DI INDONESIA AJA. KEMBALI KE BALI 2020-11-24 22:05

 

’Indonesia Care' adalah bentuk kepedulian dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dengan mengusung prinsip CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment ) yaitu kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan dalam melakukan kegiatan wisata yang dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Hal ini dilakukan sebagai langkah nyata agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat bergerak kembali. Untuk mensukseskan program ini Kemenparekraf juga giat mengedukasi masyarakat, bahwa dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan terutama dalam seluruh kegiatan wisata, maka ekonomi mulai tumbuh kembali tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat, dan Indonesia bisa menjadi pemenang melawan pandemi Covid-19.

 

Sebagai wujud nyata, Raiyani Muharramah sebagai perwakilan dari MyTrip mengikuti fam trip dengan didukung penuh oleh Kemenparekraf yang bekerja sama dengan Garuda Indonesia beberapa hari lalu, untuk melihat langsung pemulihan wisata di Bali. Fam trip kali ini bertujuan melihat langsung kesiapan Bali dalam pelaksanaan protokol kesehatan di lokasi-lokasi strategis wisata di daerah Ubud dan sekitarnya.

 

 

Bali sebagai denyut nadi wisata dunia, kini mulai berdetak kembali. Secara perlahan geliat ekonomi dan wisata kembali berjalan dengan ritme yang semakin baik. Pertokoan, pasar, lalu lintas mulai berjalan normal, walaupun masih tampak sebagian toko dan tempat wisata yang masih tutup. Pasar wisata yang kerap ramai dengan turis, selama berbulan-bulan pandemi mengalami penurunan yang sangat drastis. Namun perlahan pasar dan toko berbenah, melengkapi diri dengan fasilitas kesehatan. Kelengkapan protokol yang kini sudah dilakukan antara lain pengecekan suhu tubuh dengan thermogun, disediakannya fasilitas wastafel dan sabun untuk cuci tangan, kewajiban menggunakan masker bagi semua penjaga toko dan seluruh staf di tempat wisata serta tentu saja juga bagi pengunjung. Kendaraan wisata juga dilengkapi hand sanitizer dan masker. Pemandu dan supir yang bertugas juga dipastikan sudah lolos rapid test dengan hasil nonreaktif.

 

Kendaraan wisata dilengkapi hand sanitizer dan masker

 

Beberapa objek wisata berikut ini sudah menerapkan CHSE sebagai syarat protokol kesehatan, yaitu pemeriksaan suhu tubuh, penyediaan fasilitas cuci tangan, peringatan menggunakan masker serta menjaga jarak sesama pengunjung.

 

1. PURA PUSEH BATUAN 

Berada di Jalan Raya Batuan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar, Pura Puseh Batuan merupakan salah satu pura tertua di Bali. Yang unik dari pura ini adalah masih tersimpannya beberapa artefak, peninggalan tua budaya Bali yang ditemukan di sekitar Gianyar dan dikumpulkan di halaman belakang pura. Ada prasasti, patung, pintu rumah, dan beragam alat upacara. 

 

Sebelum masuk ke pura, di seberang pura ada sebuah wantilan atau paviliun Bali (bale), tempat di mana pada malam hari biasa dipentaskan Tarian Gambuh setiap hari purnama dan awal bulan. Namun selama pandemi kegiatan ini dihentikan dulu sementara. 

 

Masuk ke pura ini kita diwajibkan mengenakan kain sarung, baik wanita maupun pria. Dan bagi wanita yang sedang haid dilarang untuk masuk. Tidak dipungut biaya untuk masuk ke pura namun disediakan kotak donasi bagi yang berkenan memberikan.

 

Tempat cuci tangan di depan Pura Puseh Batuan

 

Sebelum masuk pura, di bagian pintu masuk, saat ini kita diwajibkan mencuci tangan dulu. Keran air beserta sabun juga sudah tersedia. Dan tentunya kita harus terus mengenakan masker selama berkeliling di dalam pura. Mbak Ayu selaku pemandu menceritakan tentang sejarah dan fungsí dari tiap bangunan dalam pura, antara lain ada 3 area yang dikenal dengan nama Nista Mandala (bagian samping), Madya Mandala (bagian tengah) dan Utama Mandala (bagian dalam/utama). Kita bisa melihat bangunan padmasana dan bangunan kulkul serta meru. Di dekat wantilan sisi belakang kita bisa melihat juga Candi Bentar yang terbuat dari batu berwarna abu-abu --mengingatkan saya dengan candi-candi Hindu di Pulau Jawa.

 

2. JATILUWIH

Jatiluwih adalah desa di Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan yang berada pada ketinggian 700 mdpl. Desa cantik ini dikenal dengan persawahan terasering. Sejak abad ke-11 persawahan di Jatiluwih ini menggunakan sistem pengairan subak. Kata subak diambil dari bahasa Bali yang memiliki arti sealiran dari sumbernya yang mengarah ke sawah-sawah para petani. 

 

 

Areal persawahan seluas 20 hektar menjadikan Jatiluwih tak hanya dikenal sebagai area sawah terluas di Pulau Bali namun juga menjadikan sawah dengan sistem subak-nya sebagai kearifan lokal yang mendunia. Sejak bulan Juni 2012 kawasan ini ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. 

 

Tugu Situs Warisan Dunia UNESCO

 

Masuk ke objek wisata Jatiluwih diwajibkan membayar retribusi Rp15.000 untuk wisatawan domestik dan Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara. Jalanan beton sudah ditata rapi lengkap dengan tempat sampah, tempat mencuci tangan serta kursi-kursi bambu untuk beristirahat. Salah satu cara sederhana mencintai lingkungan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. 

 

Petugas loket tiket di Jatiluwih memakai masker

 

Tempat cuci tangan di Jatiluwih

 

Perjalanan bisa dimulai dari pintu di sisi Pura Luhur Besi Kalung dan akan berakhir di depan Resto Gong Jatiluwih. Sebaiknya kunjungan ke Jatiluwih dilakukan saat pagi hari, karena saat sore kerap turun kabut yang akan menghalangi pemandangan sawah. Serta jangan lupa membawa payung atau topi karena terkadang saat cerah matahari cukup terik dan ada kemungkinan hujan turun saat perjalanan di tengah sawah. 

 

Menikmati pemandangan sawah yang hijau menguning dengan angin semilir yang sejuk tak ayal membuat kita betah berlama-lama di lokasi ini. Udara segar nyatanya mampu membuat imun kita lebih baik.

 

O ya, selain di sini sahabat MyTrip bisa juga mencari info wisata di Indonesia.travel.

 

3. GOA GAJAH

Berada di Desa Bedulu Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Situs Goa Gajah merupakan tempat suci bagi agama Hindu dan Buddha pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa. Saat ini dikenal juga sebagai Pura Gua. Nama Gajah diberikan karena di dalam gua terdapat patung Ganesha, dan ada pula yang berpendapat karena di mulut gua terukir wajah manusia yang mirip dengan gajah. 

 

 

Kita dapat masuk ke dalam gua yang berukuran 8 x 7 m ini yang memiliki lorong berbentuk huruf T.  Lurus ke dalam dan bercabang ke kiri dan kanan. Belok kanan terdapat 3 lingga dan belok kiri tempat patung Ganesha. Ada 7 ceruk dalam gua, dulunya ceruk ini digunakan sebagai tempat bertapa para umat. Di halaman depan gua kita bisa juga melihat taman pemandian dengan beberapa buah patung pancuran. 

 

Tempat sampah dan tempat cuci tangan di Goa Gajah

 

Sebelum menuruni anak tangga menuju Goa Gajah, tentu kita wajib melakukan protokol kesehatan. Tempat mencuci tangan yang disediakan oleh Kemenparekraf terbuat dari batu alam, tampak rapi menyatu bersama alam, serta ada tempat sampah berwarna biru dan merah, yang selalu mengingatkan kita agar tetap menjaga kebersihan dan mencuci tangan selalu dengan sabun dan air mengalir. 

 

4. TAMAN AYUN

Taman Ayun berada di Mengwi Kabupaten Badung. Dengan luas 100  x 250 m, dari luar saja pura ini sudah tampak cantik karena dikelilingi oleh kolam di sisi kiri dan kanan menuju gerbang. Suasana kemegahan kerajaan begitu terasa.

 

 

Sebelum menuju loket retribusi, kita wajib ke arah area cuci tangan. Usai cuci tangan petugas depan loket akan mengukur suhu tubuh dengan thermogun, kita cukup menyodorkan sisi pergelangan tangan. Apabila kondisi sehat (suhu tubuh normal) maka kita boleh melanjutkan masuk ke area pura. Dan tak lupa memakai masker ya. 

 

Cuci tangan sebelum masuk Taman Ayun

 

Cek suhu tubuh

 

Pura Taman Ayun merupakan Paibon/Pura Raja Mengwi untuk memuja roh leluhur dari raja-raja terdahulu yang diwujudkan pada sebuah bangunan Paibon. Di sisi lain ada pula beberapa meru-meru untuk pemujaan dan persembahyangan kepada para dewa. 

