GOCAPAN DI SURABAYA, DARI SOTO LANJUT RAWON 2021-07-11 20:40

Soto Ayam Cak To Undaan

 

Masih soal gocapan alias “gowes cari sarapan”. Kali ini yang dijajaki adalah Kota Pahlawan alias Surabaya. Kota ini memiliki wilayah pusat kota yang cantik dengan jalur sepeda yang jelas dan rapi. Namun, karena letaknya jauh lebih ke timur daripada Jakarta, kamu harus bersiap lebih pagi. Pada jam 7 pagi saja, kota ini sudah panas terik akibat mentari yang sudah tinggi!

 

Gowes di Surabaya

 

Kali ini, saya mulai dari tempat menginap di wilayah Kedungdoro. Meskipun di waktu malam kawasan ini cukup ramai, tetapi di pagi hari malah sepi. Saya menyusuri jalan menuju sebuah landmark Kota Pahlawan: Hotel Majapahit, yang dahulu bernama Hotel Oranje, Jl.Tunjungan No. 65. Di sini terjadi peristiwa bersejarah pada tanggal 19 September 1945, di mana pemuda Kusno (pegawai kantor Kabupaten Surabaya) berhasil menurunkan bendera merah-putih-biru Belanda, menyobek bagian birunya, dan menaikkan kembali merah-putih yang tidak proporsional. Sambil menikmati fasad bangunan hotel yang dilestarikan dengan baik, kita bisa ber-selfie dengan tiang bendera yang bersejarah itu, dengan bendera merah-putih yang sekarang proporsional dan berkibar gagah.

 

Hotel Majapahit dan tiang bendera yang legendaris

 

Tak jauh dari situ, jalur sepeda akan menuntun kamu ke sebuah kompleks besar dengan tulisan “Kota Surabaya”. Nah, cocok untuk selfie lagi! Ini adalah kantor Walikota Surabaya, dengan taman indah yang bisa untuk foto-foto. Kantor ini didesain oleh arsitek Belanda bernama Cosman Citroen. Karyanya banyak menghiasi Kota Surabaya, termasuk perencanaan wilayah Ketabang tempat kantor ini berada. Kita bisa melihat jalanan yang menyusuri kanan-kiri sungai dengan rapi, jalan-jalan lurus yang menghadap ke jalan besar, adalah buah karya arsitek yang wafat tahun 1935 dan dimakamkan di Kembang Kuning, Surabaya.

 

Pose di Balai Kota Surabaya

 

Di antara jalan-jalan kecil wilayah Ketabang inilah saya menetapkan tujuan berikutnya: Soto Ayam Cak To Undaan (Jl. Ngemplak 1 No. 36). Jika naik mobil, bisa diparkir di sisi jalan besar, namun dengan sepeda bisa parkir persis di depan warung yang masuk gang kecil. Di sini, Cak To berjualan di depan sebuah tokoh kuliner lainnya: Depot Tahu Kraton (sejak 1968) yang sayangnya belum buka di pagi itu. Cak To menyajikan soto ayam khas Surabaya: gerobak dengan satu dinding miring dengan besi tempat menggantung ayam rebus, di sebelah panci besar kaldu ayam. Ketika disajikan, mangkuknya besar, kuahnya kuning panas sedap mandraguna, dengan irisan kol, bihun, irisan telur rebus, dan taburan koya plus kucuran jeruk nipis yang membuatnya asam segar. Keringat pagi dan soto panas memang pasangan yang pas! Karakter kaldu herbal plus kekentalan akibat bubuhan koya, semakin sedap berpadu dengan nasi. Ciamik!

 

Gerobak Soto Cak To, khas Surabaya. Panci besar isi kaldu ayamnya begitu menggoda

 

Soto Ayam Cak To dan jeruk panas

 

Spot selfie di Gang Ngemplak, satu lokasi dengan Soto Cak To

 

Sebelum kembali ke Kedungdoro, ada satu tujuan lagi: Rawon Setan di Jalan Embong Malang! Dasar namanya setan, sudah sarapan soto masih juga menggoda saya. Akhirnya saya luluh karena apalah artinya mampir di Surabaya tanpa mencicipi rawon. Hidangan khas ini berbahan dasar kluwek, biji tanaman pangi (Pagium endule) yang aslinya mengandung racun sianida, namun bisa dijinakkan dengan direbus air dan difermentasi. Warnanya hitam dengan rasa gurih sedikit asam, dan pasangannya dengan daging sapi!

 

Rawon Setan di Jalan Embong Malang

 

Rawon ini konon disebut “setan” bukan karena hubungannya dengan neraka, tapi karena jam ramainya yang dulu mulai jam 10 malam sampai pagi. Warung sup rawon hangat inilah yang menjadi penghangat jiwa bagi anak-anak muda yang habis “dugem” di sepanjang Jalan Embong Malang dan kawasan Tunjungan, sehingga perjalanan pulang ke rumah bisa ditempuh dengan aman. Kini, setannya sudah jinak sehingga sejak pagi sudah buka! Hidangannya sederhana, namun khas. Potongan daging sengkel sapi yang empuk, dipadu kuah rawon yang hitam gurih dengan rasa khas kluwek. Kondimen wajibnya adalah kecambah (tauge pendek) dan sambalnya yang pedas seuhah, plus setengah butir telur asin. Buat saya, empat komponen ini adalah pairing sejati! Kalau mau, bisa ditambah dengan jatah kolesterol yang biasanya tersaji di piring: babat, paru, atau limpa. Ada juga tempe goreng dan perkedel! Sebuah sarapan yang mengakhiri pertandingan pagi itu dengan skor 1-0: kolesterol menang dan kalori kalah, karena 8 km sepedahan sarapannya dua kali!

 

Baca juga: “Pengalaman ‘Gocapan’ di Kota Semarang

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment