PANTAI KOKA BISA MENJADI MAGNET WISATA DI SIKKA NTT ASAL SAJA DIKELOLA DENGAN BAIK 2020-03-16 14:00

Bukit kecil di tengah Pantai Koka

 

Saya dan rombongan datang ke Pantai Koka di Desa Wolowiro Kecamatan Paga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah cukup lama, Juni 2018. Tergerak menuliskannya sekalian mencari tahu apakah sudah ada kemajuan berarti dari pantai yang sangat cantik tapi kurang diperhatikan Pemkab Sikka ini?

 

Dari Bandara Frans Seda Maumere ataupun Kota Maumere (ibu kota Kabupaten Sikka) melalui Jalan Trans Flores menuju ke arah Kota Ende, sekitar 50 km, berkendara sekitar 1 jam, ada belokan ke kiri dengan plang bertuliskan ”Destinasi Wisata Pantai Koka”. Dari situ masih harus masuk sekitar 2,5 km lagi selama 10-15 menit. Waktu kami datang, jalanan setelah belokan itu berbatu, setelah itu aspal, lalu sambung jalan rusak lagi.

 

Baca juga: "Panduan Cerdas Eksplor Flores"

 

Lalu kami menghadapi palangan di jalan, satu mobil van kami diminta bayar Rp20.000 baru dibukain palangnya (kalau untuk mobil biasa Rp10.000, Rp5.000 untuk motor). Pemandu lokal kami bilang, jalan itu dipalang oleh yang punya tanah karena memang akses untuk ke Pantai Koka ini melewati tanah milik pribadi. Tiba di lokasi pantai memang nggak ada retribusi (saat itu), hanya bayar parkir saja, nilainya kurang lebih sama dengan bayar di tempat palangan. Jadi pengunjung seolah bayar dua kali. Ya begitulah.... Saya cek dari artikel-artikel Pantai Koka yang ditulis hingga pertengahan 2019, kondisi jalan yang rusak dan bayar 2X masih terjadi.

 

Saya berharap sekarang sudah ada pengelolaan yang lebih baik dari Pemkab Sikka. Sayang banget soalnya, pantainya bagussss, banyak spot yang bisa dieksplor, tapi kalau pengelolaan nggak jelas, plus fasilitasnya nggak ada (kondisi WC-nya saat Juni 2018 itu juga yaaa gitu deh...), orang jadi malas datang. Tipikal pantai-pantai di Indonesia banget yaaa... Cari WC yang layak aja susah, hehe.

 

Oke, lupakan soal pengelolaan dan fasilitas, mari kita bicarakan pantai yang berada di pesisir selatan Pulau Flores ini. Pantai yang namanya diambil dari nama burung ini terdiri dari 2 bagian, sisi kanan (barat), dan sisi kiri (timur) yang dipisahkan bukit kecil di tengah yang agak menjorok keluar. Makanya kalau dilihat dari atas (difoto dengan drone) atau kita naik ke bukit kecil di tengah tampaklah angka 3 yang dibentuk oleh garis kedua pantai yang dipisahkan oleh bukit ini. Keren banget!

 

Bukit kecil di tengah pantai ini bisa didaki, tapi saya tak mencobanya

 

Ini sisi pantai sebelah kanan (barat)

 

Masing-masing bagian pantai di ujung bagian kiri maupun kanan dibentengi bukit. Di barat namanya Bukit Rodja yang bertebing batu cadas dan cukup tinggi, di timur Bukit Ndate Sare yang lebih rendah. Menurut sumber yang saya dapat di internet, di kaki Bukit Rodja ada gua yang bisa terlihat saat air laut surut. Sedangkan pada kaki Bukit Ndate Sare terdapat bungker peninggalan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Konon keduanya keramat, warga setempat pun nggak berani memasukinya. Saya juga nggak mendekati tempat itu.

 

Di bagian bawah bukit yang di tengah ada makam penemu pantai ini. Masuk area makam bayar Rp5.000 per orang. Saya juga nggak ke sini, jadi cuma melihat dari jauh saja ada pagar pembatasnya.

 

Di bagian luar sebelah kanan bukit yang di tengah ini terhampar batu karang yang cukup luas dan kita bisa berjalan di atasnya dalam kondisi air laut surut. Kalau dilihat sepintas, nggak ada yang menarik di sini. Tapi coba Trippers berdiam agak lama di sini sambil menatap ombak yang datang menerjang-nerjang. Pada sisi tertentu, ombak yang cukup keras membentur karang akan menciptakan muncratan yang cukup tinggi. Ya mirip waterblow di Bali lah atau seruling laut di Pantai Klayar Pacitan, cuma ini lebih kecil. Tapi tetap menarik untuk ditunggui dan difoto.

 

Air muncrat di dekat bukit di tengah pantai

 

Walaupun pantai selatan, tapi ombak di Pantai Koka cukup aman untuk direnangi karena situasi pantai seperti di teluk. Tapi untuk berenang tetap lihat-lihat, pilih jangan di bagian yang banyak batu karang. Dan jangan mendekati bagian pantai yang dekat dengan bukit di tengah itu yang ada air muncratnya. Di situ ombak berdebur cukup kencang menghantam barisan karang.

 

Area dekat sini ombak agak kencang

 

Datang ke Pantai Koka kalau menjelang sore, sinar matahari datang dari arah kanan (barat), jadi yang pas dapat cahaya untuk foto-foto adalah pantai yang sebelah kiri. Bisa menunggu sunset juga di sini. Sebaliknya kalau datang pagi, yang bagus difoto pantai sebelah kanan.

 

Kalau kalian tipe pemalas yang mau leyeh-leyeh saja di pantai, nggak mau jalan sampai ke ujung-ujungnya, cukup duduk-duduk saja di deretan gazebo sederhana yang berada di bawah pepohonan rindang. Di dekatnya juga ada warga lokal yang berjualan minuman dan makanan kecil termasuk mie instan gelasan, juga kelapa muda! Perfect banget lah duduk santai di gazebo menikmati kelapa muda sambil memandangi pantai.

 

Ini suasana pantai di sebelah kiri

 

Kalau bosan duduk-dududk doang, coba jalan dengan kaki telanjang di atas pasirnya yang lembut dan berwarna putih. Kalau Trippersd jalan sampai ke hamparan karang, perhatikan deh di sela-sela karang yang airnya tergenang terdapat ikan-ikan kecil yang terjebak. Anak-anak pasti suka bermain-main di sini.

 

Di sekitar area pantai juga terdapat homestay tapi saya tak sempat mengeceknya. Yang suka menginap di sini biasanya wisatawan mancanegara. Kalau wisatawan lokal ya biasanya balik ke Kota Maumere atau melanjutkan perjalanan ke Desa Moni untuk ke Danau Kelimutu. Berkendara sampai ke Moni dari Koka hanya 1,5 jam.

 

Baca juga: "Suatu Sore di Ujung Timur Alor"

 

CARA KE PANTAI KOKA

Pertama-tama tentu harus terbang ke Bandara Frans Seda di Kota Maumere. Penerbangan ke sini dari Jakarta transit dulu di Denpasar. Denpasar – Maumere sekitar 2 jam. Di penerbangan rute ini Trippers bisa melihat Rinjani dari jarak yang cukup dekat. Dari Bandara Frans Seda ke Pantai Koka ikuti petunjuk di awal tulisan ini ya....

Teks & Foto: Mayawati NH
Comment