SANGHYANG HEULEUT DAN SANGHYANG POEK, MENIKMATI DANAU DAN GUA SEKALIGUS 2021-12-14 00:00

Spot utama Sanghyang Heuleut

 

Sanghyang Heuleut itu danau yang terbentuk dari aliran Sungai Citarum purba dengan tebing batu-batu mengelilinginya, sedangkan Sanghyang Poek itu batu purba raksasa yang memiliki rongga-rongga gua di dalamnya, berada di aliran sungai yang sama. Keduanya bisa langsung dieksplor dalam satu kunjungan. Berada di Kabupaten Bandung Barat.

 

Sayangnya, saya dan beberapa teman masuk ke Sanghyang Heuleut dari parkiran Geopark Batu Aki, karena kami melihat ada penanda bertuliskan “Sanghyang Heuleut” juga di situ. Rutenya lebih melelahkan, naik turun bukit di dalam hutan. Total durasi jalan santai termasuk istirahat 1 jam 15 menit.

 

Rute trekking dari Batu Aki

 

Tibalah kami di Sanghyang Heuleut

 

Padahal ada rute lain yang lebih landai, nggak banyak naik turun, dari Sanghyang Poek, walaupun secara durasi hampir sama, 1 jam 15 menit. Pulangnya kami lewat rute ini, dan di ujung rute terdapatlah batu raksasa Sanghyang Poek itu. Sudah hampir jam 5 sore dan sudah kelelahan --karena sebelumnya kami ke Sungai Cikahuripan dulu, jadi kami memutuskan nggak memasuki guanya, hanya melewati sampingnya aja, untuk mencapai lokasi parkir di dekat PLTA Saguling.  

 

Kami melewati jalur samping Gua Sanghyang Poek

 

Salah satu pintu masuk gua. Total pintunya ada 5

 

APA YANG BISA DINIKMATI DI SANGHYANG HEULEUT?

Begitu tiba, kami hanya melihat aliran sungai yang di bagian hulunya ada air terjun kecil --bahkan sangat pendek-- yang dikepung batu besar-besar. Airnya pun coklat, bukan hijau seperti di foto-foto, tapi memang bening sih. Ini memang bukan spot utamanya.

 

Penampakan awal Sanghyang Heuleut

 

Kami harus berjalan sedikit lagi melompati batu-batu besar itu, sesekali melewati jembatan kayu, untuk mencapai spot utamanya, ya yang berupa danau itu. Tapi jangan berpikir danaunya besar ya. Disebutnya danau, tapi sebenarnya hanya bagian aliran sungai yang membesar karena airnya terkepung bebatuan besar.

 

Berjalan lagi melewati batu-batu besar dan jembatan kayu untuk ke spot utamanya

 

Saat kami datang, 22 November 2021, air danaunya sama seperti aliran di bawahnya yang lebih dulu kami lihat, coklat tapi cukup bening. Wajar, karena kami datang di musim hujan. Kalau datang di musim kemarau, katanya, airnya lebih hijau.

 

Kami dibantu pemandu untuk mencapai lokasi batu di seberang, supaya bisa berfoto di angle favorit, seperti di bawah ini.

 

Dibantu pemandu untuk mencapai batu di seberang

 

Mencapai batu di seberang, dari sinilah memotret angle utamanya

 

Karena hari Senin, pengunjung nggak terlalu banyak, dan beberapa anak remaja yang tadinya berenang-renang di spot utama, sudah beranjak karena menjelang sore. Jadilah kami bisa leluasa berfoto tanpa bocor.

 

Leluasa berfoto tanpa bocor di spot utama Sanghyang Heuleut

 

Dari angle tertentu, batu besar yang juga menjadi landasan untuk melompat ke air ini ternyata mirip godzilla sedang berendam.

 

Batu ini mirip godzilla sedang berendam

 

Dari angle yang berbeda tak tampak seperti godzilla

 

Landasan untuk melompat ke air yang lebih tinggi dan lebih favorit berada di seberang batu yang mirip godzilla. Di foto di bawah ini terlihat di sisi kanan, batu yang miring itu lho…. Di situlah biasanya pengunjung yang bernyali melompat ke air. Dan di danau itulah biasanya pengunjung berenang-renang dengan mengenakan pelampung yang disewakan seharga Rp15.000-20.000. Ya, buat yang nggak bisa atau kurang mahir berenang, wajib pakai pelampung karena airnya dalam.

 

Puncak batu yang miring di sebelah kanan, titik untuk lompat ke air

 

Ada juga danau/kolam yang lebih luas di depan danau utamanya. Trippers bisa memilih berenang-renang di sini kalau spot utamanya penuh. Saya sih sama sekali nggak terjun ke air, begitu juga teman-teman. Kami hanya menikmati pemandangan sekitar yang menenangkan dan berfoto tentunya. Buat yang mau basah-basahan, kamar bilas ada, tapi sepanjang yang saya lihat jumlahnya sangat sedikit, jadi antre deh. Nggak kebayang berapa lama antre kalau pengunjung lagi banyak.

 

Danau lain di depan danau utamanya

 

Warung-warung minuman dan Indomie ada di sepanjang sisi sungai. Jadi aman untuk urusan perut dan dahaga.

 

ASAL-USULNYA

Danau Sanghyang Heuleut ini konon terbentuk akibat letusan gunung api purba yang bernama Gunung Sunda. Layaknya gunung yang meletus, ia mengeluarkan batu-batuan besar yang kemudian secara acak membentuk tebing-tebing batu sekaligus juga cekungan di tengahnya. Cekungan ini lalu dialiri aliran Sungai Citarum purba hingga terbentuklah sebuah danau kecil.

 

Danau Sanghyang Heuleut, akibat letusan gunung api purba

 

Hasil letusan Gunung Sunda itu juga menghasilkan Gua Sanghyang Poek dan Gua Sanghyang Tikoro. Sanghyang Poek kami lalui dalam perjalanan kembali ke lokasi parkir (lokasi parkir yang berbeda dari lokasi parkir kami di Geopark Batu Aki). Sanghyang Tikoro hanya sempat kami lihat dari kejauhan, di dekat PLTA Saguling, tak jauh dari lokasi parkir.

 

Foto-foto dulu di Sanghyang Poek

 

Pipa raksasa PLTA Saguling

 

Mengenai artinya, Sanghyang itu sesuatu atau tempat yang dianggap suci, atau bisa diartikan juga sebagai bidadari, dan Heuleut berarti jeda atau selang antara dua waktu. Konon dulunya di tempat inilah para bidadari mandi saat turun dari langit. Dipercaya, para bidadari memiliki dimensi waktu yang berbeda dengan manusia.

 

Baca juga: "Panduan Lengkap & Terkini Eksplor Pantai Pangandaran"

 

CARA KE SINI

Sanghyang Heuleut berada di Rajamandala Kulon Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat, dekat PLTA Saguling, di perbatasan antara Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta.

 

Dari Jakarta ke Sanghyang Heuleut dan Poek menempuh jarak +/-150 km, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Ambil Tol Cikampek, lanjut Tol Cipularang, keluar di Padalarang/Cikalong/Cianjur, sama dengan rute ke Sungai Cikahuripan.

 

Jalur trekking kalau masuknya dari Sanghyang Poek relatif datar, melewati kebun pisang, hutan, dan aliran sungai dengan batu-batunya. Gunakan sepatu yang kasar solnya karena beberapa batu yang dipijak licin apalagi jika habis hujan.

 

Rute dari Sanghyang Poek, dominan landai

 

Harga tiket total 2 objek Rp20.000. Karena kami masuk dari Batu Aki dan ketemu Sanghyang Heuleut dulu, kami ditagih tiket Rp15.000. Lalu keluar lewat Sanghyang Poek ditagih tiket lagi Rp5.000. Sewa pemandu satu rombongan kecil Rp80.000. 

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Hendra Yuwono, Herlany Gunawan, Mayawati NH
Comment