 

5. PURA ULUN DANU

Pura Ulun Danu Bratan adalah sebuah candi yang berada di atas air Danau Bratan di pegunungan Bedugul. Tepatnya berada di Desa Candikuning, Baturiti, Tabanan. Pura ini didirikan dengan tujuan untuk persembahyangan bagi dewa air, karena Danau Bratan dikenal sebagai danau sumber perairan pertanian. Wilayahnya yang subur berada pada ketinggian 1.400 mdpl, membuat kita dapat merasakan udara sejuk dan ketenangan di sini.

 

 

Saat ini di kawasan pura banyak ditambahkan fasilitas seperti tempat bersantai, ada joglo, area bermain anak, alat kayak dan ski air. Saat ini Pura Ulun Danu sudan dibuka untuk umum dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Tanpa menggunakan masker pengunjung dilarang masuk. Begitu pula sebelum masuk area pengunjung wajib mencuci tangan terlebih dahulu. Harga tiket masuk wisatawan domestik anak-anak Rp20.000, dewasa Rp30.000, wisatawan mancanegara anak-anak Rp50.000, dewasa Rp75.000.

 

6. BLOOM GARDEN 

Hanya 4 km dari Pura Ulun Danu Bratan terdapat taman bunga yang dikenal dengan Bloom Garden. Berada di  Banjar Batusesa Desa Candikuning Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan. Objek wisata ini mengingatkan kita pada Taman Bunga Nusantara yang berada di Puncak Cipanas Jawa Barat. 

 

Di taman seluas 5 ha ini kita bisa menikmati aneka ragam bunga warna-warni, ada juga replika Volendam dengan rumah kincir anginnya, bangunan Marina Bay Sands di Singapura, aneka permainan anak yang seru. Tempat ini sangat cocok untuk liburan santai bersama keluarga.

 

 

Pengunjung tetap melakukan protokol kesehatan yakni, mencuci tangan di tempat cuci tangan yang telah disediakan, diperiksa suhu tubuhnya sebelum menuju area pembelian tiket masuk, memakai masker serta menjaga jarak dan tidak berkerumun di area Blooms Garden. Harga tiket Rp20.000 untuk wisatawan lokal, Rp40.000 untuk wisatawan mancanegara.

 

7. PASAR UBUD

Berwisata ke Bali tapi tak mampir ke Pasar Ubud rasanya kurang lengkap. Setelah beberapa bulan melewati masa pandemi, Pasar Ubud kini mulai beraktivitas kembali di masa transisi. Walau masih tampak belum ramai dan sebagian toko masih tutup. Namun pedagang pakaian, pernak-pernik, dan berbagai suvenir khas Bali sudah mulai menata dagangannya dan berjualan kembali. Tentunya dengan melakukan transaksi tanpa saling berkerumun, menggunakan masker, dan tak lupa membawa hand sanitizer serta sering mencuci tangan. 

 

 

Para ibu penjaja di Pasar Ubud tetap optimis bahwa kondisi pasar akan ramai kembali walau saat ini belum normal. Masa transisi akan berjalan baik apabila kita disiplin pada aturan yang diterapkan pemerintah. 

 

Belanja di Pasar Ubud sangat direkomendasikan karena harganya tentu bisa lebih murah dibandingkan toko suvenir yang besar, namun tetap harus pandai menawar harga yang pas ya. 

 

Area parkir bagian depan Pasar Ubud cukup luas namun apabila penuh bisa menggunakan halaman parkir bagian belakang.

 

Harapan para pedagang Pasar Ubud saat MyTrip berbincang sejenak, mereka ingin masa pandemi ini segera berakhir, dan mereka juga siap melakukan protokol kesehatan asal bisa berdagang lagi, dan diharapkan pemerintah membantu mengajak wisatawan untuk berkunnjung ke Bali lagi nanti tentunya apabila kondisi sudah aman. Sepinya Bali dari kunjungan wisatawan memang jelas mematikan perekonomian para pedagang karena sebagian besar mereka hanya bertumpu pada hasil dagang di Pasar Ubud. 

 

 

OK Trippers, jika nanti kondisi sudah membaik, tetaplah jadi pahlawan bagi negeri sendiri dengan berwisata #diIndonesiaAja dan menata kehidupan dan gaya hidup yang baru. Dengan mematuhi tata cara baru, berkegiatan di tempat wisata dengan disiplin mengikuti protokol kesehatan, dengan demikian kepedulian kita tak hanya menyelamatkan diri sendiri namun juga banyak orang.  

 

Baca juga tentang InDOnesia CARE di: https://www.indonesia.travel/id/id/i-do-care-covid19

 

 

Teks & Foto: Raiyani Muharramah
Comment