PANDUAN LENGKAP & TERKINI KE CURUG WALET DI BOGOR 2021-08-30 00:00

Curug Walet, angle terbaiknya, terlihat 3 tingkatannya

 

Kalau makna ngetrip buat kalian bukan seberapa jauh destinasinya dan bukan melulu harus dengan naik pesawat, maka masa pandemi ini, di mana PPKM diberlakukan sambung-menyambung, sebenarnya sama sekali nggak masalah. Karena ada begitu banyak objek  wisata yang tak terlalu jauh dari rumah. Di mana pun kalian tinggal, MyTrip yakin, kalian akan dengan mudah menemukan objek wisata yang bisa memuaskan dahaga liburan. Buat warga Jabodetabek, primadonanya tentu Kabupaten Bogor. Kali ini MyTrip akan memandu kalian mengeksplor Curug Walet di Desa Ciasihan Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

Baca juga: "Rute Lengkap ke Curug Jagapati di Garut dan Kondisi Trekkingnya. Silakan Dibaca di Sini Ya..."

 

BAGAIMANA RUTE KE SANA?

Memang lokasinya cukup jauh dari Jakarta. Pakai patokan dari Stasiun Cawang Jakarta Timur jaraknya 81 km, dan ditempuh dengan mobil sekitar 2,5-3 jam. Nggak ada angkot yang sampai ke lokasi, jadi pakai mobil atau motor pribadi ya.

 

Rutenya kurang lebih sebagai berikut:

- Masuk Tol Jagorawi arah ke Bogor.

- Keluar gerbang Tol Sentul Selatan, tapi langsung ambil lajur kanan menuju Tol Lingkar Luar Bogor. Keluar di gerbang Yasmin-Dramaga, masuk Jl. Sholeh Iskandar.

- Belok kiri, masuk Jl. KHR Abdullah Bin Nuh.

- Belok kanan ke Jl. Cifor, lalu pada belokan kiri pertama, sekitar 250 m jaraknya, belok kiri. Lalu sekitar 500 m kemudian belok kanan, masuk ke Jl. Raya Dramaga-Bogor.

- Menyusuri Jl. Raya Dramaga-Bogor sekitar 12 km, baru kemudian belok kiri ke Jl. Kapten Dasuki Bakri. Susuri jalan ini, sampai jalan mengecil, kelak-kelok, masuk jalan desa. Ikuti saja petunjuk Google Maps, sampai nanti ketemu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

 

Gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak

 

Di gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak kita diminta membayar retribusi Rp10.000 per orang. Tapi ini bukan tiket masuk curug ya. Karena dari sini mobil kita masih harus melalui jalan perkampungan yang dibeton yang hanya cukup dilewati satu mobil, dan menanjak. Pemandangan di kiri kanan jalan sudah mulai menghibur mata, dengan barisan gunung dan persawahan.

 

Jalan beton sempit menanjak

 

Pemandangan gunung dan sawah

 

Sekitar 10 menit dari gerbang, tibalah kita di area parkir dengan tulisan “Parkiran Mobil Terakhir di Sini”. Tapi kok ini tulisannya Curug Seribu? Ya, ternyata inilah rute masuk lain ke Curug Seribu. Sebelum Curug Seribu, ada juga jalan masuk menuju Curug Kiara dan Curug Batu Bolong. Memang di area ini banyak sekali terdapat curug.

 

Area parkir, sama dengan area parkir Curug Seribu

 

TREKKINGNYA SEBERAPA JAUH?

Trek awalnya masih berupa jalan beton di antara persawahan yang sebenarnya masih bisa dilalui mobil, dan ternyata ada lagi lahan parkir mobil, tapi MyTrip anjurkan parkir di area Curug Seribu saja. Karena jalannya makin sempit dan curam menanjak.

 

Jalan beton di antara persawahan

 

Ketemu jalan kecil yang lurus, dan jalan beton ke kanan, ada plang petunjuk di sini, ke Curug Walet ke kanan, ikuti jalan beton. Lalu jalan berubah mengecil, dan tak jauh dari situ ada lokasi parkir motor terakhir dan ada warung.

 

Ke Curug Walet ke kanan

 

Jalan berubah mengecil

 

Lokasi parkir motor terakhir dan warung

 

Dari situ naik sedikit, ada belokan ke kanan ke Setu Biru Camping Ground, untuk ke Curug Walet kita lurus saja. Di sebelah kiri tampak persawahan berundak dan berlatar gunung. Bolehlah istirahat dulu di sini sambil melihat pemandangan. Setelah itu jalan makin menanjak dan hanya berupa jalur setapak berbatu.

 

Ada belokan ke kanan ke Setu Biru Camping Ground

 

Persawahan berundak dan berlatar gunung

 

Jalur setapak berbatu

 

Trek berikutnya undak-undakan batu, ada penanda Curug Bungsu, jangan bingung, ikuti saja. Memang sampai sini masih satu rute dengan Curug Bungsu.

 

Di sini masih sama arahnya dengan ke Curug Bungsu

 

Setelah itu barulah trek menyusuri sungai kecil, kita harus berjalan di tembok pembatas sungai selebar 30 cm. Nggak sulit sih, tapi perlu hati-hati saat melewati aliran air yang sangat deras.

 

Berjalan di tembok pembatas sungai kecil selebar 30 cm

 

Hati-hati saat melewati aliran air yang sangat deras

 

Setelah berjalan santai 30-40 menit, sampailah di gerbang Curug Walet. Ada jalan ke kanan, itu rute ke Curug Bungsu dan Curug Love. Di gerbang ini kita bayar retribusi per orang Rp20.000. Ada warung juga di sini.

 

Gerbang Curug Walet

 

Loket tiket dan setelah itu trek menurun terus

 

Dari sini treknya menurun terus, cukup curam. Tapi aman karena ada undak-undakan batunya. Memang curug ini sudah dikelola dengan baik oleh warga.

 

Menurun curam, undak-undakan batu

 

Sekitar 10 menit jalan menurun, tibalah kita di jembatan bambu. Seberangi, belok kanan, di situ kita akan melihat Curug Payung. Curugnya cukup tinggi, tapi waktu kami datang aliran airnya kurang deras. Tapi buat pehobi foto, curug ini menjadi objek yang tak boleh dilewatkan. Apalagi kalau angle fotonya bukan dari arah datang, tapi arah pulang. Jadi total trekking sampai Curug Payung 40-50 menit.

 

Jembatan bambu

 

Area Curug Payung

 

Curug Payung difoto dari arah pulang

 

Trek selanjutnya menuju lokasi akhir Curug Walet sangat bervariasi, tapi sudah nggak jauh, sekitar 5 menit lagi. Kita mengikuti tepi kiri aliran air, melompati atau menaiki batu-batu besar, melewati aliran air, menaiki undakan batu, merunduk di bawah tebing batu hingga ke bagian bawah anak tangga menuju curug terakhir. Kiri-kanannya berupa tebing tinggi yang diselimuti pepohonan hijau. Rutenya ini terlihat di foto-foto berikut.

 

Menaiki undakan batu

 

Merunduk di bawah tebing batu

 

Menaiki anak tangga menuju curug terakhir

 

Setelah tangga, masih harus memanjat batu untuk mencapai curug terakhir/teratas. Untung batunya nggak licin, tapi tetap harus hati-hati

 

SPOT TERBAIKNYA

Area sebelum anak tangga terakhir adalah sudut pengambilan foto terbaik Curug Walet. Karena dari sini tiga tingkatan curug terlihat.

 

Inilah spot terbaiknya

 

Tiap tingkat curug di bawahnya ada kedung atau leuwi atau kolam alaminya. Tapi saat debit air besar, hanya kolam ketiga yang aman untuk direnangi. Berenang di kolam teratas ada risiko terkena limpahan air terjun dan terseret ke bawah. Kolam kedua, kalau luber juga bisa menyeret ke bawah, jaraknya cukup tinggi.

 

Curug dan kolam teratas

 

Curug dan kolam kedua

 

Curug dan kolam ketiga

 

Nah, makanya para penggemar foto menggelar floaties untuk berfoto di kolam ketiga, area di bawah anak tangga. Selain lebih aman, dan ya karena spot terbaik.

 

MENGAPA NAMANYA CURUG WALET?

Karena banyak burung walet bersarang di pepohonan maupun tebing-tebing batu di sekitar curug. Tapi MyTrip sih nggak melihatnya.

 

Selain 3 curug, ada juga cipratan air di tebing curug teratas

 

ANEKA TIPS

- Pakai sendal gunung.

- Kenakan pakaian yang nyaman untuk aktivitas naik turun.

- Bawa air minum yang cukup karena warung terakhir berada di loket tiket.

- Bawa juga makanan kecil supaya nggak kelaparan terutama kalau melewati waktu makan siang.

- Kalau mau basah-basahan di curug, baju ganti nggak perlu dibawa trekking karena kamar bilas terdapat di area parkir.

 

Jadi jangan sedih karena belum bisa pergi jauh-jauh, ke curug aja…. 

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Welly Yaptianto
Comment