LAPORAN DARI MANDALIKA (2): BUKAN BALAPAN BIASA 2022-03-21 22:00

Ladang pacu Mandalika dari Tribun A

 

“Ini berbeda dengan balapan yang pernah saya lihat di Australia,” kata seorang teman. Rasanya, memang begitu! Marc Marquez pasti heran kenapa abis balapan kok diajak dangdutan, dan Joan Mir bisa jajan wine Bali di stand Hatten Wine! Memang, inilah salah satu kelebihan event ini: karena orang Indonesia jagonya bikin bazaar, bahkan balapan pun dijadikan bazaar!

 

Suasana di panggung BNI Mandalika

 

Antrean menuju Official Merchandise Pertamina

 

Organisasi balapannya sendiri cukup mengagumkan. Saya tidak bisa terlalu banyak komentar karena tidak pernah nonton MotoGP di negara lain, jadi tidak punya data pembanding. Jalan masuk menuju penukaran tiket cukup berliku, yang akhirnya dijawab seorang official setelah dioper tiga kali. Sang official ini mau membantu, meskipun harus menghentikan sarapan rotinya. “Bapak mula-mula ke PB atau PT, dari situ naik bus menuju G1, lalu di situ tukar tiket…” katanya ramah. Meskipun saya orang kimia, saya kurang paham unsur apa itu PT? Untung beliau menjelaskan dengan baik sampai kami mengerti benar. Dan dipasanglah gelang di tangan setelah aplikasi Peduli Lindungi dicek --sudah sah nonton MotoGP!

 

Suasana menuju kursi penonton

 

 

Dari tribun A, saya memandang lintasan dengan hati berdebar. Motor dengan suara knalpot lantang melaju kencang! Kalau di kampung halaman suara ini hasil modifikasi, di sini beneran dibutuhkan karena besarnya tenaga mesin. Tips: nontonlah dekat dengan TV informasi, supaya kita tahu siapa yang lewat dan dia urutan berapa. Tiba-tiba, penonton serentak berdiri. Ada apa? Sebuah motor biru berlogo Suzuki --dikendarai oleh Alex Rins-- nampak terbakar. Rupanya Alex sadar ada api di motor dan segera melempar motornya ke pasir. Brakkk! Motor mendarat, langsung diserbu petugas pemadam kebakaran. Bendera merah melambai, sebuah Safety Car BMW nampak melintas dengan berwibawa, pertanda pertandingan dihentikan sementara. Dan ini bukan di Imola atau Monza --ini di Mandalika, Lombok!

 

Suasana di Tribun A

 

Suasana Tribun C

 

Sirkuit ini unik karena di tengahnya banyak bukit-bukit yang boleh jadi memang aslinya begitu. Jadi, bazaar dan panggung musik diletakkan di tengah sirkuit. Sesekali helikopter televisi melintas merekam acara, bahkan Jupiter Acrobatic Team dengan 6 pesawat terbang baling-baling melakukan show menakjubkan di udara. Seru! Bangga juga, bahwa Lombok bisa jadi seperti ini.

 

Jupiter Acrobatic Team

 

Stand-stand yang ada juga cukup menarik. Hatten Wine, pelopor produksi wine Indonesia dari Bali, juga menyiapkan stand yang menampilkan produk terbarunya: wine merah varietas Grenache (Australia) dari Two Island. Di sini para kru dan penonton bisa mencicipi Grenache yang unik, atau sparkling wine Tunjung yang sedap dan menyegarkan. Jika ingin membawa oleh-oleh, boleh banget mampir ke sini!

 

Suasana di booth Hatten Wine

 

Selain wine, tentu saja banyak produk lain yang ditampilkan. Ada pameran motor-motor modifikasi dalam negeri di stand Kemenkop UKM. Dan tentu saja yang diburu penonton selama lomba adalah: kaos, topi, dan merchandise MotoGP lainnya. Dari stand resmi Pertamina sampai kios-kios penjual kaus dengan harga Rp100K untuk 3 potong, semuanya kebagian order, memberi senyum di wajah pedagang yang mungkin sudah lama manyun dihajar pandemi. Sukses!

 

Pameran motor di Kemenkop UMKM

 

Salah satu penjual kaos di Ruang Pamer Kemenkop UMKM

 

Booth UMKM di Mandalika

 

Official Merchandise

 

Sampai jumpa tahun depan, Mandalika!

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

Baca juga: "Laporan dari Mandalika (1): Icip-Icip Ala Lombok dan Bima"

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment