MASSIMO DAN GUSTO, MAMA MIA LEZATO! 2020-12-30 21:30

Es krim Gusto

 

Buka resto Italia di Bali bukan perkara gampang. Dari Ultimo sampai Jamie Olivier rebutan bikin pizza dan pasta di pulau ini! Saking panasnya persaingan, konon sampai ada mafiosonya sendiri, wkwk! Dan yang bertahan, tentu saja, kalo nggak enak, ya enak sekali!

 

Massimo buka sejak 1996 di Sanur, dan selalu menjadi pilihan kami. Mumpung lagi jadi “sultan dalam dua malam” (ditunggu tulisannya ya…), kami jalan kaki dari hotel ke tempat di tikungan Jalan Danau Tamblingan ini. Rupanya sudah ruame, orang pada antre gelato termurah (dan salah satu terenak) se-Republik Indonesia. Ya, gelato Massimo --dengan lemon sorbet dan dark chocolate-- emang jadi sasaran turis yang ke sini.

 

Baca juga: "Les Is More! More! More! (Bagian 1-Makan Siang)"

 

Namun, kami ke sini bukan karena gelato, tapi karena cireng! Apa itu cireng Massimo? Nama resminya “welcome bread”, semacam baked dough balls Pizza Marzano yang diberi bumbu. Mata anak-anak membelalak melihat bola-bola mini ini, langsung ambil garpu siap mengunyah. Tapi, si bungsu mendadak mogok. Nyang ini memang lebih punya gen bakat kuliner saya, hehehe. “Papi, ada spageti?” katanya bertanya. Ada, Dik! Ini Massimo!

 

Makan “cireng” di Massimo

 

Kami memesan spageti untuk anak-anak bersaus keju, kesukaan si bungsu, yang namanya Rapunzel. Si sulung minta “pizza keju” yang namanya margherita. Karena risiko harus menghabiskan makanan anak-anak, kami harus berpikir keras. “Cobain Calzone Frutti di Mare deh, calzone seafood!” kata pang-enam (sebutan untuk istri saya) memutuskan. Oke, siap!

 

Calzone Frutti di Mare

 

Pesanan datang, pesta dimulai! Si bungsu langsung sibuk melahap spageti, sementara si sulung gantian mengunyah cireng dan pizza. Kami berdua memutuskan memesan bir, dibagi dua, untuk merayakan makan malam ini. Saya sedang sibuk menghitung arah angin kipas di atas kami (maklum zaman kopid) serta mengawasi satu pelayan yang kelihatannya pilek, ketika pizza calzone tiba. Hmm, gambling! Kenapa nggak pesan quattro formaggio saja? Duh, sudah terlambat.

 

Calzone adalah “pizza kebalik” kayak martabak telor Aceh: isinya di dalam, rotinya di luar. Ini membuat sulit menebak isinya, karena bisa jadi soggy di dalamnya. Tapi ketika saya potong, wow! Uap keluar dari dalam, mengantarkan aroma laut, tomat, dan keju langsung ke hidung saya. Rotinya punya chewyness sempurna, rasanya tebal dengan tekstur keras di luar. Dan yang hebat adalah: semua isinya, baik udang maupun cumi, matang sempurna! Tidak kematangan, tidak amis. Amboi! Mengingatkan saya pada papillote, teknik Prancis yang memasak dalam kertas untuk melanggengkan aromanya. Mak nyus!

 

Sempet nyobain Burrata sebagai appetizer

 

Dan ketika kami makan, keluarlah Massimo Sacco --pendiri restoran ini. Dengan santai berkaus hijau, dia ramah menyapa setiap meja. “How is the food? Everything OK?” tanyanya kepada saya, yang masih speechless karena mulut penuh cumi saus tomat dan keju, hehe. Saya mengangkat jempol, dan dia mengangguk senang. Duh, kalo nggak inget korona, udah saya ajak wefie nih! Inilah akar dari sebuah rumah makan Italia --sangat personal, di mana pemiliknya betul-betul sayang pada tempatnya, bukan sekadar cari cuan belaka. Mak nyus!

