DOWN SOUTH TRIP 6 - TAMAT: HELLO, ALBANY! BERJUMPA PANTAI SELATAN AUSTRALIA 2024-04-03 20:25

Albany

 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 400 km, jarak Jakarta-Semarang kira-kira, kami tiba di titik terjauh perjalanan kami dengan camper van di Australia Barat: Albany! Kami menginap dua malam sebelum kembali ke Perth. Begitu sampai, kami kaget: udara dingin sekali dan mendung! Hujannya tidak lebat, seperti gerimis saja, tetapi angin kencang sekali. “Inilah hawa khas Pantai Selatan Australia!” kata teman saya. Ya, kalau beberapa hari sebelumnya kami menyisir pantai barat, kini jalanan sudah mentok dan berbelok ke timur menyusuri pantai selatan menuju Kota Albany.

 

Baca juga: “10 Alasan Australia Barat Wajib Masuk Bucket List Liburan Anda

 

Sepanjang perjalanan kami melewati kota-kota kecil yang cantik: Pemberton dan Denmark contohnya. Di Pemberton kami sempat berhenti beristirahat. Kini di selatan, lansekap kotanya mirip dengan California di Amerika: sebuah main street dengan kafe dan supermarket, lalu ada City Hall atau balaikota. Tentu saja yang terbesar adalah Albany --kota ini cantik sekali! Industri utamanya adalah wisata melihat ikan paus (humpback whale) --yang berangkat dari pelabuhan Albany menggunakan kapal. High season-nya bulan Agustus sampai Oktober, ketika jalur migrasi paus melewati wilayah ini. Di bulan Maret pelabuhannya tutup dan sepi, hanya ada ratusan burung camar dan beberapa pelikan yang meramaikan pantai.

 

Kota Albany

 

 

Baca juga: “Panduan Cerdas Eksplor Queensland Australia (Bagian 1)

 

Tempat kami terakhir menginap namanya BIG4 Tourist Park, kali ini kami juga memesan caravan park with ensuite alias kamar mandi pribadi. Sayangnya, udara di sini dingin sekali dan angin kencang sehingga kami kurang menikmati makan bersama di luar. Dan BIG4 tidak punya ruang makan tertutup --agak fatal untuk orang Indonesia yang gampang kedinginan! “Ada wisata wajib di sini: namanya The Gap. Yuk kita ke sana!” kata teman saya.

 

 

Ketika melewati Albany, lagi-lagi terlihat bendera Aborigin di setiap gedung pemerintah. Bahkan informasi pertama ketika kami parkir di The Gap adalah informasi mengenai suku Minrang, penghuni asli tempat ini. Kami diperkenalkan dengan legenda suku Minrang duluan, sebelum penjelasan mengenai sejarah geologis tempat ini. “We welcome all Minrang people to this place” tertulis di situ. Duh, bangga! Dan menurut saya ini khas Australia. Saya tidak pernah membaca tulisan tentang suku Indian lokal di Los Angeles atau San Francisco di Amerika Serikat, sebuah negara yang katanya paling jagoan soal HAM. Saya jadi berpikir: mengapa ya? Apa semangat yang mempersatukan seluruh penduduk Australia, baik Barat maupun Aborigin?

 

Baca juga: “Liburan Keluarga ke Australia Barat, Enaknya ke Mana Saja?

 

Dari tempat parkir kami bisa melihat sebuah pemandangan unik: lansekap yang didominasi bebatuan yang sangat besar. Tebing di sini betul-betul disusun oleh batu, yang terdesak ke atas karena tabrakan antarbenua (continental shift). Tanpa petugas, tanpa tiket masuk “biaya kebersihan”, lagi-lagi engineering khas Australia: sebuah jalur pejalan kaki dari beton solid meliuk-liuk melewati punggung batu, sehingga kita bisa bebas menikmati semak-semak dengan bunga kecil warna-warni di sela-sela batu. Jalan beton yang pertama menuju ke The Gap, di mana ada sebuah panggung besi seperti Treetop Walk yang dipasang di atas sebuah celah batu yang terus-menerus dihantam ombak. Dari panggung yang menjorok ke laut ini, kita bisa bebas melihat ke bawah sejauh kira-kira 20 meter, di mana debur ombak menggelora mengukir batu-batu tebing menjadi lekukan tajam. Indah sekali! Sementara di latar belakang, nampak laut lepas Samudra Hindia berwarna biru gelap dan beberapa pulau kecil di cakrawala. Indah! Bagus nih kalau di Uluwatu bisa bikin begini!

 

 

 

 

 

Tujuan kedua adalah Natural Bridge. Kami berjalan kaki melalui jalur beton lagi melewati hamparan bebatuan yang nampak tak ada habisnya, menuju ke satu panggung lagi. Sampai di ujung, kita bisa melihat “Natural Bridge” --sejenis Batu Hiu Pangandaran, tapi ini bentuknya jembatan. Karena susunan kristal batunya unik, sebuah tebing batu ambrol bawahnya tetapi atasnya tetap utuh, menghasilkan jembatan alami dari batu yang terus dihantam ombak. Waduh, sebuah sajian pemandangan alam yang sangat indah! Lagi-lagi, fasilitas lengkap dengan toilet bersih dan barbecue. Dan yang saya lihat, bahkan pada hari kerja seperti saat kami datang pun banyak sekali orang Aussie --bukan turis-- yang berkunjung dan menikmati alam. Di mana-mana, dari Karri Valley sampai Alberta, dari camper van sampai tenda, kami melihat bagaimana orang Australia sangat mencintai alamnya! Bahkan Land Cruiser VRX yang di Jakarta jadi rebutan gagah-gagahan hanya untuk lewat di Thamrin atau parkir di Plaza Indonesia, di sini banyak berkeliaran di “habitat aslinya”: menarik camper van, membawa perahu kecil di atapnya, dengan roda penuh lumpur setelah menjelajah alam. Aih, jadi malu ah rebutan Land Cruiser!

 

 

Ketika berjalan kali melihat mercusuar yang ada di pantai dekat situ, saya mulai memahami DNA budaya Australia. Kekuatan yang mempersatukan bangsa Australia, yang menjembatani sejarah kelam Barat dan Aborigin, bahkan yang mendasari kebijakan pemerintah Australia di luar negeri, adalah kecintaan akan alam! Itulah benang merah di balik barbecue pit Barat maupun “The Dreaming” Aborigin, di balik tren vegetarian dan makan sehat-sustainable ala Australia, yang bahkan cari sendal saja yang berstatus vegetarian alias dibuat 100% dari bahan non-hewani! Kekaguman dan semangat menjaga alam inilah yang membuat Kevin Rudd, mantan PM Australia, berkata “Ayam Sorry”, mungkin ketika bengong melihat Bima Sakti di langit malam Canberra. Inilah yang membuat baik Barat maupun Aborigin kini bisa berdampingan menjaga dan menikmati alam --meskipun prosesnya belum selesai. Ah, dengan modal alam yang luar biasa luas dan indah ini, mereka pasti bisa!

 

 

 

Kami menghabiskan malam terakhir di parkiran BIG4, setelah menikmati pantai pasir putih persis di samping Tourist Park. Kami menghabiskan wine dan menggoreng bakwan sayur di tengah terpaan angin Albany. Ketika kami tidur, camper van sampai bergoyang tertiup angin saking kencangnya. Anak-anak tertidur pulas, “pang-enam” (istri saya) juga, sementara saya masih terjaga sebentar. Di sekeliling nampak keluarga-keluarga pada meringkuk di dalam mobil, bercengkrama dan menikmati kebersamaan.

 

 

Keesokan harinya kami melalui perjalanan 400 km dalam satu kali jalan, karena deadline mengembalikan camper van Maui ke Britz. Di Kwinana Freeway, hari Jumat sore, nampak kemacetan cukup panjang seperti versi mini dari Jakarta-Cikampek. Di sini sudah tak terasa lagi kehadiran sang “Ular Pelangi”. Sambil macet, saya memutar kembali memori perjalanan kami dengan camper van --dari Margaret River, Karri Valley, sampai Albany. Sekarang baru saya spill: bujet camper van ini berapa? Memang lumayan 2.500 dolar Australia (+/-Rp26 juta) selama 6 hari. Tapi kelebihannya adalah bisa masak sendiri, yang akan jauh menghemat karena harga restoran cukup mahal. Dan tentu saja value-nya adalah: memori, membuat kenangan tak terlupakan! Mendingan duit dipakai buat memori keluarga ‘kan daripada buat memori iPhone! Hehehe.

 

Terima kasih pada teman saya dari Perth yang sudah ikut mendorong, menemani, dan memandu selama perjalanan. Sekarang Anda harus tanggung jawab: karena kami ketagihan! Apa tujuan berikutnya? Tasmania? Queensland? Yuk, coba camper van!

 

Baca juga: “Rekomendasi Itinerary Eksplor Queensland Australia

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment