KE PULAU TIMOR NTT BELUM LENGKAP KALAU BELUM KE FATUMNASI

KE PULAU TIMOR NTT BELUM LENGKAP KALAU BELUM KE FATUMNASI

Saturday, 02-03-2019 | 14:13

Fatu Naususu, keindahan yang memukau

 

Kebanyakan orang tahunya Pulau Timor itu gersang dan panas nyelekit. Belum tahu dia kalau di Pulau Timor Nusa Tenggara Timur (NTT) ada satu tempat yang dinginnya minta ampun dan pemandangan alamnya udah kayak Swiss atau New Zealand. Iya bener! Nggak lebay apalagi bohong. Liburan saya Juli tahun 2018 lalu ke Pulau Timor, overland dari Kupang sampai Atambua menjadi salah satu liburan terbaik saya, terutama karena kunjungan ke satu kecamatan bernama Fatumnasi yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Provinsi NTT.

 

SUSAH YA KE FATUMNASI?

Dibilang susah, nggak juga. Tapi memang nggak gampang. Dari Jakarta terbang dulu ke Bandara Eltari Kupang, kalau direct 3 jam. Dari Kupang berkendara ke Kota Soe (ibu kota Kabupaten TTS) 2-2,5 jam kalau langsung. Tapi percayalah, kita akan tergoda mampir-mampir buat berfoto, di antaranya di Jembatan Noelmina dan Puncak Siso. Sunset dari Puncak Siso yang dikenal sebagai Puncak Pass-nya Soe patut dipujikan. Sebaiknya bermalam dulu di Soe, baru esok paginya melanjutkan perjalanan ke Desa Fatumnasi.

 

Kalau tujuan Trippers hanya homestay Lopo Mutis milik Pak Mateos Anin (ketua adat suku asli di Fatumnasi yang dikenal sebagai kuncennya Gunung Mutis), bisa naik mobil biasa dari Soe. Tapi kalau mau sekalian ke kaki Gunung Mutis dengan berkendara, disarankan sewa mobil 4WD. Saya dan teman-teman memilih yang kedua karena target kami mendaki Gunung Mutis.

 

Total jarak Kota Soe ke Fatumnasi sekitar 40 km. Waktu tempuh kalau tanpa berhenti-berhenti sekitar 3 jam.

 

Baca juga: "Jadilah Orang Jakarta Kedua yang Datang ke Bukit Tuamese di Timor"

 

JALANANNYA RUSAK YA?

Dari Kota Soe kita mengarah ke utara, melewati Kapan (kota kecamatan Mollo Utara) yang memiliki pasar tumpah. Kami sempat stuck cukup lama di sini karena ulah sebagian mobil pengangkut barang dan pengendara motor yang nggak tertib, bikin jalanan jadi benang kusut. Kondisi jalanan sampai Desa Kapan masih terhitung baik, tapi selepas itu jalanan hanya berupa makadam, belum aspal. Mulai menanjak dan meliuk-liuk.

 

Jalanan meliuk-liuk

 

Ada Spot Foto Favorit di Sepanjang Jalankah?

Ada dooong... Namanya Kilo 12 Soe (berjarak 12 km dari Kota Soe; sebelum Desa Kapan) dan Bukit Aijao Baki (sesudah Desa Kapan). Saya lihat foto-foto orang lain di internet, rata-rata yang ke Fatumnasi mampir berfoto di dua tempat ini.

 

Baru sampai Kilo 12 aja udah bagus pemandangannya

 

Dari kedua tempat ini kita bisa melihat hamparan bukit-bukit batu dan lembah hijau, serta tentunya kerucut Gunung Mutis di kejauhan. Kami berfoto pas cuaca cerah, awan-awan putih berarakan makin memberi karakter pada langit yang biruuuu... Ah, kami pun bergantian berfoto di atas batu dengan aneka gaya. Bahagia banget!

 

Menikmati pemandangan di Bukit Aijao Baki

 

O ya, di antara kedua tempat itu ada hutan cemara yang juga eksotis buat berfoto, sekaligus juga bisa buat darurat buang air kecil karena sepanjang jalan nggak nemu toilet umum. Hati-hati ada kawanan sapi dan kuda yang mengintip ya... Hehehe...

 

Kawanan sapi di hutan cemara

 

Baca juga: "Itinerary Overland Kupang-Atambua 5 Hari"

 

ADA APA LAGI DI FATUMNASI?

Lepas dari Bukit Aijao Baki, hingga sore harinya tiba di Lopo Mutis, kami berhenti di 5 spot yang semuanya emejing! Mari kita bahas satu-satu ya....

 

1. Fatu Naususu (ada juga yang menyebut Fatu Nausus)

Tebing batu karst besar dan menjulang yang terlihat sangat rata seperti dipotong mesin di sini memang ternyata bekas penambangan marmer. Setelah penambangan dihentikan, tinggallah sisa seperti kondisi yang kita lihat sekarang.

 

Fatu Naususu, tebing batu menjulang, rata

 

Saya nggak bisa dan nggak berani menduga-duga apakah sebelum dieksploitasi lebih bagus penampakan tebing batunya atau bagaimana. Yang jelas formasi batu-batu dan hamparan lembah serta deretan perbukitan di kejauhan di lokasi yang telah menjadi tempat wisata ini membuat kami blingsatan kegirangan plus terpukau. Cantik luar biasa! Ada banyak spot foto Instagramable, jadi luangkan waktu yang cukup di sini untuk mengeksplor semua sudut ya...

 

Sudut lain di Fatu Naususu

 

O ya, Fatu Naususu ini dulunya dipakai untuk melangsungkan upacara adat.

 

2. Danau Nefo Kaenka

Kami makan siang di tepi danau ini. Makan siangnya sekotak nasi padang yang kami beli dari Kota Soe karena memang sulit menemukan warung makan di sepanjang perjalanan dari Soe ke Fatumnasi. Udaranya sejuk, bukan hanya karena banyak rimbunan pohon tapi karena sudah berada di ketinggian 1.260 mdpl. Air danaunya sih coklat, bukan hijau turkois yang cantik buat difoto. Tapi langit biru, pohon-pohon di sekitar danau, dan suasana yang tenang, membuat kami betah berlama-lama di sini, dan tentunya berpose-pose.

 

 

3. Bekas tambang marmer Desa Tunua

 

Ya, ini sebenarnya bukan tempat wisata, tapi bekas tambang marmer yang dibuka sejak tahun 2000 yang telah dihentikan akibat protes masyarakat adat yang dipimpin Ibu Aleta Baun, warga asli Mollo. Sisa penambangan meninggalkan tumpukan bongkahan batu marmer dengan bentuk rata beraturan, juga tebing-tebing rata bekas kerja mesin. Tambang ini tepatnya berada di Naetapan, Desa Tunua Kecamatan Mollo Utara. Luasnya 10,5 ha. Dihentikan total sekitar tahun 2012.

 

 

Tulisan ini nggak akan mengulas soal kerusakan alam (salah satunya kekeringan) yang ditimbulkan kegiatan penambangan karena bukan kapasitas saya. Saya hanya tahunya menikmati pemandangan alam di sini dari atas bekas lahan tambang yang sangat eksotis. Bongkahan-bongkahan batu yang dibiarkan begitu saja juga berguna bagi kami yang mencari tempat aman buat buang air kecil, hehe...

 

FYI, gunung atau tebing-tebing batu di Fatumnasi dan Mollo dianggap sebagai identitas, dan juga dikeramatkan, makanya mereka menolak dieksploitasi perusahaan tambang.

 

4. Bukit Nubui

 

Dari atas bukit hijau yang nggak terlalu tinggi ini lagi-lagi kami bisa menikmati hamparan karpet alam dan perbukitan. Bongkahan marmer-marmer di Tunua juga terlihat dari sini. Angin bertiup cukup kencang saat sore itu kami mampir di sini dan bertemu dengan anak-anak lokal. Bahagianya anak-anak itu....

 

5. Fatu Kolen

 

Saya minta supir berhenti di sini karena melihat bongkahan batu besar berwarna hitam di tepi jalan. Di satu bagian di atas batu tumbuh pohon. Di bagian lain tertancap 3 tanda salib. Fatu Kolen yang artinya batu pendek ini termasuk batu purba yang banyak terdapat di Fatumnasi.

 

Dari 5 tempat di atas, hanya Fatu Naususu yang memberlakukan tiket masuk sebesar Rp20.000 per orang. Parkir mobil sudah tidak bayar lagi. Tempat lainnya tidak ada tiket masuk.

 

GUNUNG MUTIS, PRIMADONA FATUMNASI

Seperti telah disebutkan di awal, tujuan utama kami ke Fatumnasi adalah untuk mendaki Gunung Mutis (2.427 mdpl), gunung tertinggi di Pulau Timor. Dari homestay Lopo Mutis, tempat kami menginap, kami berangkat pagi buta dengan mobil 4WD sampai padang sabana luas di kaki gunung yang disebut dengan Padang 1 yang sungguh spektakuler terutama saat sunrise. Cerita tentang Gunung Mutis dilanjut di tulisan berikut ya...

 

Teks: Mayawati NH Foto: Hemawati NH, Hq Irenius Nuno, Losblancos Ghuezt, Mayawati NH, Nienta Sebayang, Shinta Djojonegoro, Wynne Yaptianto

2 COMMENTS


yohanis Jun 17, 2019 Reply

travel to Fatumnasi


yohanis Jun 17, 2019 Reply

trip


919

Back to Top