MANGOT MAOOOT, SENGATAN SEDAP DI UNGARAN 2022-06-30 22:55

Mangut ikan pari di Mangot Maooot

 

Sebelum sampai ke lokasi, kami melalui jalanan kecil naik-turun bukit dengan pemandangan indah ke arah Bukit Ungaran. “Jangan kaget Pak, sebenarnya jalannya sangat dekat dari akses jalan tol. Ini kita lewat jalan tikus karena menghindari macet…” kata teman yang mengantar. Kami meluncur menuju sebuah pertigaan kemudian membelok ke kanan, dan sampailah kami di lokasi warung. “Bismillah Buka” kata spanduk di depan pintu.

 

Saya langsung merekam jalan masuk untuk dipos di Instagram. Hidden gem bangets! Jalannya sempit, namun warung sudah riuh rendah dengan pengunjung yang bersantap siang. Menunya unik, dan kedua teman saya yang jago makan, sudah siap dengan rekomendasi. “Pindang srani, dengan ikan barakuda, lalu mangut ikan pari, dan jangan lupa gorengannya ya!” kata mereka. Pindang srani? Gorengan? Kita ‘kan di Ungaran Jawa Tengah, bukan di Kampung Tugu Jakarta! Kok ada hidangan seperti ini? Nama tempatnya pun unik: Mangot Maooot!

 

Mangot Maooot

 

Pindang srani hadir dengan penampakan otentik: kuahnya bening kuning, dengan cabai dan tomat yang mengambang. Lalu daging ikan yang dipotong melintang nampak cantik di tengah mangkuk. Wow! Kuliner peninggalan Portugis ini rupanya ada juga di sini. Rasanya sedap, otentik! Ikannya dimasak dengan pas, sehingga dagingnya lembut. Kuahnya segar, dengan sedikit tarikan asam, gurih kaldu ikan, dan rempah rimpang yang digeprek (tidak ditumis) sehingga sedap rasanya. Ketika sedang makan, datanglah pesanan berikutnya: gorengan dan mangut ikan pari!

 

Pindang srani

 

Gorengannya adalah bala-bala, yang digoreng sedikit-sedikit sehingga tetap segar. Ketika saya gigit, kriuk! Paduan sempurna antara tepung terigu dan tepung beras menyambut dengan nikmat, dan memang sayuran dalam adonan renyah dan sedap. Dalam sekejap, isi piring langsung ludes! Kemudian mangut parinya. Saya agak bingung gimana caranya makan srani yang segar digabung dengan mangut yang gurih aromatik! Saya ambil strategi untuk bagi dua di piring: kiri srani, kanan mangut!

 

Gorengan bala-bala dahsyat

 

Mangut adalah hidangan dengan tingkat kesulitan tinggi. Ini bukan gulai, bukan juga opor. Lebih herbal, dengan kuah kental, dan aroma kaldu ikan --kalau ikan pari, ditambah rasa smoky dari parinya. Dan si Mangoot ini emang Maooot! Potongan daging ikan parinya generous, rempahnya terasa sedap. Mangut yang dieksekusi dengan sempurna! Dengan strategi kiri dan kanan tadi, nasi di piring saya segera ludes dengan sukses…

 

Wajan yang berisi mangut ikan pari

 

Tak kalah dengan resto kelas atas, warung ini juga punya dessert! Hidangannya khas: namanya “plecing glandir”. Bahannya dari daun ubi jalar yang direbus, kemudian disajikan dengan saus asam dan gula jawa. Menarik! Mirip dengan “brambang asem” di Solo. Daun ubi jalar di sini sangat unik posisinya: jarang ada, namun tak tergantikan! Daun ubi jalar lembut namun batangnya renyah, sehingga teksturnya pas. Kalau glandir habis, biasanya diganti bayam, namun tidak bisa menghasilkan kerenyahan sempurna karena bayam cenderung lembut sekali. Saya pun menikmati plecing glandir ini sambil mengunyah bala-bala dari piring kedua. “Mau bungkus seperti biasa Pak?” kata Mbaknya kepada teman saya. Rupanya, beliau sudah terkena sengatan Maoot dari si Mangot Maoot ini! Yuk, mampir dan cicipi sengatan sedapnya!

 

Plecing glandir

 

Mangot Maooot

Jl. MT Haryono No 63

Ungaran, Jawa Tengah

No. HP: 0822 2022 0198

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment