ALTERNATIF MENDAKI GUNUNG SAAT PANDEMI YANG TAK JAUH DARI JAKARTA: GUNUNG LEMBU 2020-09-28 00:00

Pemandangan terbaik dari Batu Lembu, ke arah Jatiluhur dan Gunung Parang

 

Pandemi Covid-19 belum juga usai, tapi badan menagih untuk terus diajak bergerak. Gowes sudah, ke curug juga sudah, saatnya menuju gunung. Kali ini saya memilih Gunung Lembu di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat. Alasannya tentu karena ke sananya nggak terlalu jauh dari Jakarta, bisa dengan mobil sendiri. Kedua, gunungnya nggak terlalu tinggi, bisa tektok alias naik turun di hari yang sama, nggak perlu kemping. Ketiga, tentunya pemandangannya bagus, memanjakan mata.

 

Peta lokasi Gunung Lembu

 

ADA DUA RUTE PENDAKIAN

Sebelum berangkat ke lokasi di Sabtu pagi, saya sudah lebih dulu membuat janji dengan pemandu lokal melalui IG @gunung.lembu. Biayanya cuma Rp100.000 per pemandu. Ketemunya di lokasi basecamp pendakian.

 

Basecamp

 

O ya jangan salah lokasi ya. Karena basecamp pendakian Gunung Lembu ada 2. Jadi supaya jelas, silakan lihat dua peta rute di bawah. Kalau dari Sedong Asmiran, kita hanya perlu melewati 2 pos, lalu sudah tiba di Batu Lembu. Kalau lewat jalur satunya lagi, harus melewati 3 pos dan 2 makam keramat, baru tiba di puncaknya di ketinggian 792 mdpl; dan untuk mencapai Batu Lembu harus turun lagi. Sedong Asmiran berada di Kampung Batungerong Desa Panyindangan Kecamatan Sukatani. Jalur satu lagi beda kampung, yakni di Kampung Panunggal, sama-sama di Desa Panyindangan.

 

Rute Sedong Asmiran – Batu Lembu –Puncak

 

Rute satunya lagi, menuju puncak lewat 2 makam keramat

 

Kami memilih Sedong Asmiran karena tujuan kami hanya Batu Lembu-nya. Karena pemandangan terbaik justru dari Batu Lembu, bukan dari puncaknya. Lewat Sedong Asmiran lebih cepat sampai ke Batu Lembu, jalurnya lebih pendek, walaupun lebih terjal dari jalur satunya lagi.

 

Sedong Asmiran

 

Perjalanan dengan mobil dari Jakarta melewati Tol Cikampek dan lanjut Tol Cipularang hingga exit di Ciganea/Jatiluhur kami tempuh 1 jam 20 menit. Tapi untuk sampai ke lokasi gerbang Sedong Asmiran masih harus berkendara sekitar 1 jam lagi.

 

Baca juga: “Ini Dia Rute Trekking di Sentul yang Bukan Kaleng-Kaleng

 

SEDONG ASMIRAN – BATU LEMBU

Gerbang Sedong Asmiran berada di ketinggian 246 mdpl. Di sini ada warung-warung dan toilet, serta mushola. Gunung Lembu memang sudah menjadi tempat wisata walaupun masih dikelola secara swadaya oleh warga. Jadi sudah dibuat gerbangnya, dan sudah ada beberapa fasilitas.

 

Warung di Sedong Asmiran

 

Jalur awal pendakian berupa hutan bambu. Kondisi trek belum terjal. Ada tali kecil yang menjadi panduan jalur. Sekitar 25 menit tibalah kami di Pos 1. Di sini sudah terlihat pemandangan ke arah Waduk Jatiluhur dengan latar Gunung Cilalawi. Di area ini terdapat juga Rumah Pohon yang dulunya bisa dipakai untuk berfoto-foto cantik tapi sekarang sudah rapuh.

 

Medan pendakian, ada tali untuk membantu pendakian

 

Pemandangan dari Pos 1 ke arah Waduk Jatiluhur dan Gunung Cilalawi

 

Dari Pos1 ke Pos 2 jalur lebih menantang, lebih terjal. Di samping jalur diberi tali berdiameter besar. Waktu naik, saya pikir tali itu hanya untuk memberi arahan jalur. Saya sih nggak memerlukan bantuan tali untuk naik karena saya memakai trekking pole. Tapi ternyata tali itu berguna banget saat turun.

 

Tangga di jalur pendakian Pos 1 ke Pos 2

 

Berjalan lagi sekitar 30 menit kami melewati batu besar yang dililit akar pohon yang diberi nama Batu Kaca. Nggak ada plang bertuliskan Batu Kaca di situ. Tapi karena kami ditemani pemandu, jadi diberitahu batu itu yang disebut Batu Kaca.

 

Batu Kaca

 

Lanjut mendaki lagi, sekitar 30 menit kemudian kami tiba di batu besar yang disebut Batu Anjing. Disebut demikian karena ujung batu yang menonjol tampak seperti kepala anjing, emmmph… malah lebih mirip kepala komodo sih. Lokasi Batu Anjing ini dekat Pos 2.

 

Batu Anjing

 

Dari Batu Anjing hingga tiba di tujuan akhir kami yaitu Batu Lembu kami harus mendaki lagi sekitar 40 menit. Jadi total pendakian dari gerbang Sedong Asmiran sampai Batu Lembu sekitar 2 jam, dengan berjalan santai dan sesekali berhenti mengambil foto maupun istirahat. Total jarak yang ditempuh sekitar 3,3 km.

 

Seperti sudah disebutkan di atas, pemandangan terbaik bisa terlihat dari Batu Lembu yang berada di ketinggian 670 mdpl. Dari area batu yang lebar ini, yang landasannya miring, kita bisa melihat Waduk Jatiluhur, Kota Purwakarta, juga Gunung Parang melatari di kejauhan. Ya Gunung Parang yang biasa untuk via ferrata itu terlihat dari sini.

 

Pemandangan dari Batu Lembu

 

Di sekitar Batu Lembu ada warung dan tempat leyeh-leyeh. Jadi mendaki hingga ke Batu Lembu nggak perlu bawa makanan, karena kita bisa jajan di warung-warung yang ada. Kami pun memilih memesan pop mie.

 

Saat kami tiba di Batu Lembu, hanya ada kami dan 1 kelompok anak-anak muda. Tapi makin siang, makin banyak orang berdatangan. Kebanyakan mereka mendaki tanpa pemandu. Kalau tanpa pemandu wajib bayar Simaksi Rp15.000 per orang. Jalurnya memang cukup jelas sih. Tapi saran saya, kalau memang bujet bukan hambatan, pakailah jasa pemandu, hitung-hitung berbagi rezeki. Apalagi kalau datang ber-4 misalnya. Patungan untuk membayar jasa 1 orang pemandu yang Rp100.000 sangat ringan ‘kan…  

 

Apalagi dengan ditemani pemandu, kita bisa dibantu saat melewati jalur-jalur yang sulit. Ya, walaupun pendakian terhitung singkat hanya sekitar 2 jam naik dan 1,5 jam turun, tapi jalurnya nggak bisa dianggap remeh. Beberapa ruas sangat terjal dengan medan tanah yang terkadang licin karena debu/pasir, kerikil maupun sebaran dedaunan kering. Walaupun memang sudah dipasangi tali di jalur-jalur sulit tersebut, atau ada juga jalur yang sudah dibuat undakan. Kadang juga ada jalur sempit di antara batu-batu besar.

 

Medan pendakian, jalan sempit di antara batu-batu

 

Adanya pemandu juga membuat kita jadi tahu mana Batu Kaca, Batu Anjing, juga cerita-cerita lainnya. Kang Hidayat dan Kang Lani, pemandu yang menemani kami bercerita, sebelum pandemi Covid-19, ada 12 orang yang mengurus jalur pendakian ini, tapi sekarang karena sepi pengunjung jadi tinggal 3 orang. Yang lain merantau cari pekerjaan lain.

