MEMANDANG PANTAI DARI ATAS BUKIT DI BATU SINDU TANJUNG SENUBING NATUNA 2020-08-15 00:00

Pemandangan di Batu Sindu, dari atas bukit ke arah pantai

 

Beberapa objek wisata di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau berupa hamparan batu-batu granit raksasa di pantai maupun di atas bukit. Salah satunya Batu Sindu yang berada di Tanjung Senubing yang masih masuk wilayah Kota Ranai, ibu kota dan gerbang masuk ke Natuna. Batu granit raksasa yang bermotif sulur-sulur alami menjadi penanda objek wisata andalan Natuna ini.

 

Batu Sindu dari Kota Ranai hanya berjarak 4,5 km, ditempuh berkendara 10 menit saja. Berada di Kecamatan Bunguran Timur, di pesisir timur Kota Ranai. Jalan aspal selebar hanya sekitar 2 m untuk mencapai lokasinya agak menanjak. Butuh kehati-hatian.

 

Jalan aspal menuju Batu Sindu

 

Baru tiba di area parkirnya yang berupa halaman rumput sudah terlihat formasi batu-batu granit besar yang seolah berebutan tempat dengan pohon kelapa dan pepohonan besar lainnya.

 

Formasi batu-batu besar dan pohon kelapa di area parkir

 

Dari area parkir ini untuk menuju lokasi utamanya kita harus jalan kaki di jalan setapak yang masih berupa tanah. Jalannya menurun, di beberapa bagian cukup licin dan sedikit curam, jadi harus hati-hati. Tidak ada pengaman apa pun. Makanya harus pakai alas kaki yang nyaman ya.

 

Jalan setapak menurun ke lokasi utama

 

Setelah jalan beberapa meter terlihatlah tanah lapang dengan rumput-rumput atau alang-alang yang cukup tinggi, di tengahnya ada batu besar. Di atas batu besar situlah biasanya wisatawan duduk-duduk atau berdiri menikmati pemandangan yang terhampar di depan mata. Kita bisa melihat garis pantai yang diseraki batu-batu besar. Yang paling menonjol ada di sisi pantai sebelah kanan, batu raksasa yang permukaannya bermotif sulur-sulur alami. Ini yang menjadi ikon Batu Sindu. Di kejauhan di antara laut biru tampak Pulau Senua yang berbentuk seperti wanita hamil yang sedang rebahan.

 

Jalan menyibak alang-alang untuk ke batu besar

 

Garis pantai yang diseraki batu-batuan besar. Di kejauhan tampak Pulau Senua

 

Inilah batu raksasa bermotif sulur-sulur yang ikonik

 

Kalau datang beramai-ramai, pecahlah menjadi tiga rombongan untuk keperluan berfoto. Jadi ada yang berjalan agak ke bawah tapi nggak perlu sampai pantai, sebagian besar di batu besar di tengah-tengah yang bisa dinaiki, dan ada juga yang tetap agak di atas.

 

Yang di bawah bisa memotret yang ramai-ramai duduk dan berdiri di batu besar dengan latar batu raksasa lainnya di belakang. Seperti foto di bawah ini.

 

Yang berdiri di batu besar bisa memotret ke arah bawah dengan latar batu ikonik bersulur di sebelah kanan dan Pulau Senua di kejauhan sebelah kiri. Seperti foto di bawah ini.

 

Nah orang yang paling atas bisa memotret rombongan di batu besar yang berbalik arah ke arah bukit/atas dengan latar batu ikonik dan lautan serta Pulau Senua di kejauhan seperti foto ini:

 

Di pantainya terdapat gua kuno. Sayangnya rombongan MyTrip hanya menikmati pemandangan dari atas, tidak turun ke bawah, jadi nggak melihat guanya. Kami juga nggak menikmati sunrise di sini yang katanya indaaaah.

 

Tapi menikmati pemandangan dengan hanya duduk atau berdiri di batu besar seperti yang kami lakukan memang hal paling asyik dan santai yang bisa dilakukan di sini. Kalau yang suka tantangan ya harus turun ke bawah. Kalau turun ke pantainya, selain bisa melihat guanya, juga bisa menikmati  pemandangan dari arah sebaliknya --dari garis pantai ke arah atas bukit yang penuh bebatuan granit besar aneka bentuk dan formasi, berserak dan bertumpuk-tumpuk.

 

Baca juga: “Serunya Berpose-Pose Ala Model di Tanjung Datuk Natuna

 

Menariknya, Batu Sindu di Tanjung Senubing ini juga menyimpan legenda. Konon ada sepasang kekasih, yang wanita berasal dari Dusun Tanjung Datuk dan yang pria berasal dari Tanjung Senubing. Perjalanan cinta mereka mulus hingga sampailah ke acara pinangan dan hantaran dari pihak laki-laki. Sayang, terjadi hal yang tak diinginkan saat acara berlangsung, di mana ada keluarga pihak laki-laki yang mencela jamuan yang disuguhkan keluarga si wanita. Tentu saja keluarga si wanita marah hingga melontarkan sumpah serapah. Sumpahnya adalah orang-orang dari Tanjung Datuk tak akan pernah lagi menyebut nama Tanjung Senubing, begitu pula sebaliknya. Acara pinangan pun gagal, ambyaaaar.

 

Jadi katanya ya... saat kita berada di Batu Sindu jangan menyebut Tanjung Datuk, kalau dilanggar, kita bisa dapat sial. Begitu juga sebaliknya. Apalagi kalau datang ke sini sama pasangan. Hehe, percaya nggak percaya deh.

 

Baca juga: “Mari Mengenal Natuna Lewat Pantai Batu Kasah

 

O ya, belum ada fasilitas apa-apa di sini, at least sampai Juli 2019 saat MyTrip berkunjung. Moga-moda ke depannya sudah dibangun fasilitas, paling tidak toilet dan fasilitas jalan setapak dan pegangan yang membuat pengunjung nyaman dan aman turun ke arah pantainya.

 

Cara ke Natuna silakan dibaca di sini.

Mau liburan ke Natuna? Hubungi MyTrip di mytripjustpackandgo@gmail.com atau WhatsApp Maya di 0811821006

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, fotografer ayokenatuna.com
Comment