“SAYA BAYAR RP150 RIBU UNTUK MENGINJAK MYANMAR 1 MENIT!” 2020-11-17 06:00

Mandalay, Myanmar

 

Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal-hal lucu, seru, aneh, konyol, bahkan mungkin kesialan kecil dalam perjalanan. Saat mengalaminya, bisa jadi kita malu atau kesal. Tapi setelah tiba kembali di rumah, biasanya kita akan tertawa-tawa menceritakannya kembali. Dan justru peristiwa-peristiwa konyol itulah yang membuat trip kita makin berwarna, dan tentunya menjadi tak terlupakan. Yang saya ceritakan kali ini kisah konyol dan seru saya maupun teman di perbatasan, imigrasi dan check point.

 

“Saya Bayar Rp150 ribu untuk Menginjak Myanmar 1 Menit!”

Golden Triangle

 

“Pengalaman ini udah ngabisin duit, bikin malu pula! Waktu itu saya lagi ikut join tour Golden Triangle di Thailand. Tujuan terakhir ke Mae Sai, kota perbatasan Thailand dan Myanmar. Peserta tur dilepas di sini tanpa didampingi guide. Kita hanya diberi batas waktu kapan harus kembali. Sementara yang lain bergegas ke arah perbatasan Myanmar, saya, adik dan satu teman mampir dulu beli pulsa. Sampai di gerbang imigrasi, kami langsung memproses untuk bisa masuk ke Myanmar. Paspor dicap keluar Thailand. Beres.  Eh, tiba-tiba si nenek negro yang  satu rombongan dengan kami teriak, katanya waktu kumpul sudah tinggal sebentar lagi. Hah?? Kami bener-bener nggak ngeh. Sial! Balik ke meeting point aja makan waktu sekitar 15 menit. Kami langsung balik badan ke imigrasi Thailand lagi. Tapi ternyata ditolak. Kami harus masuk dulu ke Myanmar. Lari-lari deh ke imigrasi Myanmar. Dan o ouw… masuk Myanmar ternyata mesti bayar THB 500 (kurs waktu itu masih sekitar Rp 150.000) per orang. Bener-bener sial! Saya langsung minta cap masuk sekaligus keluar sama petugas imigrasinya. Si petugas yang ganteng itu (hmmm… lumayan ada hiburan) sambil ketawa-ketawa bertanya kenapa. ‘Wah, sayang dong nggak bisa belanja-belanja dulu di sini. Kan murah-murah,’ katanya. Uuuhudah dong, buruan, batin saya. Akhirnya kami kembali ke imigrasi Thailand dan jadi bahan tertawaan lagi. Si petugas mencap paspor kami sambil senyum-senyum. Ini bener-bener kunjungan tersingkat kami ke Myanmar. Hahaha…..” Itu cerita nyata teman saya, dengan waktu kejadian September 2009.

 

Gerbang imigrasi di Mae Sai, perbatasan Thailand-Myanmar

 

Baca juga: "Itinerary Myanmar (Yangon-Mandalay-Bagan) 9 Hari"

 

Garingnya Petugas Imigrasi Malaysia

“Baca-baca dari pengalaman beberapa orang, katanya petugas imigrasi Malaysia kadang ada yang ceroboh. Ada yang punya pengalaman pahit di perbatasan Singapura-Malaysia di Johor. Gara-gara petugasnya salah mencap tanggal di paspornya, dia dipersulit saat hendak keluar. Saya sambungkan dengan pengalaman saya…. Hmmm pantas saja. Petugasnya suka nggak konsen waktu mencap paspor. Sambil ngobrol nggak penting gitu lho…. Itu yang saya alami sewaktu kembali dari Phuket melalui Kuala Lumpur, tepatnya di imigrasi LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Selagi memeriksa paspor saya, dia mengamati dan membanding-bandingkan foto yang ada di paspor dengan wajah saya.Saya agak sedikit tegang. Kenapa nih? ‘Rambut kamu lebih bagus yang ada di foto ni... Rambut yang tampak sekarang ni, aduh… acak-acakan dan merah! Tak bagus!’ Hah?? Saya cuma bisa terpana. Kirain saya, dia mau memastikan apakah saya orang yang sama dengan yang di paspor. Nggak tahunya cuma ngomentarin rambut doang! ‘Dari mana? Oo Phuket… Panaskah di sana?’ Setelah saya jawab panas, dia nyambung lagi, ‘Mau tahu tak bagaimana cara mengatasi panas?’ Saya menggeleng malas. ‘Duduk di atas peti es.’ Gubrakkssss….”  Nah yang ini kisah saya sendiri, waktu kejadian Januari 2008.

 

Suasana LCCT, Kuala Lumpur kala itu

 

Dikejar di Check Point Gegara Koin

“Di salah satu pos penjagaan atau check point dalam perjalanan menuju Everest Base Camp, Tibet, Cina, kami harus turun dengan membawa paspor. Pemandu kami mewanti-wanti agar tak memotret dan berlaku tertib. Kami pun turun dengan tampang serius dan antre satu per satu. Tentara Cina berseragam hijau gelap yang berjaga saat itu memeriksa paspor dan mengamati wajah kami satu demi satu dengan tatapan sedingin udara saat itu. Uuuh… tegang juga. Untung semua beres dalam waktu cepat. Tak ada pertanyaan apa pun. Kami pun melenggang senang kembali ke mobil. Eeeh siapa nyana sekonyong-konyong dengan tergopoh-gopoh petugas itu mengejar kami. Mati deh! Ada apa ya? Dia bicara dengan pemandu kami, dan kami pun menanti dengan setengah gemetar. Tapi ternyata, dia cuma mau meminta koin Indonesia! Soalnya dia kolektor koin mancanegara. Dia baru ngeh dia belum punya koin Indonesia justru setelah kami sudah berlalu dari hadapannya. Oalah…. Bikin tegang aja, brade…!” Kisah saya ini waktu kejadiannya September 2010.

 

Everest Base Camp, Tibet

 

Baca juga: "Last Minute Miracle di Everest Base Camp Tibet"

 

 

Teks: Mayawati NH (Maya The Dreamer) Foto: Mayawati NH, Shutterstock
Comment
Toogunfor

Hnnaoo https://bestadalafil.com/ - where to buy cialis Aakfyi Fnuohb buy cialis daily online This technology has certainly played an important role in our understanding of living systems as it has provided the major tools for the study of life processes. Ohqjdg Diphenhydramine and hydroxyzine are the most commonly used Hblocking antihistamine. https://bestadalafil.com/ - buy cialis online safely Buy Wellbutrin With No Prescription

2022-04-16