MENGAPA SAYA GAGAL MEMOTRET ERUPSI RINJANI 2016? BETTER SAFE THAN SORRY!

MENGAPA SAYA GAGAL MEMOTRET ERUPSI RINJANI 2016? BETTER SAFE THAN SORRY!

Tuesday, 09-08-2016 | 14:30

 

Saat menjepretkan kamera yang cuma hitungan detik aja kau tak mampu, saat itulah kau menyadari betapa berharganya jeda satu detik itu. Dan pada akhirnya hanya rasa syukurlah yang dapat kau panjatkan.

 

SATU DETIK YANG TAK MAMPU SAYA SELESAIKAN

Siapa yang mau ngalamin gempa bumi disusul erupsi saat berada di gunung? Nggak ada! Apakah ngalamin erupsi tanggal 1 Agustus 2016 lalu di Gunung Rinjani Lombok itu bonus buat saya yang suka petualangan? Iya bisa dibilang BONUS kalau ending-nya seperti sekarang: selamat tak kurang suatu apa. Kalau ending-nya beda? Namanya: BENCANA.

 

Ada teman yang bilang, siapa aja bisa naik Rinjani, tapi nggak semua orang berkesempatan melihat erupsi saat naik Rinjani. Iya betul, erupsi yang saya alami itu ibarat precious moment dalam hidup yang datang tiba-tiba, tanpa diduga apalagi direncanakan. Atau saya lebih suka menyebutnya, itu salah satu kebetulan yang terjadi dalam hidup saya –hidup kami ber-6 yang menjadi pendaki terakhir yang turun dalam rombongan kami. Kebetulan yang satu ini –kebetulan—menegangkan.

 

Kami ber-6 saat di puncak.

 

Semua terjadi dengan cepat. Dalam kondisi kelelahan –ya saat itu saya sangat kelelahan usai menggapai Puncak Rinjani yang kali ini terasa lebih berat dari 6 tahun lalu—saya bahkan telat menyadari ada kejadian alam tak biasa di depan mata saya, meskipun suara letusan itu terdengar begitu keras. Seruan seorang temanlah, Sutiana namanya, yang menyadarkan saya untuk mengangkat kamera poket yang memang sedang dalam genggaman. Wah, memang cendawan awan hitam yang terbentuk dari letusan itu sangat cantik!

 

Sekali lagi, semua terjadi dengan cepat. Secepat gerakan saya tiarap begitu mendengar perintah Subur, guide kami. Kamera yang sudah on dan diarahkan ke Gunung Baru Jari, anak Rinjani yang meletus itu, tak jadi saya pencet tombol shutter-nya. Padahal hanya butuh waktu 1 detik! Pikiran saya pun sejenak blank, sejenak kemudian ketakutan. Apakah ini akan menjadi akhir dari semuanya? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Dalam kondisi tiarap, saya masih sempat mengangkat lagi kamera yang masih on. Saya ingat, gunung dengan hiasan asap hitam itu masuk dalam frame kamera saya. Tinggal jepret. Tapi lagi-lagi saya tak mampu menyelesaikan 1 detik yang amat berharga itu karena Subur meneriakkan kami untuk lari. Ya, saya tak mampu menyelesaikan 1 detik yang amat mudah dalam kondisi normal itu.

 

Tak puas-puas menikmati keindahannya.

 

PENYESALAN SATU DETIK

Sambil berjuang memaksa kedua kaki yang sudah amat lelah untuk berdiri dan lari, saya masih ada pikiran untuk berhenti barang 1 detik, guna mengabadikan pemandangan yang tak ingin saya lihat lagi dalam jarak sedekat itu seumur hidup saya. Tapi pikiran mendapatkan foto eksklusif yang akan dikagumi banyak orang kalau dipajang di akun media sosial saya itu kalah tuntas dengan pikiran bahwa saya nggak boleh menyesal hanya karena terlambat 1 detik!

 

Kalau saya ngotot, mungkin saya tak hanya membahayakan diri saya, tapi juga porter dan guide pendamping. Kemungkinan besar karena rasa tanggung jawab melindungi tamu, salah satu porter atau Subur akan juga menghentikan langkah begitu melihat saya berhenti dulu untuk memotret. Oh man, kalau terjadi apa-apa atas kecerobohan saya sendiri mungkin ya sudahlah, terimalah karmamu May! Tapi kalau gara-gara kengototan saya ada 1 jiwa lain melayang, saya tak akan memaafkan diri saya. Ingat film Everest? Saya tak mau jadi siapa itu, yang maksa muncak karena merasa itu adalah kesempatan terakhir untuk muncak, dan karena dialah sang guide akhirnya ikut terkubur dalam keabadian salju Everest. Saya tak ingin dikenang seperti itu.

 

Jadi lebih baik saya menyesal gara-gara nggak bisa menyelesaikan satu detik untuk memencet tombol shutter kamera, daripada menyesal karena terlambat lari satu detik.

 

Memang, ternyata beberapa orang lain yang posisinya di atas kami, masih jauh dari area terlindung, tetap selamat dan mereka bisa memotret bahkan memvideokan erupsi itu. Bahkan 6 teman satu grup saya yang kadung sudah 3/4 jalan turun ke danau saat erupsi terjadi, mereka masih bisa foto-foto narsis dengan latar Gunung Baru Jari erupsi. Semua aman dan selamat. Tapi who knows? Siapa yang tahu kalau angin nggak berembus ke arah gigiran gunung tempat kami berada dan membawa awan panas berikut gas beracunnya ke arah kami? Better safe than sorry.

 

Jalur turun di gigiran gunung yang tak terlupakan.

Baca juga "Apa yang Terjadi di Rinjani Tanggal 1 Agustus 2016?"

Baca juga "Rinjani Mengajarkan Apa Artinya Keindahan dan Kesempurnaan Sebuah Gunung"

 

Teks: Mayawati NH Foto: Mayawati NH, Subur

1 COMMENTS


Agustina Aug 10, 2016 Reply

Iya saya setuju dengan Mbak yang nulis. Lebih penting nyawa ke mana2 daripada cuma foto


777

Back to Top