TAMAN SARI YOGYAKARTA, AIR KOLAMNYA BENER TURKUOIS SEPERTI RAJA AMPAT NGGAK SIH? 2020-03-12 10:55

 

Cobalah tengok foto-foto Taman Sari Yogyakarta di internet maupun media sosial, ada yang buagusss banget dengan warna air turkuois bagai di Raja Ampat, ada juga yang suram dan butek. Kontradiktif banget! Mau percaya yang mana? Bagus beneran atau aslinya biasa aja? Foto utama yang Trippers lihat di artikel ini mungkin sudah memberikan jawaban? Jangan berhenti sampai sini ya, yuk lanjut...

 

Saat MyTrip datang ke Taman Sari pada pagi hari hingga siang, langitnya lagi nggak biru dengan awan-awan putih berarak. Air kolamnya juga nggak terlalu jernih, hijau sedikit butek. Temboknya yang coklat muda itu ada yang berlumut dan bertanda lembab. Jadi sudah dibantu editan Lightroom pun tetap nggak bisa ditampilkan latar langit yang cetar dan warna air bak Pantai Wayag di Raja Ampat serta tembok yang bersinar mulus. Ditambah pula kami tak punya banyak waktu, motretnya agak buru-buru, karena lebih fokus mendengarkan penjelasan pemandu yang kami sewa.

 

Umbul Binangun, komplek pemandian, bagian utama yang bisa dieksplor di Taman Sari

 

Ya, disarankan sewa pemandu kalau ke sini, supaya dapat cerita banyak yang belum tentu ada di internet, dan kunjungan kita menjadi lebih berarti, nggak sekadar foto-foto. Apalagi pemandu sekarang rata-rata lihai motretin tamu dan sudah hapal di mana spot-spot andalan. Bayar pemandu serelanya, nggak dipatok tarif resmi. Kalau cuma berdua, minimal berikan Rp25.000 lah. Malah kalau bujet nggak limited mah Rp50.000 deh.

 

Baca juga: "Serunya Jalan-Jalan ke Mini Hollywood di Sleman"

 

Balik lagi soal keindahan Taman Sari, perlu dibela-belain ke sana kalau sedang liburan di Yogyakarta atau nggak? Begini... Meskipun nggak secetar foto-foto yang beredar, apalagi kalau cuaca nggak mendukung, tapi taman yang dulunya tempat mandi sultan, permaisuri, putri-putri dan selir ini secara keseluruhan indah, layak didatangi. Dan ini bukan kolam semata.

 

Jadi jangan cuma puas melihat-lihat kolam dan ruang-ruang di sekelilingnya serta taman luas beserta gapura-gapuranya, karena masih di dalam komplek ini, tapi letaknya di luar area utama, ada Sumur Gumuling. Ini tempat keren banget buat berfoto. Apalagi kalau sepi ya... Cuma jarang sepi sih, foto bocor melulu, banyak orang lalu-lalang. Mungkin saat musim wabah Corona (Covid-19) sekarang ini sih sepi. Boleh coba... Hehe...

 

Sumur Gumuling

 

Sudah ngalor-ngidul, tapi kok ini artikel belum juga mbahas hal-hal yang serius ya. Soal sejarahnya, dan fakta bahwa taman ini dulu luassss banget. Yang sekarang hanya sebagian kecil yang bisa diselamatkan dan masih bisa dinikmati. Mari lanjut kalau begitu...

 

SEJARAHNYA

Taman atau kebun keraton ini dibangun di atas puing-puing Pesanggrahan Garjitawati atau bekas keraton lama pada zaman Sultan Hamengku Buwono I tahun 1758-1765. Dipakai keluarga keraton tahun 1765-1812. Dulunya disebut The Fragrant Garden. Terdiri dari beberapa bangunan, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah tanahnya.

 

Walaupun secara resmi sebagai kebun, namun beberapa bangunannya mengindikasikan fungsinya yang lain yaitu sebagai benteng pertahanan terakhir. Temboknya saja ada yang setebal 1,25 m.

 

Baca juga: "Tempat Terbaik Untuk Memahami Gunungapi: Museum Gunung Merapi"

 

Ada sejumlah catatan yang menyebutkan arsiteknya adalah Demang Tegis, orang Portugis. Makanya gaya arsitekturnya beda banget dengan keraton, disebut-sebut sebagai gaya arsitektur Jawa-Portugis. Siapa Demang Tegis alias Demang Portegis ini? Dia orang asing yang tiba-tiba muncul di wilayah keraton karena terdampar akibat kapalnya karam. Karena ternyata ia seorang pembangun rumah, jadi sultan memintanya membangun benteng. Dan akhirnya sultan memberinya nama Demang Portegis. Tapi belakangan muncul kontroversi apakah benar si Demang ini arsitek Taman Sari? Karena sebagian ahli berpendapat Taman Sari mah gabungan gaya Jawa dan Belanda, bukan Portugis. Entahlah.

 

Taman Sari terabaikan setelah Hamengku Buwono I mangkat. Tambah rusak karena Perang Jawa (1825–1830). Dan banyak yang runtuh karena gempa tahun 1867. Lama-lama area taman ini banyak ditinggali penghuni liar, dan danau yang kosong tak berair pun lama-lama jadi daratan. Awal 1970-an barulah dilakukan restorasi. Tapi ya itu, hanya komplek pemandian dan Sumur Gumuling yang bisa direstorasi.

 

Baca juga: "Bakmi Pele Alun-Alun Lor Jogja, Bakmi Jawa Otentik"

 

Area di sekitar Taman Sari, terutama eks danau buatan sekarang menjadi Kampung Taman, dihuni sekitar 1.700 abdi dalem yang bercampur dengan warga lainnya. Komunitas di sini meneruskan tradisi membatik dan melukis. Makanya banyak rumah disulap menjadi toko yang menjual aneka batik.

 

Salah satu sudut Kampung Taman

 

YANG SEKARANG JADI OBJEK WISATA HANYA 1 DARI 4 BAGIAN ASLINYA

Jadi, komplek Taman Sari ini aslinya ada 4 bagian:

1. Danau buatan (Segaran) yang terletak di sebelah barat. Sekarang sudah menjadi permukiman yang diberi nama Kampung Taman. Dulunya di tengah danau ada pulau buatan, Pulo Kenongo. Di pulau ini dibangun Gedhong Kenongo, paviliun berlantai 2, bangunan tertinggi di komplek Keraton Yogya pada masanya. Dari atas sini bisa melihat keseluruhan komplek keraton. Gedhong Kenongo sudah lama hancur, tinggal reruntuhannya saja.

 

Di sebelah barat Pulo Kenongo terdapat bangunan berlantai dua yang berbentuk melingkar seperti cincin. Nah inilah Sumur Gumuling, yang masih utuh dan bisa dieksplor. Dulu dipakai sebagai masjid. Bentuk bangunannya sendiri sama sekali tak tampak seperti masjid. Masuk ke sini melalui terowongan bawah tanah yang panjang dan konon bisa tembus sampai pantai selatan. Yang menarik dan menjadi spot favorit berfoto adalah bagian tengah terbuka yang menjadi pertemuan 4 tangga dari keempat penjuru ke arah bawah, dan satu tangga lagi ke lantai 2. Lima tangga ini melambangkan 5 rukun Islam. Di bawah pertemuan empat tangga ini terdapat kolam kecil, sebagai tempat wudhu.

 

Masuk ke Sumur Gumuling melewati terowongan

 

Spot favorit di Sumur Gumuling

 

Bagus juga berfoto di bagian bawah tangga di Sumur Gumuling

 

2. Umbul Binangun atau Umbul Pasiraman yang berada di selatan Segaran. Bagian ini yang paling utuh di antara bagian lainnya dan inilah spot utama yang dikunjungi wisatawan. Foto-foto kolam hijau turkuois yang dikelilingi tembok coklat itu ya di sini.

 

Komplek ini dikelilingi tembok tinggi dan masuk ke sini melewati dua gerbang, di sisi timur dan barat. Terdapat tiga buah kolam dengan air mancur yang dibentuk seperti jamur maupun seperti kepala naga, jadi memberi aksen tambahan pada kolam. Di sekeliling kolam diletakkan pot-pot bunga raksasa. Dua kolam yang pertama terlihat adalah Umbul Panguras untuk raja dan Umbul Kawitan untuk putri-putri raja. Lalu masuk lagi ada Umbul Pamuncar untuk para selir raja.

 

 

Tampak ada beberapa bangunan di sekitar kolam, ada yang merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para putri dan selir, ada tempat berganti pakaian dan istirahat sultan. Ada juga menara di bagian tengah yang konon dari situlah sultan menonton selir-selirnya mandi dan kemudian memilihnya untuk menemani.

 

3. Pasarean Dalem Ledok Sari (berupa paviliun-paviliu) dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan Umbul Binangun. Bagian ini nyaris tak bersisa.

 

4. Danau buatan yang lebih kecil di bagian timur beserta pulau buatan dan bangunan di tengahnya. Ini juga nyaris tak ada yang tersisa kecuali bekas jembatan gantung dan sisa dermaga. Dermaga ini konon digunakan sultan sebagai titik awal masuk ke Taman Sari dengan bersampan. Kini tempat ini telah menjadi permukiman penduduk.

 

Komplek Taman Sari juga memiliki beberapa pintu gerbang:

- Gedhong Gapura Hageng yang merupakan pintu gerbang utama taman raja-raja berada di bagian paling barat. Di dinding gerbang ini terdapat relief burung dan bunga-bungaan yang menunjukkan tahun selesainya pembangunan Taman Sari pada tahun 1691 Jawa (kira-kira 1765 Masehi).

 

- Gedhong Lopak-Lopak

Menara berlantai dua yang berada di halaman persegi delapan di sebelah timur gerbang utama kuno Taman Sari. Sekarang hanya bersisa deretan pot bunga raksasa serta pintu-pintu. Pintu di sisi timurnya merupakan salah satu gerbang menuju Umbul Binangun.

 

- Gedhong Gapuro Panggung

Dulu di sini terdapat 4 patung ular naga tapi sekarang hanya tersisa 2. Gedhong Gapura Panggung ini memuat tahun dibangunnya Taman Sari yaitu tahun 1684 Jawa (kira-kira 1758 Masehi). Sisi timurnya, di mana terlihat 2 patung naga mengapit gerbang, sekarang menjadi pintu masuk Taman Sari, di depannya ada papan “Situs Tamansari”.

 

- Gedhong Temanten

Letaknya di tenggara dan timur laut Gapuro Panggung. Dulu digunakan sebagai tempat penjaga keamanan bertugas dan tempat istirahat.

 

- Gapura Agung

Saat masih berfungsi sebagai taman kesultanan, Gapura Agung digunakan sebagai lokasi pemberhentian bagi kereta kencana kesultanan. Didominasi ornamen berbentuk sayap burung dan bunga-bunga. Gapura ini masih terlihat utuh, berada di halaman luas setelah kita keluar dari area kolam.

Gapura Agung

 

Alamat Taman Sari:

Jalan Tamanan, Patehan Keraton, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berada 1 km ke selatan dari Keraton Yogyakarta, hanya 10-15 menit berjalan kaki.

 

Tiket masuk: Rp5.000 (domestik), Rp15.000 (wisman)

Izin foto: Rp3.000

Prewedding: Rp250.000 (domestik), Rp500.000 (wisman)

Jam buka: 09.00-15.00

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH (Maya The Dreamer), Pemandu Taman Sari
Comment