MANGGA ATUH, HANYANG HASEO! 2020-12-01 00:00

Sundubu Jjigae

 

Ketika saya dipanggil sebuah perusahaan besar untuk investasi mesin saus, saya sudah GR duluan. Mau invest apa mereka? Saus sambal bawang? Saus sambal kecap? Akhirnya, saus sambal Indonesia naik kelas! Tetapi, apa yang dikatakan perusahaan tersebut membuat saya tercengang.

 

“Pak, kami mau memproduksi gochujang produksi Indonesia dalam volume besar. Mungkin akan kami ekspor!” katanya. Astaga, kok gochujang?

 

Baca juga: “Goyang Karawang Berbungkus Daun Pisang

 

Gelombang Korea yang melanda Indonesia memang sangat kuat. Tahun 2000-an, makanan Korea identik dengan daging sapi cincang mentah yang disantap dengan telur mentah di beberapa restoran di Jalan Teluk Betung. Kemudian, masyarakat mulai mengenal “saus bulgogi” ketika menu ini hadir sebagai alternatif di beberapa restoran steak di Jakarta. Lalu kepopuleran mie instan superpedas Samyang menambah rasa penasaran generasi muda pada kuliner Korea.

 

Sampai akhirnya, kedatangan film Korea membawa tsunami kulinernya ke Indonesia. Tiba-tiba nama yang sulit disebutkan seperti “jajjangmyeon” (tidak berhubungan dengan Jajang C Noer) bermunculan di sosmed, bahkan penjualan ttokpokki mulai menyalip kepopuleran seblak ceker, mungkin karena sambil makan bisa membayangkan wajah ganteng Siwon Choi!

 

Baca juga: “Aroma Wijsman di Terang Bulan

 

Dan menariknya, budaya kuliner Korea kemudian diserap menjadi kuliner Korindo, restoran Korea yang dimasak dan dikonsep oleh orang Indonesia. Contohnya adalah GoStop di Ruko Goldfinch, Gading Serpong, Banten.

 

Arie Dharmawan Gani, konseptor GoStop Godori Tofu House & BBQ Stop, mengisahkan awal perkenalannya dengan kuliner Korea. “Ketika kuliah di Beijing, istri saya punya room mate Unni Korea, dan dia diajari masak oleh beliau,” katanya. “Saya juga dulu sekamar sama orang Korea yang jauh lebih tua, jadi sering ditraktir makan,” sambung Arie. Ketika keduanya kembali ke Indonesia dan melihat tsunami kuliner Korea, mereka kemudian bersepakat mendirikan restoran Korea.

 

Baca juga: “Berkat dan Kutuk dari Kudus

 

Kalau diperhatikan, versi Korindo berbeda dengan versi Korea asli. Versi Korea asli bahan mentahnya sangat bagus sehingga jauh lebih mahal harganya. Bawang putihnya melimpah sampai dicemil seperti makan kacang atom! Pemanggangan dengan bara, lalu disediakan banchan alias hidangan sampingan yang berbagai macam dan menjadi ciri khas restoran tersebut. Ada irisan lobak tipis berwarna merah muda, kentang dengan saus tauco manis, serta tak ketinggalan kimchi segar yang asam tajam.

 

Satu set kimchi, dak bulgogi (ayam), japchae, dan ttokpokki

 

Versi Korindo disajikan dalam porsi lebih kecil sehingga bersahabat di kantong. Bawang putih dan cabai hijau panjang tetap ada, namun sedikit. Saus ssamjang sudah diracik dengan bumbu sehingga rasanya lebih meriah, ada pilihan bumbu “manis” dan “pedas”, bahkan bulgogi-nya pun tarikannya tidak semanis aslinya, tetapi lebih asin-gurih dan malah semakin sedap disantap dengan nasi.

 

Tofu Beef Soup

 

Sebagai ahli soto, tentu saja tangan Indonesia pandai menyulap supnya. Tofu Beef Soup menjadi pilihan untuk yang tidak suka pedas, dengan kuah yang lebih gurih tanpa harus mendidih berbuih seperti di Seoul. Sundubu Jjigae pedasnya cukup terasa, dengan kaldu yang lebih pekat dari versi asli Korea yang cenderung lebih asam. Tanpa terasa, piring demi piring daging habis dipanggang, bahkan seorang teman yang biasanya kurang cocok menyantap hidangan luar negri, kini sibuk mengunyah ayam bulgogi bumbu pedas.

 

Sundubu Jjigae

 

Kimchi Indonesia untuk dunia? Hmmm kenapa tidak? Mangga atuh, Hangyang Haseo!

 

GoStop

Godori Tofu House & BBQ Stop

Ruko Springs Boulevard

Gading Serpong

0819 95777733

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment