KAPAN TERAKHIR KE MONKEY FOREST? 2020-12-23 00:00

 

Kapan terakhir Anda ke Monkey Forest di Bali? Dan apa yang diingat waktu itu? “Hati-hati nanti tas/kacamata diambil monyetnya!” “Awas bahaya, monyetnya bisa ambil HP!” “Ada kayak temple gitu deh di dalam!” Gitu doang ‘kan? Ditambah memori bus karyawisata parkir lalu kita jalan ke dalam beserta rombongan teman-teman SMA!

 

Itulah sebabnya saya kaget sekali, karena pintu masuk Monkey Forest yang bus SMA dulu itu, ditutup. Masuknya dari belakang, kami disambut lapangan luas dan gedung parkir untuk ratusan mobil! Sedih, melihat semuanya kosong melompong. Lalu, kami berjalan sambil ragu-ragu ke arah “Lobby Entrance”. Lobby apaan?

 

Baca juga: “Bali, Jangan Sedih… Kami Akan Meramaikanmu Lagi…

 

Saya tambah kaget lagi, ketika kami disambut lobby besar bak hotel bintang lima, lalu masuk ke promenade mirip dengan lobby di Garden by the Bay Singapura. “Pak, Bu, tolong cuci tangan dulu ya!” kata karyawannya, sambil menunjuk pada wastafel yang sudah terpasang di depan. Mantap!

 

Setelah membayar tiket Rp60.000 dewasa dan Rp30.000 anak-anak, kami pun melangkah masuk. Wuih, tidak ada lagi serbuan penjual suvenir dan foto. Kami melenggang dengan satu stroller melalui sebuah jalan dari kayu, mirip beberapa lokasi Garden by the Bay, lalu masuk ke sebuah gerbang berukir yang indah. Ukiran surealis menyambut kami, pepohonan raksasa memeluk langit, dan dua orang petugas menyambut kami. “Cuci tangan ya Pak!” --dan sebuah wastafel dari batu, seolah-olah muncul secara magis di tengan hutan. Ciamik!

 

Kami lalu terus berjalan, memasuki sebuah terowongan gelap. Anak-anak mulai bertanya karena kuatir. Ini apa? Sebuah patung lingga yoni kami lewati dalam kegelapan. Dan ketika keluar di ujung satunya lagi, kami bak keluar pintu Doraemon, menuju sebuah hutan tropis alami. “MONKEYS!” kata anak saya --itu, di kanan, kiri, dan atas kami. Selamat datang di Monkey Forest!!

 

Baca juga: “’Jamuan Kenegaraan’ Khas Bali yang Mengesankan

 

Kami berjalan di atas platform kayu yang nyaman sambil mendorong stroller. Pepohonan raksasa menaungi kami --beringin ratusan tahun dan pohon kayu keras setinggi puluhan meter. Hanya Kebun Raya Bogor yang bisa menyaingi pemandangan ini! Dan lihat, di sisi kanan jalan. Ukiran arca hanoman, ukiran patung raksasa, seolah ikut bercanda bersama kera-kera di pohon, penuh lumut berwarna hijau. Indah, artistik! Dan apakah itu, di salah satu sudut? Wastafel! Eh kok kepikir bikin wastafel di situ?

 

Kami mengikuti jalan sampai ke titik utama, di mana ada persimpangan dengan kolam untuk minum monyet, dan satu keranjang pisang dan ubi kayu yang dikerumuni monyet. “Wow, jadi monyet itu beneran suka pisang ya?” komentar putri saya, yang saja jawab dengan senyuman. Beginilah cara belajar yang lebih seru dari Google Meet!

 

Kami terus melangkah, sampai di depan sebuah pura raksasa yang nampak magis. Semuanya hijau berselimut lumut. Pohon raksasa nampak berdiri di depannya, daunnya menyaring cahaya matahari menjadi indah sekali. “Bunut, Bulian, Liana” kata keterangan berbentuk ukiran batu, melambangkan ada tiga pohon terpilin jadi satu. Patung hanoman berjajar, mengapit gapura raksasa yang semuanya berlumut, bak pintu masuk dunia lain ala Spirited Away dari Studio Ghibli. Ketika sedang asyik memotret, saya mendengar ada air ngerucuk jatuh di samping saya. Apa itu? Saya mendongak ke atas. Astaga, ada monyet pipis! Wkwk, hampir saja!

 

Pura raksasa yang nampak magis dan pohon raksasa di depannya

 

Lumut di mana-mana

 

Lalu, saya merasa perlu mencari sedikit tantangan. Panah menunjukkan “Conservation Forest” dan “Water Source Temple” --tapi tangganya lumayan banyak. Kita angkut saja stroller Zizi, putri bungsu saya! Akhirnya pang-enam (sebutan untuk istri saya; saya ‘kan pang-lima) setuju. Kami turun, disambut riuh rendah di hadapan kami!

 

Sebuah lembah penuh pepohonan, terhampar di depan kami. Setelah tangga turun, ada lantai kayu dengan teras menjorok keluar sehingga kami bisa menikmati drama di hutan dengan nyaman, meski waspada. Karena, sedang ada yang berantem di bawah sana!

 

Baca juga: “Di Indonesia Aja. Kembali ke Bali

 

Rupanya, ada seekor kera besar beserta pengikutnya yang baru turun dari pohon lontar besar. Membawa pasukan, sang kera berpikir bisa membuat kekacaukan di sisi seberang sungai yang ada di depan kami. Tetapi, rupanya sudah ada kera lain yang berkuasa di situ. Mula-mula dia diam saja, tetapi ketika sang kera besar dan pasukannya melompat ke sisi lembah di bawah kami, sang kera penguasa langsung beraksi. Rupanya, beliau menunggu bukti! Teriakan riuh rendah, tak disangka, bahkan ketika sudah kabur ke pohon lontar pun pasukan kera besar tetap dikejar! “Oh no, Daddy! Lihat itu, kasihan!” kata putri saya yang bungsu, melihat seekor kera besar menarik kera lawan dan melemparnya ke bawah dari atas pohon lontar. Namanya juga kera, dia jatuh beberapa meter lalu geragapan mencari pegangan. Semua terjadi di depan kita, dan drama masih berlanjut karena kera besar terus berteriak mungkin bersumpah akan kembali. Yuk ah, cukup!

 

Penulis sekeluarga

 

Tantangan di depan kami semakin besar, karena setelah lanjut dari panggung Forest Conservation, ada tangga curam ke bawah. Zizi saya gendong, stroller dilipat. Suasana tegang ketika pelukan pepohonan semakin rapat, dan jalan semakin licin. Di titik terendah, kami bisa melihat sungai di dasar lembah, sementara di atas terus terjadi teriakan dan pertempuran kera yang tadi. Kami naik lagi melalui tangga curam, lumut semakin tebal. Kini, kami benar-benar di dasar lembah, menikmati pemandangan ke atas. Di sini ada sumber air yang mengalir tenang, terasa suci dengan bangunan pura. Harusnya, kera-kera itu lebih sering ke sini, mendinginkan hati, daripada berantem sendiri! Tapi, masalah kami belum selesai. “Keluarnya ke mana, Pak?” tanya saya, dijawab dengan tunjukan jari yang membuat kami tercengang!

 

Sungai di dasar lembah

 

Jalanan menanjak tajam lalu masuk ke jembatan sempit, yang melalui sebuah pohon beringin raksasa. Ya, jembatan berukir naga ini persis melalui batang pohon beringin, seperti sequoia di California! Dan ketika kami akan melintas, anak-anak mendadak merapat ketakutan. Seekor kera besar, nampak melompat turun ke jembatan dari puncak beringin, dan berjalan ke arah kami. “Tenang saja, Nak, ini rumahnya kera. Kita yang harus sopan sama keranya, dan dia tidak akan mengganggu kita!” kata saya. Kera besar ini melintas beberapa senti saja dari tempat kami berdiri. Anak-anak masih kaget, ibunya juga kaget, mungkin melihat turis Rusia berbadan kekar di depan kami yang cuma pake celana bokser saja, wkwkwk

 

Jembatan berukir naga ini persis melalui batang pohon beringin

 

Dari situ, kami kembali ke titik utama dan kembali ke lobby. Sebuah pengalaman yang luarrr biasa! Dan semuanya bisa dinikmati dengan sangat nyaman, wastafel di mana-mana, jalan 80% bisa dilalui stroller, tempat sampah tersedia. Namun, kita tetap bisa menikmati alam dengan semua fasilitas ini, nyaman, bersih. Dan ini menurut saya hebatnya Bali: arsitekturnya tidak intrusif, tersembunyi cantik di sela-sela pohon. Bagian mana yang baru, mana yang sejak dulu sudah ada? Wuih, lupa. Pokoknya, Monkey Forest Baru yang diresmikan tahun 2018 ini, sudah menjadi kesatuan baru yang akan tertanam di memori anak-anak kami. Yuk, ke Monkey Forest!

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment