MENYUSURI ROMANTISME MASA LAMPAU BANDA SAMBIL MENIKMATI BAWAH LAUT DAN PUNCAK GUNUNGNYA 2022-11-11 21:40

Romantisnya sunset dari Benteng Belgica di Banda Neira

 

Banda pertama kali saya ‘lihat’ dari balik jendela pesawat dalam penerbangan dari Langgur di Pulau Kei Kecil ke Ambon tiga tahun lalu. Runway-nya, hutannya, gunungnya dan tentu lautannya. Mencarinya di peta, hanya terlihat setitik, di sebelah tenggara Pulau Ambon. Terdiri dari Pulau Banda Besar (Lonthor), Pulau Banda Neira, Gunung Api Lewerani, Pulau Run (Rhun), Pulau Nailaka, Pulau Ai (Ay), Pulau Rozengain (Hatta), Pulau Pisang (Sjahrir) dan beberapa pulau kecil lainnya. Total wilayahnya tak lebih dari 40 mil persegi. Takjub, betapa pulau ini dicari sampai begitu rupa oleh para penakluk dari Eropa pada abad ke-16, dan diperebutkan demi sebuah komoditi most wanted kala itu: pala.

 

Banda hanya setitik, di sebelah tenggara Pulau Ambon

 

Terdiri dari Banda Besar, Banda Neira, Gunung Api, Run, Nailaka, Ai, Rozengain (Hatta), Pisang (Sjahrir)

 

Banda sangat terisolasi, jauh dari mana-mana. Pantas saja kepulauan yang berada di Maluku Tengah --sedikit ke arah selatan dari garis katulistiwa-- ini dipilih Belanda sebagai tempat pembuangan 4 tokoh pergerakan Indonesia: Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Iwa Koesoemasoemantri. Saya sulit membayangkan betapa panjang dan sulit perjalanan laut kala itu untuk mencapai Banda. Bahkan hingga di masa modern seperti sekarang pun perjalanan mencapainya bagaikan eksplorasi, butuh seharian. Saya dan kawan-kawan mesti menghabiskan waktu 16 jam dari Pelabuhan Tual di Pulau Kei Kecil di Maluku Tenggara untuk bisa tiba di Banda. Dan 11 jam perjalanan untuk pulang melalui  Pelabuhan Amahai di Pulau Seram, yang masih berjarak 2 jam dengan kapal cepat ke Ambon. Memang ada pesawat Sam Air dari Ambon maupun Langgur/Tual, tapi tidak terbang setiap hari, dan bersiaplah dengan aneka kejutan.

 

Baca juga: "Mau Liburan 2 Minggu di Maluku? Ini Dia Itinerary & Biayanya (Bagian 1)"

 

Kalau dulu bangsa kolonial dari Eropa itu bela-belain melakukan perjalanan panjang dan penuh rintangan demi segenggam pala yang harganya menyaingi emas, sekarang, para wisatawan penjelajah seperti kami rela berlelah-payah memburunya demi keindahan dan petualangan yang ‘dijanjikan’ Banda. Bawah laut berwarna, permukaan laut berkilau, pasir putih bersih, gunung api menjulang, perkebunan rimbun, serta romantisme masa lampau! Pun kulinernya, yang berbasis aneka rempah.

 

Bawah laut berwarna

 

Permukaan laut berkilau

 

Gunung api menjulang

 

Hotel eksotis bergaya kolonial, Cilu Bintang, menyambut kami dengan hangat tengah malam itu. 23 Oktober 2022. Terong masak bumbu kenari nan sedap, sup panas dengan aroma pala dan cengkeh yang kuat, buras gurih dan aneka sajian lainnya berebutan membelai lidah kami. Kami seakan lupa sudah lewat tengah malam. Tak ragu makan banyak. 

 

Cilu Bintang Estate

 

Aba Rizal Bahalwan, pemilik Cilu Bintang, merangkai jadwal kami selama di Banda yang kami ikuti tanpa banyak bertanya. So perfect! Snorkeling, spice tour, naik gunung, snorkeling lagi, mengelilingi gunung dengan kapal motor, walking tour ke tempat-tempat bersejarah. Ditemani pemandu-pemandu, pengemudi perahu, serta dilayani tim dapur dan staf hotel dengan segunung keramahan.

 

Berinteraksi dengan mereka, orang-orang Banda, saya tergelitik, yang manakah orang asli Banda? Seperti apa mereka? Kami berjumpa aneka wajah, ada yang tipikal wajah orang Maluku, tapi lebih banyak yang beda. Buku Banda A Journey Through Indonesia’s Fabled Islets of Fire and Spice yang dihadiahkan Aba kepada saya sebelum pulang, menuliskan, penduduk asli Banda, laki-laki di atas 15 tahun, sudah habis dibantai VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen tahun 1621 dalam usahanya memonopoli perdagangan pala. Kemudian didatangkanlah tawanan dari Makassar, kuli dari Jawa, budak dari Papua dan Timor untuk bekerja di perkebunan pala. Lalu kemudian mereka bercampur dengan pedagang dari Bugis, Cina, Arab, Eropa (Portugis, Belanda, Inggris). Orang-orang Banda sekarang ya lahir dari campuran nenek moyang yang berbeda-beda itu. Aneka ras, agama, dan bahasa menghasilkan budaya kompleks di Banda. Sangat kaya!

 

Baca juga: "Itinerary & Estimasi Biaya Eksplor Ambon & Saparua 4 Hari"

 

Pendudukan Eropa tentunya mewariskan bangunan-bangunan tua bercat putih yang sudah kusam dengan tiang-tiang raksasa, balkon-balkon, ruang berlangit-langit jangkung dan berlantai tegel cantik, jendela-jendela kayu besar --semua bentuk kemewahan masa lampau yang tersisa. Banda menorehkan catatan penting dan bukti pengaruh Eropa yang amat besar di wilayah Asia Tenggara.

 

Bangunan bergaya kolonial, bertebaran di Banda Neira

 

Seperti telah disebutkan di awal, bangsa Eropa jauh-jauh mencari Banda karena telah mendengar adanya pala yang diperdagangkan oleh para saudagar Cina yang sudah tiba dan berdagang dengan orang Banda berabad-abad sebelumnya. Pala dari mulai bijinya, membrannya, maupun buahnya, semua berguna dan banyak khasiatnya, bukan hanya sebagai rempah untuk masak, tapi juga menyembuhkan ragam penyakit, sekaligus menjadi bahan pengawet makanan yang pada masa sebelum ditemukan refrigerator tentu sangat fungsional. Pedagang-pedagang Cina, Melayu dan Arab mengangkut pala dan rempah lainnya dari Banda sampai ke Teluk Persia dan Mediteranea.

 

Pala, kenari, cengkeh, kayu manis

 

Tahun 1700-an, pala menjadi komoditas utama yang paling dicari di dunia, dan Banda sangat beruntung, dianugerahi Tuhan menjadi satu-satunya suplier. Ya, pohon pala tumbuh berkembang memenuhi setiap jengkal tanah di Banda begitu saja, tidak ada yang menanam apalagi membudidayakannya. 

 

Tak heran bangsa Eropa begitu bernafsu menemukan Banda. Jalan awal ke Banda dirintis Alfonso de Albuquerque dari Portugis saat tahun 1511 ia dan pasukannya menaklukkan Malaka sebagai hub jalur perdagangan di Asia. Dari Malaka mereka lanjut, tapi awalnya tiba lebih dulu ke Ternate dan Tidore yang mereka sebut Molukas. Kedua pulau itu juga kaya akan rempah terutama cengkeh. Dari situlah mereka mulai mencari jalan ke Banda dan akhirnya menemukannya. Mulailah kapal-kapal Portugis mengangkut pala berikut fuli/membrannya ke Eropa. Harga jual pala di Amsterdam kala itu bisa di-markup hingga 1.000%. Dan tak kalah dari emas harganya. Wowww….

 

Baca juga: "Itinerary & Estimasi Biaya Eksplor Ternate-Tidore-Morotai (Maluku Utara) 7 Hari"

 

Belanda tiba di Banda tahun 1599 dengan bendera VOC dan berusaha memonopoli perdagangan pala. Pertama-tama lewat kontrak dagang, lama-lama memaksa dengan kekuatan. Tapi hadir Inggris sebagai pesaing. Inggris malah berhasil menguasai dan membangun pos niaga di Pulau Run, sebelah barat Banda Besar. Singkat cerita, Inggris dan Belanda sepakat melakukan pertukaran. Pulau Run ditukar dengan Pulau Manhattan di New York Amerika yang kala itu dikuasai Belanda.

 

Pulau Run, bersama Pulau Nailaka dan Pulau Ai di masa sekarang telah menjelma menjadi spot snorkeling yang tak boleh dilewatkan. Hanya dengan snorkeling kami melihat rombongan ikan bumphead, penyu, dan tentu hamparan terumbu karang sehat. Di spot lain bahkan kami melihat hiu, lumba-lumba dan wholphin. Airnya pun super jernih! Pulau Ai, selain kami jelajahi bawah lautnya, juga kami kelilingi perkebunan palanya. 

 

Rombongan ikan bumphead

 

Penyu

 

Airnya super jernih!

 

Banda pada akhirnya memang tidak lagi menjadi satu-satunya pemasok pala. Oleh Inggris, pada abad ke-18, demi mematahkan hegemoni Belanda, pohon pala muda ditanam di tempat-tempat lain, di Penang, Sri Lanka, Sumatera, dan belakangan di Grenada Karibia juga. Hingga harga pala pun merosot drastis dan Pulau Banda tak lagi menikmati priviledge-nya.

 

Meski begitu, sampai sekarang terutama di Pulau Banda Besar perkebunan pala yang dikombinasi dengan pohon kenari sebagai peneduh masih ada dan berproduksi. Walaupun tentu tak sebesar dulu nilai perdagangannya. Dan kalau dulu mengeringkan pala dengan cara diasap, kini dijemur. Sisa-sisa bangunan bekas pengasapan pala masih terlihat. Kita bisa mengeksplornya sambil mendengarkan cerita-cerita dari pemandu.

 

Pohon kenari yang menjadi peneduh pohon pala

 

Tapi memang takdir Banda untuk menjadi terkenal. Awal abad ke-20 tepatnya tahun 1930, Banda mulai terdengar lagi karena menjadi tempat pembuangan beberapa tokoh pergerakan yang belakangan menjadi figur penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia, yakni Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir, yang akhirnya menjadi wakil presiden dan perdana menteri pertama Indonesia. Bersama Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Iwa Koesoemasoemantri bertahun-tahun Hatta dan Sjahrir tinggal di Banda Neira.

 

Rumah Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo di Banda Neira

 

Jangan abai saat pemandu menuturkan kisah 4 tokoh tersebut sambil melihat-lihat rumah yang pernah mereka tinggali dulu. Terutama pas cerita tentang Sjahrir. Aaaah… sedih, sad ending. Di antara kejayaan masa lalu, sejarah Banda memang dipenuhi dengan kisah-kisah kesedihan, kesepian, keserakahan, petualangan, kehilangan yang sangat tragis, juga tentang penantian cinta yang tak berujung.

 

Salah satu ruangan di rumah Sutan Sjahrir di Banda Neira

 

Tinggalkan sejenak penantian cinta Sutan Sjahrir, mari kita menanti sunset dari Benteng Belgica, sambil mencari sudut benteng yang diabadikan dalam uang pecahan seribu terbaru. Dari benteng terlihat gagah sang gunung api Lewerani. Kami berkesempatan mengelilinginya dengan perahu motor, mengagumi tebing-tebing laut dengan rongga-rongga yang memikat di sisi luarnya.

 

Sunset dari Benteng Belgica

 

Tebing laut dan rongga-rongga di sisi luar gunung api

 

Tahun 1988 terakhir gunung api ini meletus, memuntahkan lava dan juga batu-batu besar, serta membentuk awan jamur di langit yang menggulitakan seluruh pulau. Begitu dekat kengerian yang ditimbulkannya bagi kampung-kampung di bawahnya dan pusat keramaian penduduk di Banda Neira di seberangnya. Kengerian yang pernah timbul akibat letusan itu, tak menyurutkan niat para wisatawan untuk mendakinya. Kami pun mencobanya, merayap, merangkak di jalur berbatu berpasir nan terjal, demi merasakan kegagahannya, dan demi menikmati pemandangan amboi dari puncaknya. Tapi pendakian Gunung Lewerani sayangnya tergolong bukan pendakian ringan yang bisa dilakukan semua orang. Cukup ekstrem. Dibutuhkan stamina prima, terutama keberanian dan ketabahan untuk melawan kengerian saat menuruninya. Tapi kalau Trippers siap, just pack & climb! Worth the effort! Pendakian ini membuat kunjungan ke Banda menjadi paripurna.

 

Pemandangan dari puncak Gunung Api Lewerani

 

Pendakian ini membuat kunjungan ke Banda menjadi paripurna

 

 

Teks & Foto: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Sumber data sejarah: Banda A Journey Through Indonesia’s Fabled Islets of Fire and Spice
Comment