 

Soal es krim, izinkan saya loncat agak jauh, ke Gusto Gelato di Mertanadi. Gusto adalah raksasa es krim Bali! Dan di zaman korona ini Gusto masih penuh sesak. Saya bergidik melihat antrean di depan, sementara anak-anak sudah pasang puppy eyes minta es krim. “Makan di mobil saja, biar papi yang turun!” kata saya bak pahlawan. Padahal, pengen sekalian cuci mata, hihihik!

 

Baca juga: "Les Is More! More! More! (Bagian 2-Sentra Produksi Desa)"

 

Bermasker dobel, dan membawa tray plastik untuk bawa es krim, saya bersiap masuk antrean. Bayar dulu di kanan --masih 30K satu cup kecil dua rasa. Lalu, saya antre, di antara belasan orang mengular dalam satu ruangan. Eh bisa lho, sepasang muda-mudi nampak santuy tanpa masker. “Kamu dek es grim rasa apa?” kata si cowok. Jiah, kalo bener-bener cinta, suruh dia pakai masker! Pikir saya.

 

Es krim Gusto

 

Setelah lama mengantre (cukup lama untuk menyelesaikan tulisan review Coklat Mason), saya sampai pada pilihan sulit. Si sulung coklat, si bungsu vanilla. Pang-enam coklat chili dan mint. Saya?

 

Hmm... Mau yang pasti enak... eksperimental... atau apa nih? Pengen coklat chili sih. Sialnya, saya dan pang-enam berikrar sehidup semati, tapi urusan es krim sendiri-sendiri! Namun, stempel “Indonesia Flavor” menggoda rasa nasionalisme saya. “Saya pesan sorbet rasa sambal hijau, dan satu lagi rasa bika ambon pandan!” kata saya. Merdeka!!! Mudah-mudahan enak...

 

Gusto ini menurut saya jagoan dalam mendesain rasa. Es krim rasa jahenya mungkin bukan berisi parutan jahe, tapi kalo dimakan ya... rasa jahe! Dan dalam mencoba mengkreasikan rasa sambal hijau menjadi es krim, usahanya patut diacungi jempol. Gusto mencampurkan rasa jahe, kemangi (aroma daun), dan mint yang tajam aftertaste-nya untuk meniru sensasi pedas sambal hijau. Rasa panas didapat dari jahe. Hey! Dapat juga, mirip sambal ulek hejo ala ayam goreng Bandung, tanpa aroma bawangnya. Jenius!

 

Gelato asli Indonesia rasa sambal hijau!

 

Dan rasa “bika ambon pandan”-nya membuat saya tercengang. Aroma pandan dan warna hijau tentu ada, namun yang istimiwir adalah adanya kotak-kotak kecil chewy seukuran cingcau hitam, yang aromanya bertepung, sehingga membawa tekstur dan rasa tepung adonan bika ambon beneran ketika dikulum. Edhyan tenan ini! Menarik!

 

“Papi, ini apa ada black-black?” tanya si sulung yang mencicipi vanilla adiknya. “Nak, itu adalah vanilla pod beneran yang diblender, membawa rasa vanilla asli!” Jiah... pantesan enak. Lalu komentar si sulung juga soal yang coklat... “Mirip sama es krim yang kita makan di mal”. Hah, es krim mal? Yang mana? 

 

Rupanya... sebelum ke Bali, kami sempat ke Plaza Indonesia, dan ikut antre mencicip sebuah es krim impor asal Spanyol dengan harga tiga kali lipat dari Gusto ini. Dan rasanya, aroma coklatnya, kelembutannya, mirip sekali!

 

Duh Gusto, kapan ya buka cabang di Serpong???

 

Massimo

Jl. Danau Tamblingan 228

Sanur, Bali

 

Gusto Gelato

Jl. Mertanadi 46B

Seminyak, Bali

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment