NAIK BANDROS DI BANDUNG, DARI ASAL-USUL BANDUNG SAMPAI DILAN DAN SATE JANDO (Bagian 2-Tamat) 2024-03-07 12:10

Halte Bandros di Alun-Alun Bandung sisi selatan

 

Naik Bandros alias Bandung Tour on Bus ternyata menarik dan menyenangkan lho… Bahkan wargi Bandung pun, saya rekomen untuk mencobanya. Saya dan 3 teman mencobanya 14 Januari 2024 lalu. Kami naik dari Alun-Alun Bandung di sisi selatan, tempat mangkal Bandrosnya. Bayar Rp20.000 per orang, langsung di atas busnya.

 

Berikut ini sambungan ringkasan cerita-cerita menarik yang disampaikan pemandu bernama Kang Denny dari HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bandung.

 

Bagian 1 baca di sini.

 

Kalau melulu cerita sejarah tentu banyak yang akan bosan. Jangan khawatir, pemandu juga akan menunjukkan tempat-tempat kuliner enak maupun legendaris. Di Jl. Hayam Wuruk terdapat kedai pinggir jalan yang antreannya mengular. Namanya Sate Jando. Jangan berpikir jando itu janda ya… Karena jando ini artinya daging yang banyak lemaknya.

 

Bus juga melewati SMAN 20 Bandung di Jl. Citarum yang merupakan lokasi syuting film Dilan. Sekolahnya Dilan dan Milea nih...

 

Di Jl. Lombok pemandu menunjukkan lagi kuliner favorit di Bandung. Yang pertama Gudeg Banda. Lho, gudeg ‘kan dari Jogja, kenapa ini ada Gudeg Banda? Jadi, awalnya gudeg ini jualan di Jl. RE Martadinata pakai gerobak sampai akhirnya sewa tempat di Jl. Banda. Karena racikannya enak dan beda, membuat banyak yang ketagihan. Jadi kalau pengen gudeg enak di Bandung orang-orang datang ke Jl. Banda. Jadilah dinamai Gudeg Banda. Sekarang sudah buka beberapa cabang di Bandung. Yang kedua, Lomie Lombok yang berupa warung tenda.

 

Cerita urban legend juga mewarnai perjalanan kami dengan Bandros. Tentang kakek tua tukang jagal yang mencat rumahnya semua dengan warna merah, dan memajang fotonya besar-besar di depan… Yak… ternyata Kentucky Fried Chicken!

 

Yang berikutnya cerita urban legend beneran. Tersebutlah rumah yang ditinggalkan penghuninya dalam kurun waktu sangat lama sampai tidak terawat dan dirimbuni tumbuhan liar di halamannya hingga seperti hutan kecil. Inilah Rumah Kentang di Jl. Banda, yang pernah diangkat menjadi film. Rumah Kentang: The Beginning. Dulu kawasan ini sepi, sekarang sih sudah ramai.

 

Komplek militer zaman Belanda yang kini nama jalannya adalah nama-nama pulau di Indonesia juga dilewati. Ada gedung dengan tulisan Belanda “Jaarbeurs” yang memajang banyak tank dan peralatan perang di halamannya, yang kini adalah KODIKLAT TNI AD, karya arsitek Wolff Schoemaker juga.

 

Nggak mau kalah dengan Semarang yang punya Lawang Sewu, Bandung juga punya Gedung Sarewu Jandela, yang kini menjadi Komando Daerah Militer III/Siliwangi Detasemen Markas (bagian dari Pangdam Siliwangi).

 

Peristiwa sejarah yang sangat melekat pada Kota Bandung adalah “Bandung Lautan Api”. Nah, saat melintasi rel kereta di tengah-tengah Kota Bandung, yang membelah kota dari barat ke timur, pemandu bercerita. Saat peristiwa Bandung Lautan Api lintasan rel kereta ini menjadi border line yang memisahkan dua kubu. Sebelah utara dikuasai Belanda dan Inggris, sementara selatan dikuasai Tentara Rakyat yang didukung pemuda-pemuda lokal. Ketika Belanda mengultimatum bahwa Bandung harus dikosongkan, warga pun terpaksa keluar mengungsi di tengah malam gelap. Tapi mereka sudah bersepakat, sesaat sebelum ditinggalkan, Kota Bandung mereka bumihanguskan. Saking banyaknya titik-titik api hingga Bandung pun bagaikan lautan api. Akhirnya dari tangan seorang pemuda yang menjadi saksi peristiwa tersebut, terciptalah lagu Halo Halo Bandung.

 

Mendekati finish kembali di Alun-Alun, tempat penting yang ditunjukkan adalah Titik 0 KM  Bandung di Jl. Asia Afrika. Ada 4 patung dada di kiri kanannya, yakni Ir. Soekarno, Gubernur pertama Jawa Barat Mas Sutardjo Kertohadikusumo, Herman Willem Daendels, Bupati Bandung saat itu R.A Wiranatakusumah II. Titik 0 ini adalah tempat Daendels menancapkan tongkatnya di dekat jembatan Sungai Cikapundung pada 1810 untuk menandai pusat kota, saat ia bersama R.A Wiranatakusumah II sedang mengawasi pembangunan Jl. Raya Pos yang merupakan bagian dari Jl. Anyer-Panarukan. Di belakang patok 0 KM itu terdapat monumen mobil setum kuno. Titik 0 KM ini berdiri di depan kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat.

 

Titik 0 KM  Bandung di Jl. Asia Afrika dan 4 patung dada di kiri kanannya

 

Ini patok Titik 0 KM Bandung

 

Titik 0 KM Bandung ini jadi lokasi favorit buat wisatawan berfoto

 

Jl. Raya Pos yang membentang sepanjang Pulau Jawa dari Anyer sampai Panarukan dibangun dengan tujuan untuk memindahkan dengan cepat kekuatan militer pada saat itu, dan sekaligus untuk mengantisipasi penyerangan dari pantai utara, Laut Jawa, juga untuk mengangkut kopi. Jawa Barat dari dulu adalah penghasil kopi.  

 

Bus Bandros melintasi Jl. Asia Afrika, salah satu bagian Jl. Raya Pos

 

Setelah itu bus melewati terowongan yang ada tulisan: “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” (M.A.W. Brouwer). Dan sampailah kami kembali ke lokasi keberangkatan di sisi selatan Alun-Alun Bandung.

 

Kalau lapar usai keliling dengan Bandros, ada bakso enak yang bisa ditempuh jalan kaki dari Alun-Alun, yaitu Baso Linggarjati di Jl. Balong Gede No.1. Ini jenis bakso dengan kuah bening, ada mie yamin juga dan andalan lainnya es alpukat. Harganya memang agak premium untuk ukuran bakso di rumah makan sederhana. Mie baso maupun bihun baso seporsi Rp50.000, es alpukat Rp40.000.

 

Baso Linggarjati dan es alpukat

 

Suasana di dalam rumah makan Baso Linggarjati

 

INFO TENTANG BANDROS:

- Selain naik dari Alun-Alun Bandung, bisa juga naik dari Jl. Cilaki.

- Rekomendasi parkir:

Naik Bandros di Alun-Alun Bandung, parkirnya bisa di parkir basement Alun-Alun Bandung, parkir basement Kings Shopping Centre, di tepi jalan Jl. Cikapundung Barat.

Naik Bandros di Jl. Cilaki, parkirnya bisa di tepi jalan di Jl. Cilaki atau Jl. Cisangkuy.

- Jam operasional: 08.00-16.00 setiap hari (keberangkatan terakhir pkl.15.00).

- Durasi +/-45 menit tergantung kondisi lalu-lintas. Saat weekdays biasanya lebih lama karena macet.

- Bandros juga bisa disewa untuk grup keliling Kota Bandung. Bisa diantar jemput dan rekues rutenya.

- Bandros ini disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk para wisatawan serta dikelola oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung dan Mang Dudung (Masyarakat Paduli Bandung).

 

Yuk naik Bandros!

 

Teks & Foto: Mayawati NH (Maya The Dreamer)
Comment