WISATA ANTIMAINSTREAM KE PEMAKAMAN BELANDA DI JAKARTA, MENYERAMKANKAH? 2022-11-07 22:50

 

Di Minggu siang yang terik saya dan suami memutuskan untuk mengunjungi Pemakaman Belanda (Ereveld Menteng Pulo) di daerah Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan. Kompleks pemakaman seluas 4 ha tersebut  tidak jauh dari kompleks pemakaman umum Menteng Pulo. Sekilas kompleks ini tertutup tetapi setelah memencet bel maka tak lama petugas muncul untuk membukakan gerbang menuju kompleks pemakaman.

 

Suasana sunyi dan damai langsung menyeruak begitu kami menaiki tangga menuju kompleks pemakaman. Lalu…woooww langsung terpampang di depan mata deretan nisan berbentuk salib yang rapi berjajar serta rumput dan bunga yang terpelihara dengan sangat baik. Kami pun dipersilakan menulis di buku tamu yang telah terbuka di pendopo sebelah kiri, dan ternyata sebelum kami, tertera ada nama “berbau” Belanda. Setelah membaca keterangan di papan pengumuman depan pendopo, kami pun langsung berkeliling makam.

 

Pintu masuk Everveld Menteng Pulo dengan latar belakang gedung-gedung tinggi

 

Terdapat lebih dari 4.000 korban Perang Dunia Kedua baik orang Belanda maupun orang Indonesia yang gugur melawan tentara Jepang (1941-1945) ataupun yang gugur di masa revolusi setelah Perang Dunia Kedua dimakamkan di sini. Makam ini diresmikan pada tanggal 8 Desember 1947 dan dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogs Graven Stichting). Ereveld Menteng Pulo merupakan salah satu dari 7 makam kehormatan Belanda di Indonesia yaitu Ancol (Jakarta), Pandu (Bandung), Leuwigajah (Cimahi), Kalibanteng(Semarang), Candi (Semarang), dan Kembang Kuning (Surabaya). Selain di Indonesia, pemakaman kehormatan ini juga ada di negara-negara lain seperti di Thailand, Myanmar, Australia dan Korea, karena begitu banyak tawanan perang orang Belanda yang dipekerjakan secara paksa oleh pendudukan Jepang untuk membangun jembatan, jalur kereta api dan lain-lain di negara-negara tersebut.

 

Ternyata hanya seperempat korban perang yang dimakamkan di Ereveld Menteng Pulo ini yang dulunya merupakan tentara berdinas militer, baik tentara kerajaan Belanda maupun tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger). Dari nama-nama yang terulis di makam, kita dapat menyimpulkan bahwa  bukan hanya pribumi Indonesia yang direkrut sebagai tentara KNIL, melainkan orang Tionghoa, Arab dan India juga. Sedihnya, kalau melihat tahun kelahiran dan kematian di nisan, kami perkirakan usia mereka kebanyakan masih di awal 20-an.

 

Deretan makam orang pribumi Muslim yang merupakan tentara-tentara KNIL

 

Sebagian besar korban yang dimakamkan di sini merupakan orang sipil (baik pria,wanita maupun anak-anak) yang wafat di kamp konsentrasi Jepang selama masa Perang Dunia Kedua. Para korban perang di sekitar Jakarta memang langsung dimakamkan di sini setelah perang. Makam makin bertambah banyak karena antara tahun 1960 dan 1970 banyak korban perang yang telah dimakamkan di Ereveld di luar Pulau Jawa seperti di Tarakan, Manado, Palembang dan Makassar dipindahkan untuk dimakamkan kembali di Ereveld Menteng Pulo. Hal ini bertujuan agar mengurangi Ereveld yang tadinya berjumlah 22 menjadi 7 Ereveld saja. Di beberapa nisan tertulis onbekend yang artinya tidak dikenal. Baru tahu ya ternyata istilah beken yang artinya terkenal, berasal dari kata serapan Bahasa Belanda.

 

Makam-makam berbentuk salib yang tersusun rapi. Terdapat deretan makan bertuliskan ONBEKEND yang artinya tidak dikenal

 

Makam-makam di Ereveld Menteng Pulo berjajar begitu rapi dan bersih. Menurut keterangan bapak penjaga makam, terdapat  18 petugas yang bertugas bergiliran setiap hari untuk merapikan tanaman, bunga, rumput bahkan mencuci nisan setiap hari. Tak heran kompleks makam begitu asri dan rapi seperti makam di Eropa sana. Setiap pagi ada inspeksi dari kantor Oorlogs Graven Stichting  yang mengunjungi dan mengawasi makam. Kepala makam juga diberi rumah dinas di dalam kompleks pemakaman. Jadi, walaupun panas terik, kompleks tetap rapi dan suasana tetap syahdu apalagi di beberapa tempat terdapat kursi bench di bawah pohon untuk kita duduk.

 

Nisan rapi berjajar itu ternyata bukan terbuat dari kayu yang dicat putih. Nisan itu semua ternyata cor beton semen yang dicat duco putih mengkilap. Kami sempat melihat ke dalam bengkel pembuatan nisan-nisan tersebut di dalam kompleks. Menurut keterangan bapak penjaga, dulu semua nisan terbuat dari kayu, tetapi karena kayu mudah sekali keropos dimakan rayap, maka akhirnya dibuatkanlah nisan yang lebih kuat dari beton semen. Secara berkala semua nisan dicek dan jika ada kerusakan langsung diperbaiki atau diganti. Posisi bengkel terletak di samping rumah dinas kepala makam.

 

Di tengah  kompleks makam terdapat gereja yang cantik yaitu Gereja Simultaan yang sudah tidak dipakai lagi sebagai gereja. Gereja ini sekarang lebih berfungsi sebagai tempat acara peringatan dan upacara untuk semua agama.

 

Gereja Simultaan yang cantik di tengah pemakaman. Sekarang gereja ini hanya berfungsi sebagai tempat kegiatan upacara peringatan dan upacara untuk agama lain

 

Suasana di dalam Gereja Simultaan

 

Di samping gereja terdapat Columbarium yang menyimpan 754 guci abu militer Belanda yang gugur sebagai  tawanan perang di kamp kerja paksa Jepang semasa Perang Dunia Kedua. Diiringi bunyi kolam teratai dengan air gemericik, kami menyusuri satu per satu guci-guci yang tersusun rapi.

 

Columbarium di samping gereja yang menyimpan 754 guci abu tentara militer Belanda yang gugur sebagai tawanan perang di kamp kerja paksa Jepang

 

Kolam teratai dengan gemericik air di antara Columbarium dan Gereja Simultaan yang menyejukkan hati

 

Secara kebetulan kami menemukan ruangan menuju ke atap gereja. Melalui tangga yang terjal, kami menemukan pintu keluar di atap gereja sehingga kami dapat memandang ke seluruh kompleks makam dari atas.

 

Pemandangan Ereveld Menteng Pulo dari atas atap Gereja Simultaan

 

Di sini hampir semua ruangan masih diberi keterangan berbahasa Belanda dan instruksi-instruksi juga masih menggunakan Bahasa Belanda walaupun di sampingnya juga dituliskan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Suasana begitu adem dan asri. Berasa di Eropa deh. Jauh dari kesan angker.

 

Di pojok pojok kompleks terdapat beberapa monumen berbahasa Belanda yang juga terpelihara cantik. Terdapat semacam “dome” yang adem untuk kita berteduh dari teriknya matahari. Di tiang-tiang dome itu sendiri juga terdapat gantungan pohon anggrek dan tanaman yang tersusun rapi. Kami sempat bersantai beberapa saat di dalam dome itu. Di belakang kompleks pemakaman Belanda ternyata masih ada kompleks pemakaman tentara Sekutu yang bentuk nisannya lebih berbau “Amerika” dengan batu nisan kotak di atas rumput, berbeda dengan nisan di pemakaman Belanda yang didominasi oleh nisan tegak berbentuk (kebanyakan) salib putih. Pemakaman Sekutu ini juga tertata rapi dan tamannya terpelihara baik. Sayang tidak boleh dikunjungi. Kami hanya boleh mengambil gambar dari balik pagar.

 

Salah satu monumen di sudut kompleks pemakaman

 

Deretan salib makam tentara Belanda dengan dome di belakangnya

 

 

Ternyata makam-makam ini masih ada yang mengunjungi dan menaruh bunga. Makam sebelah kanan adalah makam massal yang diisi oleh beberapa jenazah dalam satu liang lahat

 

Makam tentara Sekutu yang gugur di Indonesia yang juga cantik dan asri. Sayang tidak boleh dikunjungi

 

Tak terasa sudah 2 jam kami berkeliling kompleks makam, saatnya untuk pulang karena makam akan dibersihkan pada pukul 16.30 dan akan ditutup untuk umum pada pukul 17.00. Kompleks makam ini dulu semasa pandemi sempat ditutup selama 2 bulan sebelum akhirnya dibuka kembali untuk umum pukul 07.00-17.00. Walaupun gratis, tak banyak pengunjung makam ini, kecuali beberapa anak remaja yang selfie di tengah makam. Pengunjung diharapkan bersikap hormat dan menjaga kebersihan. Pengunjung juga dapat memberikan donasi di kotak yang tersedia di pendopo depan. So… masih takut berwisata antimainstream dengan mengunjungi makam? Kok saya malah jadi tertarik untuk mengunjungi Ereveld-Ereveld lainnya ya? 

 

 

Teks & Foto: Veronica Vera Desyani Wiraja
Comment