30 LANDMARK DI INDONESIA (bagian 3)

30 LANDMARK DI INDONESIA (bagian 3)

Thursday, 14-04-2016 | 19:32

Landmark adalah obyek yang dikenal luas yang berada di satu daerah tertentu. Bisa berupa bangunan, menara, jembatan, tugu, monumen, patung, masjid, gereja dan bangunan tempat ibadah lainnya. Berikut kami kumpulkan landmark dari seluruh Indonesia. Coba hitung, Anda pernah ke berapa landmark?

(Baca bagian 2 di sini)

 

17. Jam Gadang, Bukittinggi

Menyebut Jam Gadang, kita pasti langsung teringat Sumatera Barat, terutama Kota Bukittinggi. Menara ini memiliki jam berukuran besar di setiap sisinya. Awalnya Jam Gadang memiliki atap bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke timur. Kemudian ketika masa penjajahan Jepang, atapnya diubah menjadi bentuk pagoda. Dan terakhir setelah Indonesia merdeka, atapnya diubah lagi menjadi seperti rumah adat Minangkabau. Sayang, kita nggak bisa naik ke puncak Jam Gadang karena alasan keamanan.

 

18. Istana Maimun, Medan

Istana tempat tinggal keluarga Kesultanan Deli ini berdiri di atas lahan seluas 2.770 m2. Terdiri atas 3 bagian yaitu bagian utama, sayap kiri dan sayap kanan. Luas ruangan utamanya +/-412 m2, lengkap beserta isinya seperti singgasana raja. Ruangan yang didominasi warna kuning ini dilengkapi perabotan bergaya Eropa. Terdiri dari dua lantai dan total 30 ruangan. Secara keseluruhan desainnya unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia.

 

19. Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Terletak tepat di jantung kota Banda Aceh. Masjid ini termasuk salah satu bangunan yang selamat dari terjangan tsunami dahsyat 26 Desember 2004. Sekilas masjid  ini terlihat seperti Taj Mahal di India. Ya, sebagian arsitektur masjid ini mirip dengan arsitektur masjid-masjid di India yang memukau dengan ukiran yang menarik. Di luar mesjid terdapat kolam air bergaya Kesultanan Turki Utsmani. 

 

20. Tugu Nol Kilometer, Sabang, Pulau Weh

Tugu penanda ujung terbarat Indonesia ini menjulang di sisi tebing setinggi 22,5 m. Di bagian puncaknya bertengger patung Burung Garuda yang menggenggam angka nol, dilengkapi prasasti marmer berwarna hitam yang menunjukkan posisi geografisnya. Dari sini kita bisa menyaksikan Samudera Hindia yang membentang tak terbatas. Pengunjung banyak juga yang ke sini untuk melihat matahari tenggelam dalam birunya Samudera Hindia. Kita bisa mendapatkan sertifikat yang berisi nomor urut pengunjung Tugu Nol Kilometer.

 

21. Tugu Khatulistiwa, Pontianak

Dikenal sebagai monumen tanpa bayangan karena berada tepat di garis khatulistiwa. Letaknya pada titik lintang 00 menciptakan sebuah peristiwa alam yang menakjubkan, yaitu saat terjadi kulminasi matahari tepat berada di garis khatulistiwa, saat itulah bayangan tugu dan benda di sekitarnya menghilang selama beberapa saat. Momen ini hanya terjadi 2 kali dalam setahun, tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Kita bisa masuk ke dalam bangunan tugu di mana tersimpan tugu asli yang 5X lebih kecil dari replikanya yang berada di luar.

 

22. Jembatan Kahayan, Palangka Raya

Jembatan yang memiliki panjang 640 m dan lebar 9 m ini membelah Sungai Kahayan yang terletak di Kota Palangka Raya. Saat berada di atas jembatan ini, sejauh mata memandang terlihat pemandangan Sungai Kahayan, kapal motor, speedboat, kelotok, aktivitas orang-orang naik perahu, para nelayan yang sedang menjala ikan dll, juga gedung-gedung dan rumah-rumah penduduk di sepanjang sungai. Pada malam hari jembatan ini akan terlihat lebih menarik dengan lampu-lampu berwarna merah dan biru.

 

23. Masjid Islamic Center, Samarinda

Masjid Islamic Center Samarinda adalah masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Lokasinya di Kelurahan Teluk Lerong Ulu, persis di depan Sungai Mahakam. Menara dan kubah besar menjadi ciri khasnya. Arsitekturnya terinspirasi dari Hagia Sophia di Turki, seperti pada kubah besarnya yang bermotif. Tinggi menara utamanya 99 m, disesuaikan dengan jumlah asmaul husna, yaitu 99. Jika ingin ke menara bisa menggunakan lift. Sampai di atas kita bisa melihat pemandangan Kota Samarinda.

(Bersambung ke sini)

Teks: Maulana Alam Foto: Adi Pamungkas, Aris Sanjaya, Daniel Kampua, Dok.MyTrip, Mayawati NH, Raiyani Muharramah, Rio Indrawan, Wahyuni Kamah, Istimewa, Shutterstock

0 COMMENTS


Please be the one to comment !


722

Back to Top