PANDUAN CERDAS EKSPLOR TAMAN NASIONAL WASUR

PANDUAN CERDAS EKSPLOR TAMAN NASIONAL WASUR

Tuesday, 16-07-2019 | 15:46

Rumah semut raksasa yang tingginya bisa 5 m

 

Taman Nasional Wasur merupakan lahan basah yang terluas dan terpenting untuk jalur migrasi burung air di sisi selatan Pulau Papua, dan setiap tahunnya Wasur menjadi tempat singgah ribuan burung migran dari Australia, New Zealand dan Asia. Kawasan ini juga punya daya tarik lain: rumah semut raksasa!

 

TN Wasur seluas 431.425,12 hektar ditetapkan sebagai taman nasional tanggal 6 Maret 1990. Biodiversitasnya membuat Wasur dijuluki "Serengeti Papua". Kawasan ini unik karena bagian dari lahan basah terbesar di Papua, berupa hamparan padang rumput yang terendam secara alami, hutan rawa permanen dan semipermanen, hutan monsoon, hutan pantai, hutan bambu, dan hutan sagu.

 

Saat musim kering, rawa yang berlimpah air berubah mengering, menyisakan tanah retak dan genangan air di tengah padang. Pada puncak musim panas, Oktober dan November, beberapa jenis kanguru, walabi, rusa, babi hutan, musang hutan, kuskus berbintik banyak datang ke rawa dan sungai yang masih ada airnya. Inilah saat yang tepat bertemu mereka. Di rawa juga ada buaya air tawar dan buaya air asin.

 

     Rawa-rawa di TN Wasur

        

Sebagian area TN Wasur masuk Distrik Sota, sebagian lagi Distrik Naukenjerai, Kabupaten Merauke, Papua. Kota gerbang masuknya: Merauke, Papua.

 

CARA KE WASUR

- Dari Jakarta terbang ke Merauke (Bandara Mopah), ada penerbangan langsung, tapi lebih banyak dengan transit.

- Dari kota lain di Papua, ada penerbangan langsung dari Jayapura ke Merauke dengan durasi 1 jam 15 menit.

- Dari Merauke ke TN Wasur hanya ada pilihan sewa mobil melalui jalan Trans Papua ke arah perbatasan Sota. Dari pusat Kota Merauke ke gerbang masuk TN hanya 30 menit berkendara.

 

Baca juga: "Potensi Wisata Trans Papua (Bagian 2): Rute Merauke-Tanah Merah (Boven Digoel)"

 

WAKTU KUNJUNGAN TERBAIK

Agustus hingga November. Terutama Oktober, saat burung-burung dari Australia dan New Zealand bermigrasi ke Wasur mencair kehangatan. Di antaranya burung trinil pantai, camar angguk hitam, undan kacamata, dara laut jambon, kirik-kirik Australia, dara laut tengkuk hitam.

 

DURASI IDEAL

Kalau sekadar untuk melihat rumah semut dan Rawa Biru sebagai pusat keramaian satwa liar cukup seharian. Tapi kalau hunting foto satwa di Rawa Biru pasti butuh beberapa hari.

 

KEGIATAN YANG BISA DILAKUKAN

- Melihat Rumah Semut

Baru beberapa menit saja berkendara melewati gerbang masuk, kita sudah disuguhi pemandangan rumah semut di kiri kanan jalan. Bentuknya yang menjulang berwarna cokelat kemerahan cukup mencolok. Apalagi jumlahnya cukup banyak.

 

Rumah semut atau yang biasa disebut musamus ini sebenarnya rumah rayap. Struktur berbentuk kerucut yang tingginya bisa mencapai 5 m dan diameternya 2 m ini dibangun oleh koloni rayap dari rumput kering dan lumpur serta liur rayap sebagai bahan perekatnya. Proses pembentukannya hingga tinggi memakan waktu tahunan.

 

Rumah semut

 

- Menonton Atraksi Satwa Di Rawa Biru

Dari jalan utama kawasan, ke Rawa Biru harus masuk lagi sejauh 24 km. Kalau musim kemarau bisa 1,5 jam berkendara, tapi kalau musim hujan, jalanan berlumpur, butuh waktu lebih lama.

 

TN Wasur sering disinggahi kawanan burung yang bermigrasi dari Australia bagian utara, tepatnya di sekitar Rawa Biru. Rawa Biru adalah danau tadah hujan yang menjadi sumber air bagi masyarakat setempat bahkan se-Kabupaten Merauke. Kegiatan bird watching biasanya dipusatkan di sekitar rawa. Di Rawa Biru ini juga hidup ikan gastor (gabus toraja) yang lezat kalau digoreng.

 

- Berinteraksi Dengan Suku Marind

Di kawasan taman nasional ini tinggal suku asli Papua bagian selatan yakni suku Marind. Mereka menetap di Kampung Rawa Biru.

 

PENGINAPAN

Sebaiknya menginap di Kota Merauke saja karena jaraknya nggak jauh. Merauke kota besar, hotel bintang 4 pun ada.

 

TIPS

- Bawa bekal makan siang dan air minum karena sama sekali nggak ada warung di kawasan.

- Oleskan sun block dan kenakan topi karena terik mataharinya.

Teks & Foto: Mayawati NH

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


150

Back to Top