I LEFT MY HEART IN FRANKFURT MAIN-HATTAN (2) - MAKAN-MAKAN DI FRANKFURT 2023-12-17 21:55

Bratwurst, sauerkraut, dan mashed potato

 

Satu hal yang saya tunggu di Frankfurt: makanan Jerman! Mengapa? Justru untuk melawan mitos bahwa makanan Jerman itu “tidak enak”. Masak bangsa yang besar seperti Jerman tidak punya makanan enak? Tentu saja ada, hanya berbeda dengan Italia dan Prancis yang lebih mendunia kulinernya. Ke mana kita kalau mau mencicipi kuliner khas Jerman di Frankfurt? Zum Gemalten Haus!

 

Zum Gemalten Haus

 

Baca juga: “I Left My Heart in Frankfurt Main-Hattan (1) - Jalan-Jalan di Frankfurt

 

Restoran ini terletak di seberang Sungai Main dari Gedung Opera, lokasinya di Schweizer Strasse. Zum Gemalten Haus artinya “Rumah yang Dilukis” --dan memang benar, nampak rumah makan yang interiornya penuh lukisan bertema budaya Jerman: gunung-gunung dan padang rumput, bagaikan keluar dari cerita Grimm Bersaudara. Dalam ruangan ini pun suasananya seperti ruang kelas Harry Potter: lampu gantung dari tanduk rusa, lampu kuning, interior kayu, dan jendela berkaca patri. Suasananya riuh-rendah oleh orang lokal, nampak hanya sedikit turisnya. Mantap!

 

Interior Zum Gemalten Haus, penuh lukisan bertema budaya Jerman

 

Jendela berkaca patri di Zum Gemalten Haus

 

Yang pertama: Äppewoi! Apa itu? Bahasa Inggrisnya apple wine, minuman dari fermentasi apel. Ini adalah khas Frankfurt: disajikan dalam guci keramik putih yang dinamai “Ebbel”. Bahkan gelasnya pun khusus, ada pola silang-silang dan disebut “Gerippte”. Saya langsung suka, rasanya manis mirip dengan “most” di Austria. Kemudian saya memesan graupensuppe, lalu (tentu saja) bratwurst dengan sauerkraut dan mashed potato. Saya penasaran, karena meskipun bisa bahasa Jerman, saya tidak mengerti nama menu makanannya: apa itu “graupensuppe”?

 

Äppewoi, apple wine

 

Ternyata yang disebut graupensuppe adalah sup kaldu dan sayuran dengan barley. Ide jenius! Barley yang di Singapura jadi minuman, di sini jadi bahan supnya. Porsinya besar, tidak seperti minestrone Italia yang supermini. Dengan suhu di luar mencapai 10oC, menyantap sup bening panas dengan sayuran dan tekstur barley yang mirip nasi, terasa hangat dan sedap mengingatkan saya pada soto kudus campur nasi. Mantap!

 

Graupensuppe, sup kaldu dan sayuran dengan barley

 

Penulis menyantap graupensuppe

 

Hidangan utama: bratwurst, sauerkraut, dan mashed potato! Teman-teman, tidak semua sosis itu sama. Bratwurst artinya sosis goreng, biasanya warnanya putih. Bratwurst yang enak adalah yang bukan produksi mesin, masih terasa serat dagingnya, lembut dan empuk, aromanya gurih, dengan kulit dari usus yang tipis. Cocok! Lalu ada sauerkraut: ini juga sebuah hidangan khas Jerman. Rasanya tak terlupakan: asam segar, dengan tekstur lembut, dibuat dari kol ungu melalui proses fermentasi. Hidangan utama ini sederhana tapi sempurna: tekstur kentang tumbuk dengan keju yang asin gurih, sauerkraut yang asam segar, dan sosis yang hearthy alias berdaging dan mengenyangkan. Mantap!

 

Bratwurst, sauerkraut, dan mashed potato

 

Hidangan Frankfurt yang juga saya santap adalah: Frankfurter, tentu saja! Tempatnya sederhana, di sebuah Würstelstand atau kios sosis di kota lama Frankfurt. Sosis ini disantap dengan roti dan saus mustard yang pedas. Saya melihat ada yang memesan hidangan khas lainnya: green sauce (grüne Soße) dan kentang rebus. Kentangnya nyaris sebesar pepaya kecil, wkwkwk! Dalam hati kepingin mesen, tapi takut nggak habis!

 

Frankfurter sandwich

 

Beruntung punya teman hobi masak, sehingga saya bisa mencicipi dua jenis hidangan khas Jerman lainnya yang dia masak sendiri. Yang pertama adalah Flammkuchen! Ini adalah pizza ala Jerman, persisnya dari daerah Alsace perbatasan Prancis (dalam bahasa Prancis namanya Tarte flambée). Prinsipnya mirip pizza, dengan alas dasar dari adonan roti. Adonan ini bisa dibeli di supermarket, tinggal keluarkan, racik topping-nya, gunakan krim keju sebagai basis saus, lalu masukkan ke oven. Rotinya tipis kering, tidak ada tomat seperti pada pizza, aroma keju dan topping jadi bebas melengkapi citarasanya. Sedap! Satu lagi, namanya Maultaschen. Ini adalah hidangan khas Swabia. Secara teori mirip pangsit atau gyoza --adonan daging yang dibungkus kulit lalu digoreng. Lagi-lagi karena tuan rumah jago masak, maultaschen ini digoreng dengan bawang bombay lalu ditaburi bacon bits. Mantap! Buat saya malah rasanya mirip martabak telor!

 

Flammkuchen, pizza ala Jerman

 

Maultaschen, adonan daging yang dibungkus kulit lalu digoreng, ditaburi bawang bombay dan bacon bits

 

Dessert? Jangan khawatir! Ada satu yang khas dan sangat terkenal: black forest! Orang Indonesia pasti kenal ini, dari zaman Black Forest AH sampai Sari Pan Pacific dan Mandarin Oriental. Black forest berasal dari Black Forest (Schwarzwald) yang lokasinya dekat Frankfurt. Rasa aslinya tentu saja jauh dari versi Bekasi --karena komponen utamanya yakni kirchwasser. Kirchwasser adalah schnaps atau minuman distilasi dari buah cherry, yang menjadi kekhasan Black Forest karena aroma cherry yang konsisten baik dari kirchwasser maupun buah cherry-nya sendiri. Dengan adanya kirchwasser, sama seperti efek rum pada cake Bawean misalnya, ada rasa pahit dari alkohol yang mengimbangi rasa manis dari krim dan kuenya. Kemudian, rasa pahit-manis hadir juga dari serutan coklat yang diletakkan sebagai penghias kue. Ada aroma buah, aroma pahit, dan rasa manis krim, membuat kita tidak cepat eneg dan menyantap lagi dan lagi. Mantap!

 

Black forest

 

Waktunya sarapan sebelum saya kembali ke Tanah Air. Salah satu pengalaman kuliner Jerman tentu saja adalah sarapannya: jauh dari sosis dan nasi goreng ala Indonesia (padahal sosis berasal dari Jerman!). Di sini tersedia waffel yang dipanggang khusus oleh nyonya rumah, lengkap dengan kondimen Jerman. Ada schmand --krim keju yang punya kadar lemak tinggi di atas cheese spread, jadi teksturnya sangat padat, rasanya sangat gurih, tapi belum jadi keju yang padat. Ada lagi berbagai marmelade atau selai, dari blackberry sampai jeruk, karena teknik pembuatan selai memang merupakan metoda khusus untuk supply vitamin di musim dingin.

 

Sarapan waffel, lengkap dengan kondimen Jerman

 

Di luar suhu sudah berada di bawah 10oC, membuat ruangan sarapan beralaskan kayu dengan meja kayu jati besar terasa lebih nyaman dan menyenangkan. Sebentar lagi saya harus melalui perjalanan panjang dari Frankfurt ke Zürich, lalu kembali ke Indonesia. Rasanya, ada yang kurang di pagi itu, sesuatu yang akan memberi energi cukup untuk saya mengarungi perjalanan berikutnya di tengah suhu musim dingin yang segera datang. Dengan malu-malu, saya mengajukan satu permintaan pada Sang Nyonya Rumah.

 

“Bolehkah saya minta soto ayam juga untuk sarapan?”

Lidah memang nggak bisa bohong!

 

Soto ayam, permintaan khusus wkwkwk…

 

Tentang penulis: Harry Nazarudin atau biasa disapa Harnaz adalah salah satu pendiri Komunitas Jalansutra, penulis kuliner yang telah menulis buku Kimia Kuliner, dan bersama Bondan Winarno (kini telah almarhum) dan Lidia Tanod menulis buku 100 Mak Nyus. Harnaz juga memiliki channel Youtube “Kimiasutra” –Menjelaskan Kimia dalam Bahasa Manusia. Buku terbarunya yang diluncurkan tanggal 25 Maret 2021 adalah Nasgor, Makanan Sejuta Mamat.

 

 

Teks & Foto: Harnaz Tagore (Harry Nazarudin)
Comment