HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI SEBELUM MENGUNJUNGI DESA BOTI DI PULAU TIMOR 2023-01-24 06:00

Pria Suku Boti, berkonde

 

Suku Boti, Desa Boti. Mungkin masih sedikit yang pernah mendengarnya. Kalaupun pernah mendengar, mungkin hanya sebatas, “Suku pedalaman, suku terasing, suku terbelakang”. Atau sebatas tahu tentang kain tenun Suku Boti yang cantik. Wajar memang. Info tentangnya masih sedikit. Makanya MyTrip pun menghilangkan rasa penasaran dengan mengunjunginya langsung Agustus 2022 lalu. Desa Boti tepatnya berada di Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Pulau Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Baca juga: “Fatu Ulan di Pulau Timor NTT, Cantik Melintir Sonde Ada Lawan!

 

SULITKAH KE DESA BOTI?

Menuju ke sana, dibilang sulit, iya, karena akses jalan yang masih kurang baik. Harus menggunakan mobil 4WD (four wheel drive). Tapi sulit banget juga nggak, dan terbilang nggak jauh-jauh amat. Dari Kota Soe, ibu kota Kabupaten TTS, mengarah ke tenggara sejauh 40 km, memakan waktu 1,5 sampai 2 jam. Kota Soe sendiri bisa dicapai berkendara dari Kota Kupang (ibu kota Provinsi NTT) selama 2 sampai 2,5 jam, dengan jarak +/-105 km.

 

Setelah melewati Desa Niki Niki lalu masuk ke Desa Oinlasi, mulailah jalanan sedikit menantang. Jalanan berupa tanah keras ataupun makadam, turun-naik, melewati perkampungan, hutan atau ladang warga, lembah, deretan perbukitan, bahkan harus menyeberangi sungai dangkal yang kering (entah bagaimana kondisinya kalau musim hujan). Desa Boti berada di ketinggian +/-1.500 mdpl. Udaranya sejuk.

 

Jalanan berupa tanah keras ataupun makadam

 

Jalanan berupa tanah keras ataupun makadam

 

Menyeberangi sungai dangkal

 

BAGAIMANA MASUK KE DESA BOTI?

Gerbang depan Desa Boti

 

MyTrip berkunjung bersama supir dan pemandu yang sudah dikenal baik oleh Raja Boti. Jadi kami disambut dengan baik langsung oleh Raja Boti di teras depan rumah kediamannya yang sederhana dan asri. Sebagai bentuk penghormatan, kami membawa persembahan berupa sirih pinang --sebuah ritual yang biasa dilakukan sebelum masuk ke rumah-rumah adat di Pulau Timor. Dan mengisi buku tamu tentunya. Dari daftar tamu terlihat, kebanyakan yang datang ke sini adalah mahasiswa, dosen, peneliti, pemandu, dengan tujuan untuk penelitian. Berkaitan dengan pandemi Covid-19, wisatawan asing baru mulai berdatangan kembali ke Desa Boti bulan April 2022.

 

MyTrip disambut dan dijamu Raja Boti dan beberapa warga 

 

MARI MENGENAL SUKU BOTI

Raja Boti yang sekarang adalah Usif (Raja) Nama Benu, merupakan raja ketiga, berumur sekitar 50-an tahun. Pembawaannya tenang, bersahaja sekaligus berkarisma. Beliau bisa berbahasa Indonesia, tapi lebih fasih berbahasa Dawan, bahasa yang banyak dipakai di Pulau Timor.

 

Usif (Raja) Nama Benu

 

Usif Nama Benu tidak menikah --ini pilihan hidupnya, bukan kewajiban secara adat. Jadi karena tidak menikah dan tidak memiliki keturunan, kelak yang akan menggantikannya keponakan laki-lakinya --dipilih yang berakhlak baik. MyTrip sempat diperlihatkan foto Usif Nama Benu bersama dua saudara perempuan dan satu saudara laki-lakinya.

 

Foto Usif Nama Benu bersama dua saudara perempuan dan satu saudara laki-lakinya

 

Menurut beliau, yang masih bertahan di Desa Boti Dalam saat ini ada 2 Kepala Keluarga yang terdiri dari 4 laki-laki dan 5 perempuan.

 

Nah, mengenai Boti Dalam dan Boti Luar, pembedaan ini berdasarkan tradisi yang masih dipegang/dijalankan. Boti Dalam masih memegang teguh agama tradisi yaitu Halaika. Sedangkan Boti Luar, warganya sudah memeluk agama Kristen Protestan.

 

Suku Boti ini adalah sub suku dari Suku Amanuban. Suku Amanuban sendiri merupakan salah satu suku di Kabupaten TTS. Dua suku lainnya yaitu Amanatun dan Mollo.

 

Baca juga: “10 Potret Keindahan Padang 1 Gunung Mutis di NTT

 

BOLEHKAH BERKELILING KAMPUNG?

Setelah mempersembahkan sirih pinang dan meminta izin pada sang raja, kita bisa berjalan-jalan melihat kondisi kampung. Tapi perlu diingat, ada satu bangunan yang tidak boleh difoto yaitu Istana Raja Boti yang berbentuk rumah bulat (ume kbubu). Selebihnya boleh difoto dan dilihat-lihat.

 

Di antaranya lopo-lopo yang merupakan balai pertemuan. Terdapat alat musik pukul digantung-gantung.

 

Saat Trippers ke sini, mungkin juga akan melihat wanita muda yang sedang menenun kain di dapur yang semi terbuka. Kaum wanita Suku Boti memang pandai menenun, dan ini boleh dibilang pekerjaan mereka sehari-hari selain pekerjaan domestik lainnya. Kain sarung yang mereka pakai merupakan hasil tenunan sendiri.

 

 

 

Benangnya dihasilkan dari kapas yang dipintal. Kapasnya sendiri adalah hasil dari kebun mereka sendiri. Di bagian lain Desa Boti, MyTrip mendapati seorang nenek yang sedang memintal kapas.

 

Jangan lupa masuk ke bangunan yang merupakan toko suvenir sederhana. Di atas rak-rak kayu terlihat tumpukan kain-kain tenun yang dibuat dengan pewarna alami (dari akar, daun, kulit kayu), juga kain tenun yang sudah dijadikan tas. Juga ada kerajinan dari daun pandan, dari batok kelapa. Bagi penggemar kain-kain tenun, ini salah satu surganya. Selain motifnya khas, harga yang ditawarkan juga masuk akal. Tas selempang misalnya, dibanderol Rp100.000.

 

Deretan kain-kain tenun Boti dan tas-tasnya

 

 

FILOSOFI HIDUP SELARAS DENGAN ALAM DAN SWASEMBADA PANGAN

Orang Boti menjalani kehidupan sehari-hari sesuai agama tradisi yaitu Halaika. Apa itu Halaika?

 

Halaika mengajarkan mereka patuh pada Dewa Langit (Uis Neno) dan Dewa Bumi (Uis Pah). Uis Neno diibaratkan sebagai bapak yang memberi perlindungan dan wujudnya ialah benda-benda langit yang kelihatan, misalkan bulan, bintang, dan matahari. Uis Pah diibaratkan seperti seorang ibu yang memberi makan, membesarkan dan menjaga anak-anaknya.

 

Orang Boti juga percaya kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap mempengaruhi  kehidupan mereka. Roh-roh nenek moyang ini juga berkaitan erat dengan alam. Jadi mereka harus hormat kepada alam, hidup selaras dengan alam.

 

Orang-orang Boti, hidup selaras dengan alam

 

Mereka diajarkan untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup, dan dilarang mencuri. Tapi uniknya pencuri malah tidak dihukum, melainkan dibantu untuk memiliki barang yang mereka curi itu. Mereka yakin dengan begitu, orang tersebut tidak akan mencuri lagi.

 

Karena prinsip tak boleh mengharapkan pemberian orang lain, masyarakat Boti bertani dan beternak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika butuh uang untuk membeli barang kebutuhan yang tidak bisa mereka buat sendiri, mereka menjual hasil tani maupun ternak.

 

MyTrip disuguhi keripik pisang, hasil kebun sendiri

 

Dengan swasembada sandang dan pangan, Suku Boti berhasil melewati krisis akibat pandemi Covid-19 dan selamat dari wabah itu.

 

KONDE UNIK PRIA BOTI

Pria berkonde merupakan pemandangan umum di Desa Boti. Kok lucu ya pria berkonde? Ini bagian dari aturan turun-temurun yang mesti dipatuhi. Tentu ada alasan dan sejarahnya.   Awalnya dulu leluhur mereka menderita wabah penyakit. Yang kena semua pria tanpa kecuali. Bermula dari kepala mereka bengkak dan gatal-gatal, setelah digaruk menjadi luka dan bernanah. Akhirnya mereka berkumpul dan melakukan ritual untuk mencari tahu penyebabnya.

 

Akhirnya Uis Pah (Dewa Bumi) memberi jawaban bahwa setiap pria harus membiarkan rambutnya panjang dan harus berkonde. Maka setelah itu, semua anak laki-laki yang telah berumur 10 tahun rambutnya harus dicukur dulu. Diyakini, rambut yang dibawa dari  kandungan ibu itu panas sehingga bila tidak dicukur akan membawa penyakit. Kenapa batasnya umur 10 tahun? Karena dianggap telah menjadi remaja. Setelah itu, rambut mereka tak boleh dicukur lagi dan dibiarkan panjang. Karena panjang jadi bisa dikonde.

 

Letak kondenya berbeda antara yang belum dan sudah menikah. Yang belum menikah letak kondenya di belakang kepala. Sedangkan yang sudah menikah letak kondenya tepat di ubun-ubun.

 

Pria Boti dan konde

 

Ingin mengunjungi Suku Boti? Yuk ikutan Timor Overland bersama MyTrip tanggal 31 Mei-7 Juni 2023. Hubungi 0811821006 untuk info lebih detail.

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Ghusty Petrus Ellreal, Mayawati NH
Comment