AMAZING WONOSOBO (1) PERJALANAN MENGGAPAI AWAN DI KLEDUNG PARK 2022-12-27 00:00

Kledung Park berlatar Gunung Sindoro

 

“Saya di Perkebunan Teh Tambi. Teh punya khasiat yang beragam: bisa meredam hati yang bergejolak, atau menambah semangat tubuh yang lelah,” kata Bondan Winarno dalam salah satu episode “Wisata Kuliner” Trans TV yang membahas Wonosobo Jawa Tengah. Beliau saat itu sedang berdiri di hamparan perkebunan teh dan di belakangnya Gunung Sindoro menjulang tinggi, menampakkan puncaknya yang tajam dan megah. Inilah pesona Wonosobo, yang membuat kami penasaran dan ingin liburan ke sana. Yuk!

 

Perjalanan ke Wonosobo dimulai dengan exit tol Weleri setelah Pekalongan, di mana jalanan membawa kami makin naik ke puncak dengan jalanan yang mulus tapi sempit. Saya membayangkan, inilah jalur yang sejak dulu dikenal sebagai “Ondo Budho”, alias tangga menuju surga. Ada jalur tangga batu kuno, di mana orang dulu berjalan kaki dari pesisir sampai ke Dieng untuk beribadah. Pastilah perjalanan yang panjang dan melelahkan! Pakai mobil saja lumayan berat nanjaknya…

 

Baca juga: "Omah Carkonah, Pit Stop Top Markotop di Pekalongan"

 

Tujuan pertama kami adalah Kledung Park Sindoro Coffee House. Sebetulnya, ada lagi satu tujuan yang direkomendasi yaitu Sigandul View Coffee & Resto. Sigandul lebih modern, dengan bangunan minimalis cantik menghadap ke Gunung Sumbing yang kutilang tinggi menjulang. Namun, arealnya lebih sempit, sementara Kledung Park memiliki taman luas dan area camping, lebih cocok untuk anak kecil.

 

Kledung Park

 

Kami memilih makan di Pekalongan, di RM Tjukup, karena khawatir di jalur ke Wonosobo tidak banyak restoran. Tetapi saya salah! Justru menjelang Parakan ada banyak resto yang terlihat lumayan menarik. Tapi biarlah, saya memesan nasi megono dengan otot, sekalian mengobati rindu pada kuliner Pekalongan.

 

RM Tjukup di Pekalongan

 

Nasi megono, simping, dan otot di RM Tjukup Pekalongan

 

 

Kledung Pass adalah jalur di antara Gunung Sindoro dan Sumbing yang menjadi jalur utama menuju Wonosobo. Dari Pekalongan di permukaan laut, kami sudah berkendara sampai ke ketinggian kira-kira 1.300 mdpl di Kledung Pass ini, 500 m lebih rendah dari Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Perahu. Suhu pun menurun drastis, jam 3 sore hanya 17-18 derajat C. Anak-anak mengenakan jaket dan sarung tangan, bersiap turun menghadapi dingin dan nongkrong sejenak di kafe.

 

Kedinginan di Kledung Park

 

Interior Kledung Park Sindoro Coffee House

 

Wow, pemandangan di sini luar biasa! Di sisi kanan, Gunung Sindoro yang berbentuk kerucut sempurna nampak tinggi menjulang. Di sisi kiri, Gunung Sumbing, yang memang puncaknya miring, seolah tak mau kalah mejeng di sana. Pernah lihat gambar masa kanak-kanak yang ada dua gunung, sawah dan rumah? Ya, di sinilah asalnya, mirip banget! Dan di sekitar kami, ada “teater alam” yang terus bergerak, mirip dengan pemandangan di Alam Caldera Kintamani Bali. Namun, ini lebih besar… Kalau Kintamani XXI, ini IMAX! Pertama-tama, awan nampak “menyerang” Gunung Sindoro, menyelimutinya. Tetapi, angin kencang kemudian membersihkan sisa-sisa awan, kembali menunjukkan lereng Sindoro. Eh, di samping sana, justru awan baru saja hendak menutupi Gunung Sumbing! Begitu seterusnya, pemandangan di sekeliling kami terus berubah bersusulan. Indah!

 

Gunung Sindoro

 

Gunung Sumbing

 

Kledung Park Cafe ini lumayan juga. Wilayah Sindoro dan Sumbing terkenal sebagai penghasil kopi, sehingga bisa menyeruput kopi Sindoro di sini. Ada juga komoditas khas daerah sini yang disebut “purwaceng” --bisa dipesan dalam bentuk kopi purwaceng. Konon, tumbuhan ini bisa menambah pitalitas! Kemudian, ada juga kudapan seperti singkong goreng dan roti bakar. Mereka juga memiliki kebun yang luas, ada aktivitas memberi makan kelinci, satu lokasi untuk glamping dan satu lagi lokasi untuk penginapan. Kebayang, menginap di tenda dalam suhu seperti ini, perlu perlengkapan Winter Sonata ala Korea!

 

Kopi Sindoro di Kledung Park

 

Setelah puas menikmati Kledung Pass, kami pun melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Dari sini jalanan terus menanjak dan kira-kira 30 menit kemudian kami pun tiba di Wonosobo. Kalau kamu seumur saya dan pernah membaca novel Indonesia tahun 1980-an seperti karya NH Dini dan Mira W, Wonosobo mirip dengan deskripsi kota kecil di Jawa Tengah yang sering mereka gunakan sebagai latar cerita. Jalanan kecil, dinaungi pohon rindang, dengan lansekap naik-turun. Mendung menggantung di sore itu, kanan-kiri jalan dipenuhi toko-toko kecil berkusen hijau dengan pintu dobel atas dan bawah. Waktu berjalan lambat, mobil-mobil tidak merasa harus tiba di tujuan sekarang juga. Kami menemukan pertigaan dengan sebuah tugu “KM Nol Wonosobo” --sampai nih! Lalu, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel kami. Hotel Dafam Wonosobo, di jalan ke arah Dieng. Tapi, habis ini, makan malam dulu!

 

Baca juga: “Short Escape ke Dieng Nggak Pake Cuti. Bisa ke Mana Saja?

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment