DOWN SOUTH TRIP 3: MARGARET RIVER, KOTA ANGGUR NAN CANTIK 2024-03-27 12:30

 

Tujuan kami berikutnya adalah “hotel” alias tempat parkir camper van bernama Margaret River Tourist Park. Margaret River adalah sebuah kota kecil di selatan Kota Perth, Australia Barat. Kami melewati kota-kota kecil seperti Metricup dan Cowaramup --rupanya akhiran “-up” Bahasa Aborigin mirip dengan awalan “ci-“ di Jawa Barat.

 

Baca juga: “Liburan Keluarga ke Australia Barat, Enaknya ke Mana Saja?

 

Saya lumayan deg-degan ketika pertama kali masuk Tourist Park: pertama check in dulu, lalu resepsionis memberikan kunci pagar dan dua kunci toilet masing-masing cowok dan cewek,  karena di Margaret River ini kami book lokasi parkir dengan toilet komunal. Lalu dikasih peta, dan cari lokasi parkirnya di mana. Rupanya, yang disewa adalah pelataran parkir dengan colokan listrik dan supply air lewat keran (bisa diminum).

 

Baca juga: “Panduan Cerdas Eksplor Perth

 

Setelah parkir, “Pak Supir” mulai beraksi: buka atap tenda, lalu buka bagasi dan keluarkan perlengkapan wajib: empat kursi lipat, satu meja lipat, pasang di samping mobil. Lalu colokkan listrik dari mobil ke panel, dan jreng! Mobil berubah jadi rumah: lampu nyala, AC hidup, anak-anak mulai menyalakan TV. Ibuk-ibuk mulai beberes rumah: lantai disapu, tangga bawah pintu dibuka, panci-panci disiapkan untuk memasak. Sementara Pak Supir terus bekerja: mengisi tangki air mobil melalui selang, menyambung selang khusus pembuangan mobil ke lubang yang disediakan, lalu mengisi air minum ke teko untuk bikin teh panas, maklum suhu 18oC. Sambil duduk menikmati teh dan menunggu makan malam siap, teman saya memutar lagu: “I Still Call Australia Home”. “Welcome to Australia, mate!”  katanya. Mantap! Baru seruputan kedua, Pak Supir sudah dipanggil lagi. Makanan sudah siap! Pempek lenggang, cakalang rica Manjoo Manado, tumisan sayuran, dan tentu saja nasi panas. Kami pun santap malam pertama kali di samping mobil, diselingi tiupan angin sejuk, di bawah langit malam yang bertabur bintang. Habis makan, Pak Supir kembali beraksi: cuci piring! Tourist Park menyediakan ruangan besar berisi beberapa sink untuk cuci piring lengkap dengan sabunnya, lalu ada oven, microwave, meja makan dan sofa. Ketika masuk ke ruangan berpenghangat ini, baru sadar bahwa di luar suhu sudah turun lagi ke 15oC!

 

Buka atap tenda camper van

 

Keesokan paginya, ritual Pak Supir beda lagi: tambah suplai air di mobil, lalu “kuras kaset”. Apa itu? Jadi pembuangan di camper van ada dua: satu “grey water” alias limbah air wastafel dan drain, ini yang dibuang lewat selang. Satu lagi adalah limbah toilet, yang ditampung di tangki kecil alias “kaset”. Kaset ini bisa dicabut, lalu dibawa sampai ke dump site, di mana ada lubang khusus limbah organik. Tinggal buka tutupnya dan tuang, dan disediakan selang air juga untuk membilas tangan dan kasetnya. Serba praktis, bersih, mandiri… nggak pake, “Bang, tolong bantu kurasin kaset saya ya…” hehehe.

 

Jadwal kami hari itu: melihat Margaret River, pusat industri wine di Australia Barat. Fermentasi lagi nih andalannya! Saya heran bagaimana anggur bisa tumbuh di tanah yang terlihat kering. Sepanjang jalan menuju kawasan Margaret River nampak berderet-deret peternakan sapi dan domba. Pada suatu lokasi tiba-tiba anak-anak berteriak: “Daddy! Kanguru!” Rupanya ada hutan di antara perkebunan di mana ada 3-4 ekor kanguru sedang melompat. Waduh, seperti mimpi melihat kanguru!

