SA CAP MEH, TRADISI MAKAN KELUARGA DI TAHUN BARU IMLEK 2022-02-01 12:50

Delapan hidangan untuk Sa Cap Meh

 

Tahun-tahun bisa buruk

Tahun-tahun bisa baik

Tetapi tahun-tahun selalu berlalu

(Pepatah Tiongkok

 

Sa Cap Meh adalah bahasa Hokkian yang artinya “malam tanggal tiga puluh”, menandakan malam terakhir sebelum Tahun Baru Imlek keesokan harinya. Malam ini menjadi penting di kalangan orang Tionghoa, karena menandakan berakhirnya satu tahun dan dimulainya tahun yang baru.

 

Suasana perayaan Sa Cap Meh di Kota Jambi tempat saya berada sekarang masih sarat dengan tradisi yang dipertahankan. Mulai pagi hari, satu hari sebelum Imlek, jalanan di sekitar pecinan Jambi terlihat ramai. Pusat keramaian terutama di toko buah, yang mendadak memajang banyak sekali nanas, jeruk bali, jeruk, dan apel. Buah-buahan ini akan dipakai untuk sembahyang persembahan pada leluhur. Beberapa motor nampak berseliweran membawa batang tebu. Ya! Tebu juga biasanya dipajang di samping pintu, yang rasa manisnya membawa harapan agar tahun depan manis rejekinya.

 

Baca juga: “Ini Dia Legenda di Balik Tahun Baru Imlek yang Serba Merah

 

Berbeda dengan Jakarta, di Jambi budaya Tionghoa bahwa selama Imlek tempat usaha tidak boleh buka masih dipertahankan. Dari satu hari sebelum Imlek, sampai hari ketiga setelah Imlek (total empat hari), hampir semua restoran Tionghoa akan tutup. Jadi, justru di keluarga Tionghoa Jambi, memori makan Sa Cap Meh bukanlah makan di restoran, melainkan makan di rumah masing-masing! Boleh memasak sendiri, atau memesan makanan dan menjadi rejeki bagi dapur “buka PO”. Tradisi yang memaksa restoran beristirahat dan berbagi rejeki di tahun baru, mirip dengan tutupnya rumah makan padang selama bulan puasa. Menarik!

 

Itulah sebabnya makna malam Sa Cap Meh berpusat di rumah. Mulai dari bebersih rumah, lalu menyiapkan meja persembahan untuk leluhur, dan kemudian sembahyang dengan membakar kertas uang dan hio. Sorenya, fokusnya harus satu: masak! Dan bukan sembarang masak. Karena, harus ada delapan macam hidangan di atas meja, yang cukup untuk 10-20 orang tergantung keluarga yang akan datang. Delapan macam hidangan ini melambangkan keberuntungan di tahun baru.

 

Meja persembahan untuk leluhur

 

Hidangan yang wajib ada: mie goreng, atau berbagai jenis mie. Bisa bihun atau misoa, pokoknya yang panjang-panjang, melambangkan panjang umur. Kemudian, kacang polong: entah bagaimana sejarahnya, kacang polong selalu dianggap sebagai “simbol kemewahan” yang harus ada di malam tahun baru. Ini bisa jadi pengaruh Belanda di Indonesia, karena kacang polong biasanya adalah komponen hidangan Eropa. Kemudian, harus ada sup. Kali ini, kami memasak sup perut ikan, bahan yang cukup mahal dan menjadi simbol perayaan juga. Lalu, gohiong atau adonan ayam dan udang yang dibungkus kulit kembang tahu dan digoreng. Sisanya, empat jenis hidangan lagi, bisa dibuat sesuai selera. Mantap!

 

Mie goreng

 

Kacang polong

 

Sup perut ikan

 

Gohiong goreng

 

 

Di sinilah selera lokal berpadu dengan tradisi. Untuk keluarga kami, empat hidangan sisanya adalah ayam goreng, udang petai, ayam rebus, dan bebek panggang --satu-satunya hidangan yang dibeli, bukan masak sendiri. Udang petai ini khas Jambi: tumisan udang dengan bumbu pedas, dengan petai yang melimpah. Petai Jambi berbeda dengan petai Bogor: bentuknya kecil-kecil, lebih renyah dan nutty, sehingga meskipun banyak jumlahnya tidak akan membuat eneg. Aromanya tidak sekuat Bogor, tapi “aftertaste”-nya (after banget, yang di toilet kemudian), lumayan bombastis!

 

Ayam goreng

 

Udang petai

 

Ayam rebus

 

Bebek panggang

 

Rekan yang di Jakarta dengan leluhur dari Pontianak punya hidangan variasi Sa Cap Meh berbeda: gado-gado, bakut (iga babi) sayur asin, ayam arak, dan babi panggang. Terlihat bahwa budaya fermentasi nampak kuat dengan adanya sawi asin dan cuka. Sawi asin membutuhkan fermentasi selama 4-5 hari, yang ketika difermentasi diberi nanas atau tebu supaya sedikit manis. Mula-mula sawi dijemur, lalu diremas-remas dengan garam. Kemudian sawi direndam dalam air kelapa atau air beras yang membuat bakteri berkembang dan memfermentasikan sawi. Hidangannya bisa berupa sup iga atau tumisan tahu dan tauge. Ayam arak juga unik: nama mandarinnya “nen yi mu cao”: ayam yang direbus dan dibumbui arak merah dan arak putih serta “kachiangma”, rempah daun yang dikeringkan setelah dioseng dan diolah. Rasanya pahit dengan aroma herbal khas, sekilas mirip oregano ala Italia tapi versi alkohol! Menarik!

 

Gado-gado

 

Bakut (iga babi) sayur asin

 

Ayam arak Pontianak

 

Setelah hidangan selesai, waktunya dessert! Di Jambi, waktu Imlek biasanya berdekatan dengan musim durian. Maka bersimpuhlah para rakyat menghadap sang raja buah! Semua duduk bersila menanti durian yang sedang dibelah, kali ini dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Durian lokal memang tidak secanggih durian impor rasanya, namun rasanya mengejutkan. Kalau dapat yang enak --manis, sedikit pahit, dengan tekstur lembut bak mentega Perancis-- rasanya seperti menang lotre!

 

Berbeda dengan kesannya yang serba “glamor”, sebenarnya Tahun Baru Imlek bukan soal rejeki atau uang, melainkan pentingnya nilai keluarga. Melalui budaya ini, keluarga “dipaksa” bekerja sama minimal setahun sekali: membersihkan rumah, memasak, menyiapkan persembahan. Dalam proses ini, ada perasaan yang tertumpah, ada curhatan yang mengalir, membuat hati lega dan siap menyongsong tahun baru. Meskipun dalam masa pandemi banyak yang terpaksa mengurangi kunjungan sampai hanya keluarga inti, besar harapan bahwa tradisi keluarga ini tetap berlanjut sesudah pandemi berlalu. Kalau kerbau masih gagal memunahkan korona, semoga auman macan air mampu mengusirnya dari bumi Indonesia! Selamat Tahun Baru Imlek 2573!

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin) Foto: Harnaz Tagore, Nathalia
Comment