BOLANAFO DI NIAS, NGGAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN SEPAK BOLA. JADI APA DONG? 2020-04-19 00:00

Bolanafo raksasa yang disimpan di Museum Pusaka Nias di Gunungsitoli, Nias

 

Begitu mendengar namanya, bolanafo, otomatis pikiran kita mengarah ke sepak bola ya ‘kan? Tapi kalau melihat fotonya, lantas terpikir, ini tikar? Ya, model anyamannya sih seperti tikar dari daun pandan pada umumnya. Tapi bolanafo tak hanya sebatas itu. Ada tradisi panjang yang melatarbelakanginya. Dan fungsi utamanya pun bukan sebagai tikar. Jadi apa dong? Mari kita mengenal kerajinan dari Pulau Nias, Sumatera Utara ini.

 

ARTI BOLANAFO

Tradisi membuat kerajinan bolanafo tak diketahui secara pasti kapan dimulainya. Kemungkinan sudah dikenal sejak ada kehidupan orang-orang Nias. Yang jelas tradisi ini masih bertahan di masyarakat Nias hingga saat ini.

 

Bolanafo terdiri dari kata bola dan afo. Bola maksudnya tempat atau wadah. Afo berarti ramuan campuran daun sirih, pinang, kapur, gambir, tembakau. Jadi bolanafo adalah tempat atau kantung afo.

 

Bolanafo alias kantung afo yang sudah jadi

 

Afo ini disuguhkan kepada tamu saat acara penyambutan. Budaya ini sangat kental di masyarakat Nias dan masih dipraktikkan hingga sekarang. Jadi dalam penyambutan tamu atau acara adat, afo dimasukkan dan ditata dalam bolanafo untuk kemudian dibawa oleh gadis-gadis penari yang membawakan tari sekapur sirih, lantas diberikan kepada para tamu terhormat. Tamu lantas mencicip atau menggigit sirih pinang tersebut.

 

Makan sirih juga merupakan kebiasaan orang Nias. Jadi makan sirih menjadi ritual awalan dalam pertemuan adat, acara keluarga, dan ritual atau perayaan besar lainnya di Nias.

 

Baca juga: "Yang Unik Dari Tradisi Lompat Batu di Nias"

 

CARA MEMBUAT BOLANAFO

Bolanafo berupa kantung atau tas yang dibuat dari anyaman daun sinasa (sejenis daun pandan berduri), melalui proses yang cukup panjang. Teknik anyaman ini dipakai juga untuk membuat tikar, dompet dan selimut.

 

Proses panjang pembuatannya sebagai berikut. Daun sinasa diambil atau dicabut dari tanah, dibuang durinya, diiris memanjang tipis-tipis, digulung dan diikat-ikat jadi satu bundel, lalu direbus selama 1 jam. Setelah diangkat, direndam dalam air bersih selama 3 hari. Lalu diangkat, dibersihkan lagi, dan dikeringkan dengan cara dijemur 2-3 hari sampai berwarna putih. Baru diwarnai dengan sepuh dengan cara direbus atau dicelup air mendidih selama 5 menit. Setelah selesai proses pewarnaan, dijemur lagi 1-2 hari sampai benar-benar kering. Baru kemudian daun yang sudah menjadi seperti tali-tali itu dilurus-luruskan dulu helai demi helai. Barulah siap dianyam. Dulu sih memakai pewarna alami, tapi sekarang karena sudah makin sulit didapat dan demi kepraktisan jadi memakai sepuh atau pewarna kimia.

 

Proses penganyaman

 

Karena prosesnya sepanjang itu, untuk membuat bolanafo ukuran standar 30 x 35 cm saja butuh waktu 1-2 minggu.

 

Baca juga: "Yang Nggak Bisa Selancar Jangan Ragu Untuk Datang ke Pantai Sorake di Nias"

 

MOTIF BOLANAFO

Motif anyaman bolanafo ada yang sangat unik, ada juga yang standar alias motif dasar yang dipakai di mayoritas anyaman bolanafo. Biasanya dominan warna merah. Kalau dikumpulka, katanya, mungkin ada ratusan motif di seluruh Nias.

 

Setiap motif bolanafo punya arti. Motif disesuaikan dengan peruntukannya, misalnya untuk pesta perkawinan pasti beda dengan untuk upacara perkabungan dan lainnya. Motif juga disesuaikan dengan status sosial penggunanya. Membuat bolanafo untuk dipersembahkan ke bangsawan beda dengan untuk dipakai rakyat jelata.

 

BOLANAFO RAKSASA

Kabupaten Nias Barat memiliki sentra pengrajin bolanafo yang pernah memecahkan rekor MURI tahun 2010 dengan membuat bolanafo raksasa berukuran 3 X 3,5 m yang disimpan di Museum Pusaka Nias di Gunungsitoli. Bolanafo raksasa ini dibuat oleh 5 orang pengrajin perempuan Nias, selama 3 bulan.

 

MyTrip pernah diundang mengunjungi pengrajin bolanafo di Desa Lolowa’u Kecamatan Lahomi Kabupaten Nias Barat. Semua pengrajinnya wanita, ibu-ibu. Mereka tak hanya membuat anyaman bolanafo untuk kantung afo, tapi juga untuk penyimpanan emas, juga dijadikan dompet. Jadi bisa dijual kepada wisatawan sebagai buah tangan.

 

Pengrajin bolanafo di Desa Lolowa'u

 

Semoga kegiatan menganyam bolanafo ini tidak punah walaupun dianggap kurang memberi manfaat ekonomi bagi pembuatnya. Apalagi bahan bakunya juga makin sulit didapat dan proses pengerjaannya panjang. Semoga para pejabat berwenang bisa mendorong dan mengembangkan kerajinan bolanafo yang merupakan warisan budaya Nias ini menjadi produk ekonomi kreatif yang juga akan mendukung pariwisata Nias.

 

Teks & Foto: Mayawati NH (Maya The Dreamer)
Comment