TAHUKAH KAMU, PULAU PENYENGAT ITU MAHAR PERNIKAHAN PUTRI RAJA? 2019-10-17 00:00

Pulau Penyengat dan landmarknya, Masjid Penyengat

 

Wilayah Bintan di Kepulauan Riau terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil yang tersebar di perairan Laut Cina Selatan (sekarang disebut Laut Natuna Utara). Tak heran bila akhirnya julukan Bumi Segantang Lada disematkan pada Bintan. Salah satu pulau yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Penyengat. Namanya unik ya? Mau tahu lebih lanjut?

 

MENGENAL PULAU PENYENGAT

Pulau Penyengat hanyalah sebuah pulau kecil seluas 2 km², berjarak 6 km dari Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau yang ada di Pulau Bintan. Tapi meskipun kecil, Pulau Penyengat mempunyai peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Dan yang istimewa, pulau kecil ini merupakan mahar pernikahan dari Sultan Mahmud kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.

 

Nama Pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal abad ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di Sumatera. Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya Perang Riau pada akhir abad ke-18 yang dipimpin Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu penting yang dijaga orang-orang asal Siantan dari Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.

 

Cerita rakyat lain menyebutkan, Pulau Penyengat diambil dari nama binatang sejenis lebah yang dikenal dengan nama penyengat. Konon awalnya pulau ini dikenal sebagai tempat mengambil air. Pada suatu hari para saudagar yang mengambil air di pulau ini diserang penyengat. Itulah awal lahirnya nama Penyengat. Tapi pihak Belanda menjulukinya dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau ini lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.

 

Baca juga: "Natuna Nggak Cuma Alif Stone Park, Ada Pantai Lubang Kamak Nih!"

 

CARA KE PULAU PENYENGAT

Dari Jakarta terbang dulu ke Bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang, Bintan. Lalu dilanjutkan naik taksi sekitar 30 menit ke pelabuhan tempat penyeberangan pompong yang dikenal dengan nama Pelabuhan Penyengat. Pelabuhan Penyengat tak jauh dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Pompong adalah sejenis perahu motor kecil berbadan kayu yang menggunakan mesin tempel.

 

Durasi penyeberangan hanya sekitar 10 menit. Pompong baru akan berangkat kalau penumpangnya sudah mencapai 12 orang. Jangan khawatir akan menunggu lama, karena pompong ini sarana transportasi warga sehari-hari, jadi setiap saat pasti ada saja yang menyeberang.

 

Saat menyeberang terlihat masjid berwarna kuning. Itulah Masjid Raya Sultan Riau, atau lebih dikenal dengan nama Masjid Penyengat.

 

ADA APA SAJA DI PULAU PENYENGAT?

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid dengan warna kuning yang khas ini menjadi landmark Pulau Penyengat. Istimewanya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur untuk memperkuat dinding kubah, menara dan bagian lainnya. Dibutuhkan telur berkapal-kapal untuk itu. Sedangkan kuning telurnya dipakai untuk mewarnai dinding dan kubah masjid.

 

 

Masjid yang berdiri pada 1 Syawal 1249 Hijriah atau pada tahun 1832 Masehi ini dibangun oleh Raja Abdul Rahman-Yang Dipertuan Muda VII. Masjid ini memiliki 17 kubah --sesuai dengan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam.

 

Masid ini berukuran 54,4 x 32,2 m. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 m, disangga 4 buah tiang. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh yang biasa digunakan sebagai tempat singgah bagi para musafir dan berfungsi juga sebagai tempat musyawarah. Dinding bagian dalam masjid berwarna putih, terlihat kontras dengan karpet yang berwarna hijau. Mimbarnya terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas Jepara. Di salah satu bagian masjid terpasang lampu kristal hadiah dari Kerajaan Prusia di Jerman.

 

 

Di masjid ini kita bisa melihat sebuah mushaf Al Qur'an yang ditulis tangan oleh Abdurrahman Istambul, seorang putra Riau yang dikirim belajar ke Turki tahun 1867.

 

Peninggalan Sejarah

Peninggalan sejarah yang bisa kita kunjungi adalah komplek makam raja-raja dan tokoh-tokoh penting pada zaman Kerajaan Riau Lingga. Di antaranya makam pahlawan nasional Raja Ali Haji yang dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia. Karya beliau yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas.

 

Komplek makam raja-raja

 

Peninggalan lainnya yang masih bisa kita saksikan adalah Bangunan Istana Kantor yang tidak jauh dari Masjid Raya Sultan Riau. Istana ini merupakan Kantor Pemerintahan Kerajaan Riau yang pertama. Sayang kini sebagian bangunannya telah hancur.

 

Sebenarnya kita bisa saja jalan kaki berkeliling pulau untuk melihat-lihat situs peninggalan sejarahnya. Tapi kurang afdol kalau nggak mencoba transportasi wisata yang ada. Jadi, cobalah naik becak motor atau bemor.  

 

Bemor

 

Dengan membayar sekitar Rp30.000 kita akan diantar berkeliling pulau. Satu bemor muat dua orang. Kita bisa memperoleh informasi menarik mengenai tempat-tempat bersejarah yang ada dari supir bemornya. Karena supir bemor di Pulau Penyengat merangkap sebagai tour guide, dan tentu saja sebagai fotografer dadakan.

 

Balai Adat Melayu Indra Perkasa

Merupakan satu-satunya bangunan yang tidak berwarna kuning sebagaimana bangunan lainnya yang ada di pulau ini. Juga merupakan replika rumah adat Melayu yang berbentuk panggung dengan corak Melayu yang khas. Di dalamnya terdapat pelaminan khas Melayu yang full colour. Meriah sekali.

 

Pelaminan khas Melayu yang full colour

 

Di sini kita bisa menyewa pakaian adat Melayu untuk berfoto. Dengan merogoh kocek Rp25.000 kita bisa puas berfoto ala bujang dan gadis Melayu di setiap sudut Balai Adat ini.

 

Bukit Kursi

Jangan membayangkan bukit yang sangat tinggi karena Bukit Kursi tingginya hanya sekitar 150 mdpl. Inilah titik tertinggi di Pulau Penyengat. Pemandangan dari puncak bukit ini indah.

 

Pemandangan dari puncak Bukit Kursi

 

Bukit ini pada masa penjajahan merupakan benteng bagi pejuang Indonesia untuk mempertahankan diri dari serangan Belanda. Benar-benar benteng pertahanan yang sempurna karena puncaknya terlindung pohon-pohon rindang.   

 

Di puncak Bukit Kursi ini kita masih bisa menyaksikan peninggalan-peninggalan perang, seperti meriam dan parit yang digunakan sebagai jalur untuk menyuplai bubuk mesiu bagi meriam-meriam yang ada di puncak bukit. Di bawah bukit ada sebuah bangunan yang dinamakan Gedung Mesiu. Di tempat inilah bubuk mesiu untuk keperluan perang disimpan.

 

Gedung Mesiu

 

Terdapat beberapa pondok kayu yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat di puncak Bukit Kursi. Pohon-pohon rindang membuat suasana terasa begitu nyaman.   

Teks & Foto: Dian Radiata
Comment