 

Wisata Gunung Lembu ini memang sempat ditutup selama 3 bulan ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), jadi para pengelola atau pengurus jalur pendakian pergi mencari proyek (ada yang ikut menambang batu, dll). Akibatnya jalurnya tidak terurus, tanaman tumbuh menutupi jalur, tali jalur hilang (diambil orang) atau putus, petunjuk arah rusak, dll.

 

Perlu Trippers ketahui juga, di antara Pos 1 dan Pos 2 ada lokasi di mana monyetnya banyak. Ada yang bergelantungan di pohon-pohon dan membuat daun berguguran bahkan buah berjatuhan. Jadi harap waspada. Kepala saya nyaris tertimpa buah yang dijatuhkan monyet dari atas pohon.

 

Kadang kawanan monyet itu juga berkeliaran di Batu Lembu. Saat kami dan banyak pendaki lain sedang duduk-duduk sambil makan di Batu Lembu, tiba-tiba ada monyet besar mengambil makanan. Nah untung bawa pemandu, mereka berani menghalau monyet-monyet. Dan saya pun bisa berfoto-foto tanpa bocor di Batu Lembu karena pendaki-pendaki lain yang ketakutan sama monyet pada balik ke warung.

 

Saya sempat melihat dan memotret jalur pendakian dari Batu Lembu ke puncak. Jalurnya lumayan curam, makanya dipasangi tali yang bisa membantu pendakian.

 

Jalur pendakian dari Batu Lembu menuju puncak

 

O ya, sinyal HP (Telkomsel dan Indosat) bagus sepanjang perjalanan maupun di Batu Lembu. Memang ada beberapa tempat yang sinyalnya kurang oke, tapi secara umum bagus.

 

KENAPA NAMANYA GUNUNG LEMBU?

Karena bentuk gunungnya kalau dilihat dari jauh seperti sapi yang sedang duduk. Nah Batu Lembunya adalah punuk sapinya.

 

Baca juga: “Kabar Gembira! Siapa Pun Bisa Memanjat Tebing Gunung Parang

 

TIPS DAN SARAN:

- Kalau nggak mau pakai jasa pemandu, paling nggak, belilah makanan dan minuman di warung supaya ada uang masuk ke orang lokal.

- Jangan buang sampah. Bawalah sampah-sampah plastik kalian kembali ke bawah.

- Jangan mencoret-coret di batu dan di mana pun. Sayangilah alam.

- Bawalah trekking pole karena sangat membantu saat naik maupun turun di spot-spot yang curam dan licin.

- Mau lebih nyaman lagi pakailah sarung tangan yang akan membantu saat Trippers harus memegang tali.

- Kenakan sepatu hiking atau sepatu trail ketimbang sandal gunung karena tanahnya kering dan berpasir sehingga agak licin, dan debunya masuk kalau dengan sandal gunung.

- Kenakan celana panjang/pendek yang bahannya nggak tipis dan berwarna gelap karena siapa tahu di beberapa spot pas turun kita perlu ngesot.

- Trek ke Batu Lembu via Sedong Asmiran nggak bisa dibilang mudah. Dibutuhkan endurance dan kekuatan kaki. Buat pemula yang belum pernah mendaki sama sekali memang masih bisa sih, asal siap capek dan tabah saat melewati jalur-jalur sulit.

- Karena posisinya tak terhalang, sunrise maupun sunset bisa dilihat dari Batu Lembu. Tapi untuk melihatnya disarankan kemping. Di atas Batu Lembu sebelum puncak ada area kempingnya. Di puncaknya juga bisa kemping tapi karena lahannya sempit, jadi nggak bisa muat banyak tenda.

 

Info lain:

Tak jauh dari Gunung Lembu ada gunung lain yang karakter pendakiannya mirip Gunung Lembu, namanya Gunung Bongkok. Jarak keduanya sekitar 11 km.

 

 

Teks & Foto: Shinta Djojonegoro
Comment
Karmila

Usia 9 thun nolehkah tracking ke gunung lembu?

2020-10-26