnya sudah 3 bulan lebih kita semua nggak bisa ngetrip keluar kota, apalagi keluar negeri karena pandemi. Entah sudah berapa long weekend terlewat begitu saja tanpa bisa dimanfaatkan buat liburan. Dan kini banyak yang sudah harap-harap cemas, kapan ya bisa pelesiran lagi. Kalaupun sudah boleh, ke mana ya yang aman sehubungan dengan new normal, di mana kita dianjurkan untuk tetap menghindari kerumunan. Harus ke tempat yang luas dan relatif masih sepi pengunjung. Salah satunya yang bisa jadi pilihan adalah Pantai & Bukit Ege di Pulau Sabu, NTT.

 

Tapi bagaimana bisa ke sana kalau persyaratan untuk naik pesawat masih sulit dan aturannya masih belum jelas? Yaa, minimal tulisan ini ditujukan buat warga Kupang di Pulau Timor dan Waingapu di Pulau Sumba yang punya akses transportasi laut ke Pulau Sabu. Warga Jakarta sabar saja dulu ya.... Baca-baca dulu nggak ada salahnya, hehe...

 

Baca juga: "Harus Kepo Kalau ke Pantai Kepo di Pulau Sabu NTT"

 

Waktu saya dan 5 teman ngetrip ke Pulau Sabu tahun lalu, kami sempat berkunjung ke Bukit & Pantai Ege yang berada di Desa Waduwala Kecamatan Sabu Liae Kabupaten Sabu Raijua. Dari Kota Seba, gerbang masuk ke Pulau Sabu, berkendara ke sini 30-45 menit. Kami datang menjelang senja tapi sayangnya kami tak menunggu sunset di sini. Padahal di pantai dan bukit yang menghadap selatan (Samudera Hindia) ini, sunset dan juga sunrise bisa terlihat.

 

Pantai Ege, sisi sebelah kiri

 

Pantai Ege, sisi sebelah kanan

 

Pertama mobil kami mendaki dulu ke arah Bukit Ege. Melempar pandangan ke mana pun, hanya ada bukit setengah tandus yang di beberapa titik dipayungi pohon lontar, dan di bagian lain bukitnya hijau dengan gerombolan pepohonan. Formasi bukit-bukitnya mengingatkan saya pada Bukit Lendongara di Sumba. Makin ke atas pemandangannya makin yahud. Hingga akhirnya mobil kami berhenti dan kami pun segera berhamburan kesenengan.

 

Sepanjang perjalanan pemandangannya yahud

 

Bukit tandus

 

Bukit hijau

 

Di satu sisi ke arah bawah tampak garis Pantai Ege yang cukup panjang dengan jejak gelombang laut di pasir pantainya yang putih halus. Di depannya membentang laut biru tak berbatas. Sedangkan di sisi sebaliknya nampak bukit tanah merah yang pendek saja.

 

Pantai Ege terlihat dari Bukit Ege

 

Jejak gelombang laut di pasir pantainya

 

Tak ada satu orang lain pun di sini saat itu. Kami ber-6 saja langsung mencar, masing-masing menikmati sajian alam di hadapan sekaligus mencari sudut terbaik untuk mengambil foto. Physical distancing super maksimal deh! Nggak cuma 1,5-2 m, tapi malah bisa 10 m lebih jarak antar kami, hahaha... Kami hanya berkumpul saat menjadi model drone, hehe.

 

Berfoto dengan drone di Bukit Ege berlatar Pantai Ege

 

Puas di bukit (mmm, belum puas sih sebenernya, tapi kami harus lanjut), kami naik mobil lagi untuk turun ke pantainya. Mobil cukup jauh diparkir dari bibir pantai karena memang nggak bisa masuk lagi. Kami pun jalan kaki di jalan setapak yang nggak jelas.

 

Baca juga: "Ada Tabu yang Tak Boleh Dilanggar di Kampung Adat Namata di Pulau Sabu"

 

Sampai di bibir pantai yang sebelumnya kami lihat dari bukit, matahari tampak masih garang di sisi kanan. Di sini nggak ada pengunjung lain juga. Lalu entah bagaimana mulanya, kami tertarik untuk berfoto-foto siluet dengan bermacam gaya, bahkan memanfaatkan kain selendang sebagai properti. Kami juga bergaya meniru gambar legendaris The Origin of Species-nya Charles Darwin.

 

Pura-puranya sakti

 

Memanfaatkan kain

 

Mirip The Origin of Species-nya Darwin ya?

 

Seru banget berfoto-foto, sampai-sampai kami nggak sempat melihat Benteng Ege yang ada di pantai ini –entah di sebelah mananya. Tapi kata Jeje, pemandu kami, dan saya lihat foto-foto di internet saat menulis artikel ini, bentengnya ya berupa tumpukan batu-batu begitu aja. Jangan bayangkan bentuk benteng pada umumnya. Dan saya juga lupa apakah kami sempat mendengarkan bunyi gelombang yang menyerupai bunyi gong, salah satu ciri khas Pantai Ege.

 

Jalan balik menuju mobil yang diparkir di tanah lapang, kami baru sadar ternyata di dekat situ terdapat gerumbulan pohon lontar yang tampak menonjol di tengah padang luas. Cantik, apalagi di belakangnya ada matahari bulat sempurna.

 

Gerombolan pohon lontar dan matahari bulat sempurna

 

Ah, saya jadi tambah kangen Pulau Sabu. Pulau eksotis yang objek-objek wisatanya masih perawan seperti Pantai & Bukit Ege ini.

 

Lokasi Pulau Sabu dan Pantai Ege

 

Cara ke Pulau Sabu silakan dibaca di sini

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Priyo Tri Handoyo
Comment