 

Beberapa saat kemudian baru terlihat hamparan kebun anggurnya. Astaga, luas sekali! Tidak seperti di Prancis atau Italia yang sambung-menyambung, di sini saking luas tanahnya, jarak antar kebun diselingi padang rumput. Di tiap kebun anggur ada papan merek wine-nya dengan tulisan “Tasting Inside”. Duh, ngiler! Tapi, sebelum wine, kami punya tujuan pertama: Margaret River Chocolate Factory. Cokelat --fermentasi lagi! Rupanya, di wilayah ini banyak pabrik cokelat yang memanfaatkan wisatawan winery. Margaret River Chocolate Factory punya sebuah outlet besar dengan jendela ke ruang produksi, sehingga pengunjung bisa melihat proses produksi truffle kelinci (menyambut Paskah) dan proses conching atau mencampur cokelat dengan udara. Salah satu produknya cokelat berbentuk quokka, sejenis binatang marsupial yang hidup di Rottnest Island dekat sini. “Sekadar info, ketika pendatang Belanda menemukan pulau ini, mereka mengira quokka adalah tikus, jadi pulaunya diberi nama Rott Nest alias Sarang Tikus,” kata mas kasir menjelaskan dengan keramahan khas Australia.

 

Hamparan kebun anggur di Margaret River

 

Margaret River Chocolate Factory

 

Bisa melihat ke ruang produksi dari jendelanya di Margaret River Chocolate Factory

 

Dari sini, kami mampir ke winery di sebelahnya untuk icip-icip: namanya Providore. Kami disambut dengan parkiran luas dan sebuah taman herbal yang menarik: ada basil, lavender, cabai, tomat, sampai pohon jeruk. Anak-anak tiba-tiba berteriak: “Daddy! Itu apa?” sambil menunjuk keluar pagar di mana ada tiga ekor burung besar berwarna putih dengan kepala dan paruh hitam panjang seperti celurit. Rupanya, itu burung ibis, “ayam”-nya Australia yang ada di mana-mana dekat tempat sampah. Kami lalu masuk ke Providore Winery, mencicipi wine rose mereka yang konon paling bagus, dengan harga 38 dolar. Sebuah harga premium, tapi bolehlah beli dari pabriknya langsung! Saya juga mencicipi chardonnay dan rose-nya. Segar!

 

Providore

 

Taman herbal

 

Setelah icip-icip wine, kami berkeliling di Margaret River untuk menghabiskan waktu, karena kami punya reservasi jam 7 malam. Kami melewati ladang-ladang anggur, dengan papan cantik menunjukkan nama dan produknya. Saking banyaknya anggur, ketika makan siang lalatnya pun paling semangat menghinggapi anggur! Mungkin lalat di sini belum pernah lihat pepaya. Kemudian kami melalui kota-kota kecil sekitar Margaret River, dengan deretan coffee shop dan jajaran toko-toko cantik dengan atap rendah, warna-warni cerah, teratur rapi. Tiba-tiba saya merasa familiar dengan pemandangan ini: mirip di mana ya? Ah, saya ingat: Uluwatu! Ubud! Legian! Ya… rupanya pengaruh Australia di Bali sangat kuat, dan apa yang kami lihat selama ini di Bali adalah gaya Australia. Bagus!

 

Jajaran toko-toko cantik dengan atap rendah, mirip Bali!

 

Itu juga perasaan saya ketika masuk Swings & Roundabouts, sebuah resto terkenal di Margaret River sampai kami harus booking 3 minggu sebelumnya. Meskipun terkenal, suasana sangat santai, dan interior juga didominasi aksen kayu dan tanaman hijau, dengan hiasan bergaya homey, membuat kami segera betah ngobrol di tempat ini. Ya, mirip dengan kafe di Bali, misalnya Nourish atau Livingstone! Pesan apa? Baked cauliflower alias blumkol panggang, hawaiian pizza, margherita pizza, sebuah sajian ikan yang disebut “dish of the day”, serta ayam goreng untuk anak-anak. Inilah kuliner canggih ala Aussie! Lengkap dengan petunjuk: organik, gluten free, vegetarian, non-GMO. Baked cauliflower ini menarik: blumkol dipanggang bersama saus keju dan taburan kacang sangrai plus kurma. Menarik, karena paduan kacang-kurma memang enak dengan citarasa Timur Tengah, tapi ada krim keju yang cocok dengan keduanya plus blumkol yang dipanggang memberi tekstur renyah dan berfungsi sebagai basisnya seperti nasi, karena rasanya cenderung plain. Menarik! Pizzanya lumayan, dan memang dough-nya bagus sekali. Semua hidangan disajikan dengan plating menarik, warna-warni indah menunjukkan kelas dari resto ini. Saya memesan Chardonnay by glass, yang hadir dengan gelas biasa berbentuk bohlam lampu. Kata siapa minum wine harus pakai gelas wine juga? Dasar Aussie, serba santai! Total kerusakan kira-kira 130 dolar berenam.

 

Suasana di Swings & Roundabouts, sebuah resto terkenal di Margaret River 

 

Baked cauliflower alias blumkol panggang

 

 

 

 

Chardonnay by glass, yang hadir dengan gelas biasa berbentuk bohlam lampu

 

Setelah selesai makan, kami kembali ke camp site. Kali ini Pak Supir nggak perlu cuci piring! Sekali lagi kami ngeruntel di dalam mobil Maui untuk istirahat tidur. Besok, perjalanan berlanjut!

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment